Mohon tunggu...
Hera Veronica
Hera Veronica Mohon Tunggu... Penulis

Pecandu Senja | Pemahat Aksara | Penikmat Kopi | Penyuka Kesendirian | Pecinta Musik Metal \m/

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Kisah Sang Penabur Angin

25 Februari 2020   20:03 Diperbarui: 25 Februari 2020   21:04 41 1 0 Mohon Tunggu...

Dalam dunia bisnis, pasang surut merupakan hal yang biasa dan lumrah adanya. Adakalanya mengalami lonjakkan omset yang sangat fantastis namun di lain waktu, ada saatnya menurun secara signifikan. Tidak stabil sifatnya fluktuatif, dan itu di sadari betul oleh para pelaku usaha.

Mereka-mereka yang mampu bertahan, di tengah percaturan dunia usaha merupakan pemain lama. Dan orang-orang yang terpilih melalui sleksi alam, dan biasanya memiliki jam terbang yang tinggi. Karena tidak semua pelaku usaha bisa mencapai tingkatan atau posisi tersebut, banyak pula yang collapse diantaranya.

Satu demi satu pelaku usaha tumbang berguguran, menutup lahan bisnisnya, yang menjadi mata pencaharian serta sandaran hidup. Dikarenakan persaingan yang tidak sehat, di akibatkan egosentris para pemilik modal besar. Yang ingin menguasai pangsa pasar, dan mereka kerap memonopoli.

Tanpa menitik beratkan merangkul demi kemajuan dan kesejahteraan bersama para pelaku usaha. Demi menggeliatnya sektor UMKM dan menumbuh suburkan unit-unit usaha yang di miliki perorangan. Semestinya tercipta persaingan usaha yang sehat, yang dapat meraup untung sewajarnya. Bukan malah sebaliknya sangat minim.

Mereka-mereka yang tumbang bukan karena tergerus pesatnya laju perkembangan dunia usaha, melainkan sebagian karena  inisiatif sendiri memilih mundur teratur dari pada babak belur setelah melakukan perlawanan yang tidak imbang. Namun lagi-lagi harus di paksa menyerah kalah, di tangan pemodal besar.

Yang dalam pengkalkulasian, yang notabene tidak bisa di ikuti pemilik modal kecil. Karena ada persenan yang bisa di otak-atik di olah sedemikian rupa, sehingga di dapatkan hitungan angka terendah. Biaya produksi rendah otomatis bisa melempar kepasaran dengan harga murah.

Untung seperak dua perak pun di ambil, tanpa memperdulikan periuk nasi pemilik modal kecil yang menjerit. Yang nasibnya kian hari kian terpuruk, serta terseok -seok mengolah remah demi remah. Tidak bisa mengikuti persaingan harga jual yang kelewat amat sangat murah, keuntungan yang di dapat sangatlah tipis belum lagi di pangkas untuk biaya Operasional,etc

Otak licik dan kotornya pemilik modal besar, alih-alih ingin menguasai pangsa pasar. Dan mematikan pelaku usaha di sekitar, namun Realita yang ada justru memutar balikkan semua. Barang siapa menabur angin maka Ia-lah yang akan menuai badai, hal tak terbantahkan nyata terpampang di depan mata.

Pemilik modal besar ingin merangkul pemilik modal kecil, rasanya seperti tersengat petir di siang bolong. Sudah terlambat... pemilik modal kecil di paksa oleh keadaan untuk jadi pemberani, mereka lebih baik mati sama-sama. Dari pada di bunuh perlahan-lahan, itu lebih menyakitkan.

Mengapa baru sekarang punya itikad baik untuk merangkul, setelah persaingan harga semakin "menggila" cenderung hancur-hancuran di luar sana. Setelah pemodal kecil tumbuh menjadi barisan para pemberani. Sekarang tak ada lagi yang perlu di takuti, Bola panas yang Ia gulirkan, akan berbalik ke dirinya sendiri, layaknya boomerang. Dan itu terbukti...!

Ketika Ia berupaya keras untuk normalisasi harga, yang telah ia rusak. Tak ada seorangpun yang mau menyambut, kepalang tanggung perang adalah perang. dan peperangan itu sudah terlanjur di mulai. Bagaimana rasanya menjadi orang yang di acuhkan, lihat dan ikuti saja permainannya. Permainan licik yang di mainkan sang Player sekaligus sang Penabur Angin.

Kini tamatlah riwayat Sang Penabur Angin, dan Ia pun ikut merasakan imbasnya saat pundi pundi rupiahnya menyusut tajam karena semua pemodal kecil sudah ikut memainkan strategi permainannya yang mudah di tebak "Hancurkan dan Normalisasi"

Akibat iklim usaha yang tidak sehat. Ia pun turut merasakan omset yang anjlok sehingga terpaksa harus putar otak. Finally Si Panabur Anginpun memilih untuk alih profesi.

VIDEO PILIHAN