Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan yang belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[BeCaK] Oh Mimiii ...

14 September 2018   00:06 Diperbarui: 14 September 2018   19:37 391 17 21
[BeCaK] Oh Mimiii ...
assets.rbl.ms

Artikel menjawab tantangan Even [BeCak] Balada Cinta di Kompasiana.

"Tutup jendelanya, Ma. Hidupin AC", pinta papanya Mimi.

Kulirik jam di dinding. Sembilan empat puluh. Hmm .. perintah itu selalu ada bila sesuatu akan terjadi. Biasanya dia tidur saja. Aku pasti akan mengerjakan itu setelah bacaanku selesai.

Hitung-hitung sudah hampir sebulan perintah itu tidak dia ucapkan. Pikir aku karyawannya apa? Upah bulanan! Kesalku timbul mengunjuk rasa.

Sebagai penikmat udara alami, jendela di kamar selalu kubuka saat kursi dan meja kecil di dekat jendela itu menjadi sahabat dalam hening bacaku. Siapa juga yang akan mengintip. Yang ada cuma aku dan dia.

Tak beda dengan rumah Pak Eko, rumah kecil kami juga sudah terkepung dengan tembok tetangga. Namun tetangga kami masih punya kasih setipis kartu ATM. Dibuatnya untuk kami celah pintu setebal tempe. Lumayan untuk bisa keluar masuk tanpa harus memanjat tiang ala Joni.

"Aduh, Maa, tutup jendelanya!", desaknya menuntut fokus. 

Sengaja aku lamai-lamain. Pura-pura tidak tahu. Karena seperti kataku tadi, aku kesal!

'Iyaaa. Tunggulah, Paaa ...".

Kututup daun jendela. Hidupkan AC. Berjalan ke arah pintu kamar. Mataku melirik ke benda persegi serupa kardus besar tak bertutup tampak empuk dan nyaman di mana dia sudah berbaring di situ. Hmm ... Kali ini tidak akan kubiarkan.

"Lampu?", tanyaku sambil jemariku menyentuh saklar dekat pintu.

"Iya", jawabnya datar.

Kupadamkan lampu kamar, kunyalakan lampu tidur. Cahaya meremang. Sejuk mulai terasa oleh hawa dingin yang disemburkan oleh alat di dinding itu.

"Mau ke mana?", selidik suaranya saat daun pintu kubuka.

"Mau lihat Mimi sebentar"

Mimi adalah kucing kesayangan kami. Sayang, papanya tidak seramah aku. Walau dia sayang Mimi, tapi tidak suka bermain dengannya apalagi memeluk. Paling-paling mengelus kepala Mimi. Itupun tak lama. "Geli", katanya.

Tak lama kemudian ...

"Sudah kunci pintu?", sambil tangannya memeluk tubuh yang kukakukan. 

"Sudah", sahutku dingin sedingin udara di ruang remang nan sepi itu.

"Ngapain sih, ah!", kesalku bersuara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3