Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Netizen Itu Anaknya Siapa?

12 Februari 2019   04:41 Diperbarui: 12 Februari 2019   05:52 464 61 39
Netizen Itu Anaknya Siapa?
gambar:pngimage

Suatu ketika saya sedang naik angkot di Manado, Sulawesi Utara. Seperti biasa, saya duduk di depan di samping Pak Supir. Kenapa?

A. Agar mirip syair lagu "naik angkot e delman istimewa kududuk di muka". B. Konon, penumpang yang duduk di depan tiba lebih dahulu dari yang duduk di belakang. C. Bisa minta tolong dibangunkan oleh Pak Supir, sebab kalau tujuannya agak jauh, saya suka tidur di jalan.

Pilihlah jawaban yang benar.

Sedang padat-padatnya kendaraan di area pasar, tiba-tiba seorang anak laki-laki remaja menyeberang di depan angkot yang saya tumpangi. Walau angkot berjalan lambat karena macet, tetapi kemunculan anak itu secara mendadak  di moncong angkot tentu saja mengejutkan Pak Supir dan saya.

Namun, bukannya menyadari bahwa ia sudah asal menyeberang, anak itu malah mengeluarkan kata makian kepada Pak Supir. Waduh! Saya menatap anak itu seperti tidak percaya. Spontan Pak Supir berkata, "Adoh! Sapa pe anak itu?!" Artinya: "Aduh! Anaknya siapa itu?".

Demikian celetuk orang pada umumnya tatkala bertemu dengan anak-anak yang memberi kesan tidak terdidik. Pikiran terarah kepada orangtuanya. Orangtua menjadi sorotan pertama dan utama terkait perilaku seorang anak.

Dan, sekarang ini, saya sedang bertanya-tanya, "Netizen itu anaknya siapa?" atau "Siapa orangtua Netizen itu?"

Sebab, saya memerhatikan, bahwa makin ke sini netizen Indonesia tampak seperti anak-anak yang tidak dididik oleh orangtuanya. Tidak semua, tetapi tampak lebih banyak dari yang tidak.

Media sosial seperti menampilkan sisi buruk dari karakter manusia. Budaya saling menghargai dan saling menghormati seolah tidak berlaku di dunia maya. Netizen dengan leluasa mengatakan apa yang mau ia katakan tanpa mau tahu dengan apa yang ia katakan dan kepada siapa perkataan itu diucapkan.

Dunia maya bagaikan dunia lain yang tersedia bagi kebebasan berkata-kata tanpa perlu terikat norma-norma yang berlaku di alam nyata. Dunia maya seakan bukan tempat untuk perlu bersopan santun lagi.

Pandai menghina. Trampil menghujat. Lihai mencemooh. Cakap memaki. Kata-kata dan cara bertutur kata yang tidak biasa kita dengar dalam percakapan sehari-hari ada di dinding-dinding status dan di bilik-bilik komentar di media sosial.

Acapkali, saya tidak bisa lagi membedakan mana orang berpendidikan dan mana tidak, mana pejabat publik dan mana masyarakat biasa, mana orang berambut putih dan mana anak ingusan, dan sebagainya.

Dunia maya khususnya media sosial seakan sudah dianggap sebagai ruang bebas tanpa tata krama. Alam tanpa etiket. Netizen bak anak kecil yang dibiarkan memegang pisau di tangannya dan menggunakannya untuk melukai orang lain.

Karakter buruk dari diri seakan mendapat tempat pelampiasannya seolah sekian lama itu terkurung di dunia nyata yang penuh basa-basi. Status dan komentar serta gambar dan video yang dibagikan di media sosial tanpa sadar sedikit banyaknya menyingkap sisi karakter diri yang terselubung.

Saya jadi penasaran. Ingin tahu, siapa orangtua Netizen itu? Akankah ini terus dianggap biasa saja?

Akan tetapi, bagaimana kita hendak menganggap ini bukan hal yang baik bila mereka yang harusnya menjadi panutan berlaku sama?

Salam. HEP.-