Mohon tunggu...
Henry Praherdhiono
Henry Praherdhiono Mohon Tunggu... Dosen - Teknologi Pendidikan

Sejak pertama mengandrungi dinia pendidikan, bermula dari kesulitan yang saya alami pada saat belajar fisika di S1 Fakultas Saintek Unair Surabaya. Setelah itu betekad untuk memudahkan belajar fisika untuk orang lain dengan masuk di S2 Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Ibarat mobil sudah terlalu laju dan sulit mengerem kegandrungan ke dunia belajar dan pembelajaran saya justru tersesat dijalan yang benar dalam menempuh S3 Teknologi Pembelajaran ditempat yang kucintai .... dimana saya mengabdi di sana. Garis hidup yang indah

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tema Cita-cita Membuat Bahagia

26 Juli 2021   20:32 Diperbarui: 26 Juli 2021   21:13 104 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tema Cita-cita Membuat Bahagia
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Sejak kecil ditanamkan dalam seluruh relung otak saya hanya ada 2 cita-cita yaitu dokter atau insunyur. Kedua cita-cita tersebut sangat dominan dalam hidup saya sejak kelas 0 (nol) kecil. Lagu, gambar, cerita tiap hari menghantui seluruh imajinasiku kala itu. Setelah dewasa saya baru menyadari bahwa semua itu adalah doktrin. Kehidupan kami dibuai dengan 2 profesi yaitu dokter dan insinyur. Memudahkan saya untuk memilih satu diantaranya yaitu dokter. Cita-cita dokter dan insinyur merupakan cita-cita tertinggi dan terbaik. Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) saat itu cukup sederhana, (kebenaran subyektif hanya berdasar cerita orang tuaku terutama ibuku) yaitu anak berani maju kedepan untuk mengaktulisasikan diri, bisa bermain dengan teman dan mengedepankan komunikasi sudah cukup. Guru-guru tidak wajib membuat rencana pembelajaran, namun lebih banyak rapat dan penataran. Pendidikan TK pada tahun 1980'an dikampungku cukup memberi kenangan karena TK Dharmawanita Pucangrejo Sawahan Madiun Kala itu masih menyatu dengan rumah Bapak Kades. 

Sejak saya memilih cita-cita ingin menjadi dokter, tema hidupku mulai konsisten saat dibangku SD kelas 1 sampai dengan kelas 3. Mulai dari perangkat mainan "cah kampung" (anak desa) dan perilaku teman sepermainanku melakonkan dokter dalam konsep bermain dokter-dokteran saya lakukan dengan penuh penghayatan. Pola itu men-scaffolding seluruh kapabilitas yang ada di sekujur tubuhku. Tacit Knowledge yang aku bangun mulai dari komitmen, etos kerja, pemikiran, performansi dan seluruh pengetahuan yang implisit semuanya mengarah pada profesi dokter. Hingga akhirnya aku terpaksa menjadi juara kelas, dan akupun rela menjalaninya selama di SD demi sebuah ungkapan "kalau pinter besok jadi dokter". Pembelajaran di SD memang masih matapelajaran pada tahun 1985'an. Namun sebenarnya apa yang saya "lakoni" saat itu adalah sebuah pembelajaran tematik yaitu "andai aku seorang dokter". Pembelajaran tematik yang saya lakukan adalah tematik yang personalized. Tema yang aku konstruksi sendiri dan aku jalani sendiri. Saat itu aku ikhlas menjalani dokter cilik sebagai tema kehidupanku. Tematik telah terbukti membangun performansi belajarku saat itu.

Pendidikan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang merupakan upaya pemerintah dalam mencerdaskan bangsa, aku terima pada saat saya kelas 4 dan 5. Namun saya tidak mengingat keseluruhan karena tahapan CBSA tidak membekas sama sekali, yang membekas hanyalah istilah dan kepanjangannya saja. Hal itu dikarenakan SD-ku berlokasi dikampung. Penataran demi penataran kurikulum nasional kala itu adalah upaya jakarta memberikan pengarahan kepada daerah-daerah. Implementasinya pada saat guru-guru pulang penataran adalah kembali ke selera asal yaitu masih menggunakan buku paket yang itu-itu. Dicatatkan guru dipapan tulis depan dan kita ramai-ramai mencatat ulang. Sesekali guru menerangkan dengan membaca ulang atau menunjuk salah satu siswa untuk membaca tulisannya di buku atau dipapantulis depan. Oleh karane itu Sehingga saya mampu menjadi juara karena tulisanku lengkap dan saya rajin masuk. Jangan menanyakan fotocopy untuk siswa SDN Pucangrejo Madiun tahun  1985'an jawabannya belum mengenal. Konstruksi pembelajaran memberikan kesempatan anak-anak yang rajin mampu merajai nilai-nalai ujian seluruh bidang studi. 

Paradigma Behaviorisme pendidikan ternyata mendarah daging dikepalaku saat itu. Dengan pepatah " Al-biasau minal kulina" (bisa karena terbiasa) saya rela belajar mulai jam ke 0 (nol) untuk les tambahan. Umumnya belajar dimulai jam 07.00 WIB dihitung jam pertama. Namun karena akan dihakimi oleh EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) kami mulai belajar jam 06.00 atau sebelum jam pertama hingga jam 07.00 wib. Wali kelas dan guru lain bergantian memberikan latihan soal yang bertubi-tubi dan itu masih ditambah lagi jam 15.00 hingga 16.30 wib dengan agenda yang sama. Aku bahkan tidak perlu menghitung untuk jawaban matemetika karena aku hampir hafal pertanyaan dan jawabannya. Kondisi ini lazim dan jamak dilakukan secara turun menurun. Pada teori pendidikan, melatih dengan bertubi-tubi dan dengan intensitas lama maka akan membentuk konstruksi menghafal. Mungkin jika saya datanya mengapa jawabannya itu, saya sendiri mungkin kelabakan. Saya hanya tahu dan bahkan mampu membuat perkiraan jawabannya karena "sangking" (terlalu) hafalnya. Kemampuan ini merupakan kompetensi unggulan dari behaviorisme. Jika dilakukan riset kuantitatif terhadap paradigma ini, anda akan mendapatkan kemampuan bertambah saat awal tes dan tes sesudah diberi perlakukan pelatihan bertubi-tubi. Inilah signifikansi pengaruh drill and practice terhadap peningkatan hasil belajar low order thinking skill (LOTs). Kebahagiaanku akhirnya datang setelah EBTANASku masuk rangking 3 besar se-kecamatan. Artinya saya telah membangun imajinasi karpet merah untuk menjadi Dokter. Saya rela walaupun saya tempuh dengan berdarah-darah. Cita-citakulah telah membuatku tetap bahagia

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN