Mohon tunggu...
Hennie Triana Oberst
Hennie Triana Oberst Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penyuka traveling dan budaya

Kompasianer Jerman || Best in Citizen Journalism Kompasiana Awards 2023

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Betapa Dinginnya Musim Salju, Dongeng "Gadis Penjual Korek Api"

16 Mei 2021   04:16 Diperbarui: 16 Mei 2021   08:04 1908
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dongeng Gadis Penjual Korek Api | foto: Hans Christian Andersen/deukomtvsa.wordpress.com—

Kisah yang dimulai saat seorang gadis kecil dengan baju kumal dan tanpa pelindung kepala berjalan tanpa alas kaki. Tadinya, saat meninggalkan rumah, dia mengenakan alas kaki milik ibunya yang kebesaran. 

Gadis kecil ini kehilangan sandalnya saat tergesa-gesa menyeberang jalan. Satu sandalnya hilang entah terlempar ke mana, sedangkan satu lagi dibawa kabur seorang anak laki-laki.

Dia membawa satu kotak dagangan yang berisi korek api. Sepanjang hari tidak ada seorang pun yang membeli korek api yang dijajakannya. Rasa lapar dan dingin ditahannya, karena dia tidak berani pulang. Ayahnya akan memukuli dia jika tidak ada korek api yang terjual. 

Tidak ada orang yang memperhatikan gadis kecil ini. Karena kedinginan dan putus asa, maka gadis kecil menyalakan korek api, satu demi satu. Setiap batang yang menyala, ia bermimpi, dan akan terbangun ketika api padam. 

Gadis kecil mimpi bertemu dengan neneknya yang telah meninggal dunia. "Nenek, bawalah aku bersamamu," dia memohon pada neneknya untuk membawanya. Gadis kecil tahu neneknya akan pergi jika api padam.

Akhirnya, neneknya membawa gadis kecil bersamanya ke surga. Gadis kecil tidak lagi menderita, kedinginan dan kelaparan. 

Keesokan harinya, orang-orang yang melintas di jalan mendapati gadis kecil telah membeku dengan senyum di bibirnya. Korek api yang telah terbakar berceceran di sekitarnya.

Dongeng ini menyampaikan kritik dan ditulis dengan baik.

Menggambarkan bagaimana orangtua yang semena-mena terhadap anak mereka dengan alasan kemiskinan.

Di samping itu juga cerminan masyarakat yang hanya sibuk memikirkan diri mereka sendiri, tanpa peduli orang lain di sekitarnya. 

Selamat Hari Buku Nasional

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun