Mohon tunggu...
Hera Veronica Suherman
Hera Veronica Suherman Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pengamen Jalanan

Suka Musik Cadas | Suka Kopi seduh renceng | Suka pakai Sandal Jepit | Suka warna Hitam

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Lidah Tajam, Setajam Ujung Pedang

28 November 2020   11:52 Diperbarui: 28 November 2020   11:56 189
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tok Anjang.wordPress.com

Lidah Tajam, Setajam Ujung Pedang

Lidah . . .
tak memiliki tulang maka dengan mudahnya ia bergoyang, berkata yang sia-sia tak membawa faedah apa-apa. Bukankah lebih baik diam daripada kian hari kian menumpuk dosa hingga menggunung tinggi.

Lantaran lidah yang tak terjaga dan lisan yang tak dipagari. Sehingga semua yang terucap hanya keburukkan belaka, tak mengandung unsur manfaat sama sekali. Alangkah merugi.

Lidah milik kaum pembenci
kerapkali melontarkan ujaran kebencian serta seabrek kalimat makian yang tak ada habisnya. Sambung menyambung seakan tali teramat panjang yang tiada pernah temui ujungnya.

Lidah milik pendusta ulung
Gemar memutar balikkan fakta berbicara tak sesuai dengan kenyataan, beribu kata dusta dilontarkan dengan entengnya hingga lama-lama ucapannya tak lagi dapat dipercaya.

Lidah milik orang yang keji
Perkataanya selalu melukai hati hingga orang lain merasa tersakiti. Berkata tanpa tendeng aling seakan tak memiliki sisi humanis, dan tak mempunyai kepekaan nurani. Cerminan jiwa yang keji.

Lidah milik yang gemar berghibah
Segala yang diperbincangkan hanya seputar ghibah. Tak lain tak bukan hanyalah mengandung muatan ghibah semata. Sepertinya tiada hari tanpa menggunjingkan keburukkan oranglain.

Lidah milik para pendengki
Perbincangannya selalu perihal kesyirikan semata, perkataan yang bertabur benih-benih iri tersemat di hati. Mengapa harus ada dengki di ujung lidah.

Lidah tempat keluarnya kata-kata, dan kata-kata meluncur dengan teramat entengnya di ujung lidah. Terkadang tanpa di pikir dan di saring terlebih dahulu, sehingga mewujud sebilah pedang yang tajam.

Lidah pedih melukai dan membuat hati teriris nyeri, maka berhati-hatilah dengan lidahmu. Lidah mudah bergoyang dan selalu bergoyang menelanjangi aib orang, bertutur segala keburukan yang diselimuti debu-debu hasad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun