Mohon tunggu...
Henri Satria Anugrah
Henri Satria Anugrah Mohon Tunggu... Blogger di pikirulang.id

Mahasiswa psikologi. Menulis tentang pengembangan diri, kesehatan, agama, dan isu-isu sosial | Kontak = IG: @henrisatria, Twitter: @henrisar, E-mail: henrisatria@pikirulang.id

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mencintai Diri Sendiri Tak Semudah Mencintai Orang Lain, Mengapa?

23 Oktober 2019   11:50 Diperbarui: 24 Oktober 2019   04:48 0 11 2 Mohon Tunggu...
Mencintai Diri Sendiri Tak Semudah Mencintai Orang Lain, Mengapa?
Pic via happierhuman.com

Mencintai merupakan fitrah yang diturunkan Tuhan pada setiap hati manusia. Dengan mencintai, manusia akan membangun rasa nyaman untuk menjalin hubungan dengan manusia, tidak hanya orang lain, tetapi juga diri sendiri.

Dengan mencintai, manusia akan rela menghabiskan berbagai sumber daya (materi, waktu, dan tenaga) untuk digunakan bersama dengan manusia yang dicintai.

Jika kita mencintai kekasih, maka apapun yang dia minta, akan kita belikan. Kapanpun dia ingin bertemu, akan kita sempatkan. Bagaimanapun dia meminta pertolongan, akan kita bantu.

Sebaiknya, dalam menjalin hubungan dengan diri sendiri pun demikian. Namun pada kenyataannya, seringkali kita mendapati orang yang lebih perhatian kepada orang lain daripada kepada dirinya sendiri.

Ada dua alasan yang membuat kita lebih mudah mencintai orang lain daripada diri sendiri. Pertama, ketika mencintai orang lain, kita cenderung menerima dia apa adanya. 

Seluruh kepribadiannya akan kita cintai dengan sepenuh hati. Apabila kita melihat satu-dua keburukan darinya, kita akan "menutup mata" sambil berkata "itulah wajarnya manusia. Mana ada manusia yang sempurna?".

Kita pun akan menanggap bahwa satu-dua keburukannya merupakan bagian dari kepribadiannya yang juga kita cintai. Kita akan merasa bahwa dia tidak akan lengkap tanpa keburukannya, karena itulah dia. Begitulah perasaan kita ketika mencintai orang lain. 

Namun, kedua, ketika mencintai diri sendiri kita akan membandingkan diri-nyata (real-self) dengan diri-ideal (ideal-self) yang kita miliki. Real-self adalah bagaimana diri kita melihat diri sendiri saat ini, sedangkan ideal-self adalah sosok ideal yang ingin kita capai.

Ketika melihat orang lain, kita cenderung melihat real-self-nya saja, lalu langsung menerima real-self-nya secara apa adanya sebagai bentuk cinta.

Tentu, kita tidak bisa melihat ideal-self orang lain. Kalaupun kita menanyakan ideal-self orang yang kita cintai kepada yang bersangkutan, maka yang dia beritahukan ialah bagian dari ideal-self-nya, bukan ideal-self-nya itu sendiri.

Semakin jauh perbandingan antara real-self dengan ideal-self maka kita akan semakin membenci diri sendiri. Sebaliknya, semakin dekat perbandingan antara real-self dengan ideal-self, maka kita akan semakin mencintai diri sendiri. Ilustrasi sederhananya sesuai pada gambar di bawah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x