Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Hikmah Isu Kiamat di Panas Politik

15 Maret 2019   21:41 Diperbarui: 17 Maret 2019   10:41 511 48 28
Hikmah Isu Kiamat di Panas Politik
gambar: getwallpapers.com

"Minoy, siapkan diri! Pada waktu saya tetapkan, kamu harus segera berangkat ke Eropa!"

Andai saja Minoy memberi perhatian terhadap penyampaian itu, maka pastilah Minoy sudah menyiapkan segala yang diperlukan sehingga kapan pun waktu berangkat tiba, ia telah siap.

Akan tetapi, Minoy tidak menyiapkan dirinya sehingga ketika Qadesh, bosnya, memerintahkan ia segera berangkat, Minoy panik. Paspor, visa, dan lainnya belum diurus. Demikianlah juga, bila kita tidak siap akan hari kiamat. Panik.

Hari kiamat bukan hoaks. Itu akan terjadi. Hanya saja, waktunya tidak ada yang tahu. Sama seperti manusia tidak ada yang tahu waktu kematiannya, tetapi itu pasti terjadi. Hari kiamat tiba seperti kedatangan pencuri yang tidak menyampaikan kapan ia akan mencuri.

Bisa saja terjadi malam ini, besok, tujuh bulan lagi, sepuluh tahun lagi. Waktunya tidak ada yang tahu, tetapi berjaga-jaga untuk itu kita tahu, bukan? Karena hal itu sudah diberitahukan kepada kita, maka kita tahu, bahwa kita harus bersiap sedia.

Lalu, mengapa panik? Harus kita akui, bahwa pada umumnya kita tidak bersiap sedia untuk hari kiamat itu. Kita tidak menyiapkan diri bila hari itu tiba.

Perhatian kita berpusat pada dunia. Kita mengejar apa yang menjadi pencapaian kita di dunia ini sehingga kita seolah lupa, bahwa dunia hanya perjalanan bukan tujuan akhir kehidupan kita.

Adalah menarik buat saya, bahwa isu kiamat versi rekayasa manusia menyeruak di tengah panasnya suhu politik di tahun Pemilu 2019 ini. Kebetulan? Apakah ada yang kebetulan bagi Tuhan?

Tidak ada yang kebetulan bagi Dia. Selalu ada pesan yang harus kita cari mengerti pada setiap perkara yang terjadi di bawah kolong langit ini. Di tengah percakapan negatif tentang hal ini, ada hal positif yang mengingatkan kita akan Dia.

Isu kiamat ini menegur kita, bahwa kursi-kursi kedudukan yang diperebutkan itu adalah kekuasaan duniawi semata. Untuk apa saling membenci, saling menjatuhkan, saling menghinakan, saling merendahkan, saling menghujat, dan sebagainya?

Entah sadar atau tidak, gegara Pilpres dan Pileg banyak orang terseret ikut menabur benih dosa. Hati tidak lagi tulus dan bersih. Pikiran tidak lagi jernih. Lisan tidak lagi laik. Rancangan licik diupayakan. Perbuatan jahat dikerjakan. Segala cara dihalalkan. Segala hal dilakukan dengan tidak lagi takut akan Allah. Seolah Allah tidak tahu apa-apa.

Dapatkah kita membodohi Dia? Dapatkah kita menutupi segala perkara dari pandangan mata-Nya? Tulikah Ia akan lisan kita? Tidurkah Ia pada saat segala kejahatan dirancangkan dan dilakukan?

Belumkah mata iman kita melihat bagaimana Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan segala peristiwa? Termasuk, oleh kemahatahuan-Nya, Ia membuka tabir diri. Orang-orang  yang bersuara keras menilai orang lain seolah diri orang suci dan kudus tiba-tiba saja kenyataan dirinya terkuak.

Sepatutnya tidak saling mengangkat tumit satu sama lain, sebab Allah tahu rahasia diri. Seyogianya tidak saling menjahati, sebab Allah Mahaadil. Selayaknya tidak saling membenci, karena kita sama hanyalah debu yang akan kembali menjadi debu.

Puji syukur, isu hari kiamat itu hanyalah rekayasa manusia, artinya kita masih diberi kesempatan untuk menyadari tujuan kita adalah perkenanan-Nya. Pengejaran kita adalah kemuliaan Allah bukan kemuliaan manusia semata.

Kalau kiamat itu benar-benar terjadi pada hari ini, sudah siapkah kita? Lalu, untuk apa Pilpres dan Pileg itu kalau hari ini dunia berakhir?

Salam. HEP.-