Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Penipu Ditipu

12 Oktober 2018   05:06 Diperbarui: 12 Oktober 2018   19:54 1074 39 30
Penipu Ditipu
koleksipribadi

Ada seorang bernama Yakub. Kembarnya bernama Esau. Esau adalah seorang yang berbulu badannya, sedangkan Yakub berkulit licin.

Sebagai anak sulung, Esau berhak menerima berkat kesulungan dari ayah mereka, Ishak. Tapi Ribka, ibunya, menginginkan hak itu jatuh ke Yakub.

Demi beroleh berkat hak kesulungan itu, Yakub ikut berkonspirasi dengan Ribka untuk menipu Ishak.

Ribka mengenakkan pakaian kepunyaan Esau ke Yakub dan mempalut kulit anak kambing pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin sehingga kalau diraba seperti kulit Esau. 

Ketika hendak memberi berkat, Ishak yang sudah tua dan telah kabur matanya sempat ragu, namun akhirnya tertipu juga tatkala mencium aroma Esau dan meraba kulit tangan dan leher Yakub yang berbulu. Ishak percaya bahwa itu adalah Esau.

Yakub berhasil menipu ayahnya. Ia menerima berkat hak kesulungan dari ayahnya yang sedianya diperuntukkan bagi Esau.

Lari dari murka kakaknya karena perbuatannya itu, Yakub tinggal di rumah pamannya, Laban. Laban memiliki dua orang putri, yakni Lea dan Rahel. Yakub jatuh cinta kepada Rahel, putri bungsu Laban. 

Yakub bersedia bekerja 7 tahun lamanya bagi Laban guna mendapatkan Rahel. Yakub melakukannya dengan penuh semangat hingga tiba jua hari pernikahan yang dinanti itu.

Tetapi keesokan harinya Yakub terkejut sebab ternyata itu bukan Rahel melainkan Lea! Yakub meminta penjelasan dari Laban dan bertanya, "Mengapa engkau menipu aku?".

Laban memberi alasan bahwa tradisi di tempat itu tidak membolehkan seorang adik mendahului kakaknya untuk menikah. Laban meminta Yakub menunggu hingga genap 7 hari pernikahannya dengan Lea untuk mendapatkan Rahel. Barulah setelah itu, Rahel benar-benar menjadi istrinya. 

"Mengapa engkau menipu aku?". Suatu pertanyaan yang menarik. Yakub lupa kalau ia dulu juga menipu ayahnya. Yakub mendapat pelajaran bagaimana rasanya ditipu. Itu juga yang pernah dirasakan ayahnya tatkala ia melakukan hal yang sama.

Meski tidaklah serta merta bahwa orang yang ditipu pasti pernah menipu, namun sepatutnya kita mengambil pelajaran dari kisah kehidupan Yakub dan juga banyak kisah kehidupan anak manusia yang mengalami hal yang sama.

Saat kita tertipu, itu bisa adalah ujian iman, tapi bisa pula adalah teguran atau hajaran.

Berdiam diri dalam sujud kepada-Nya sambil mengingat apakah kita juga pernah menipu orang di masa sebelumnya adalah langkah awal menarik garis vertikal antara diri dan Sang Pemilik hidup dan kehidupan ini.

Jika tidak, maka itu adalah sebuah ujian iman. Bagaikan hendak naik kelas, ujian iman merupakan anak tangga untuk makin mendewasakan iman kita dalam menjalani masa hidup di dunia.

Tapi bila dulu juga pernah menipu orang, maka itu adalah sebuah teguran bahkan hajaran atas perbuatan yang sama yang pernah dilakukan.

Kita ditegur. Kita dihajar supaya kita juga menyadari diri dan bertobat untuk tidak melakukan lagi hal yang sama.

Penipu ditipu. Hanyalah sebuah renungan.

Salam. HEP.