Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan yang belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Perbedaan Perlakuan Hukum di Indonesia

11 Agustus 2018   06:47 Diperbarui: 2 September 2018   01:53 783 4 7
Perbedaan Perlakuan Hukum di Indonesia
Dokumentasi pribadi

Adanya lagi seruan Habib Rizieq Shihab (HRS) kepada para tokoh dan umat Islam (10/8) dari Makkah, Arab Saudi, membuat Penulis tidak dapat lagi menahan pertanyaan ini: "Mengapa HRS tidak datang ke Indonesia saja? Mengapa sekarang hanya berseru dari jauh seperti itu? Beliau tidak mau atau tidak bisa?"

Sejak kasus chat pornografi menyeruak, sejak itu beliau lenyap dari bumi persada Indonesia, atau setidaknya, dikabarkan seperti itu. Laporan polisi menumpuk dari November 2016 hingga saat ini. Entah berapa persis jumlahnya. Tidak tahu. Penulis tidak perlu hafal.

Setidaknya, beberapa kasus hukum beliau disebutkan pada gambar di bawah ini:

liputan6.static6.com
liputan6.static6.com
Yang Penulis tahu sudah di-SP3-kan adalah kasus chat pornografi dan penghinaan Pancasila. Apakah sudah ada yang lain? Lalu yang lain-lain itu, apa kabarnya? Kenapa tidak ada satu pun yang diproses?

Tolong perhatikan ini: PENDETA Abraham Ben Moses sudah dipenjarakan oleh kasus penistaan agama. Demikian juga, PENDETA Siman Hutahaean sudah dipenjarakan karena kasus pelecehan seksual. Cepat sekali prosesnya, ya kan?

Kalau salah, ya, harus dihukum. Pendeta bukan Tuhan yang mustahil punya dosa. Mau Pendeta sekalipun, dia tetap manusia. Pasti ada salah, khilaf dan dosa. Jika melanggar hukum, diproses sesuai hukum yang berlaku. Itu juga adalah proses didikan Tuhan dan bukti bahwa tidak ada orang benar di dunia ini sekalipun ia pemimpin umat. Semua bisa jatuh ke dalam dosa.

Tapi HABIB RS, sampai percakapan dan foto sudah begitu jelasnya, SP3. Ok. Kalau sudah begitu, kita hormati saja keputusan itu. Tapi HABIB RS bisa hina Yesus kenapa tidak diproses juga sampai detik ini?? Sekali lagi, bandingkan dengan ini:

  • Pendeta Siman Hutahaean terjerat kasus asusila sudah dipenjarakan, ya kan? Prosesnya cepat, bukan?
  • BTP sebut ayat Alquran, Indonesia sudah jadi lautan putih: penjarakan dia!! Tuh, beliau sudah di dalam penjara. Ya, kaaaan? Prosesnya cepat, bukan?
  • Pendeta Abraham Ben Moses hina Nabi umat Islam juga sudah dipenjarakan, ya kan? Prosesnya cepat, bukan?

Lalu HRS hina Yesus??? Itu sudah 2 (dua) tahun tidak diproses sama sekali!! Enak sekali jadi pemuka agama Islam Ulama HABIB di negara ini. Kasus bertumpuk bisa lenggang kangkung di luar sana.

Pak Tito, tanya nih, memang bisa begitu, ya, Pak? Bapak nonton saja lihat beliau koar-koar dari jauh, sementara kasus hukumnya bertumpuk, bisa begitu, ya, Pak? Ini tanya loh, Pak? Atau, Bapak tahu mengapa ia bisa santai begitu di luar?

Apa karena HRS adalah seorang Ulama dan terutama karena beliau bergelar HABIB pertanda keturunan Nabi? Karena, kalau ada jerat hukum yang disangkakan kepada pribadi Ulama apalagi Habib, langsung disebut kriminalisasi ulama.

Maka pertanyaan: Apakah itu berarti Ulama dan Habib dalam ajaran Islam diimani adalah bukan manusia, tetapi sudah "Tuhan" itu sendiri sehingga tidak mungkin ada salah, tidak mungkin ada khilaf dan tidak mungkin ada dosa?

Penulis perlu menanyakan ini, sebab Penulis tidak mengerti paham tentang Ulama secara khusus seorang Habib dalam ajaran agama Islam sampai sedemikian hebatnya perlawanan kaum Muslim atas sangkaan pelanggaran hukum yang diterakan terhadap seorang Ulama dan khususnya Ulama Habib. Semua disebut kriminalisasi Ulama. Kesannya: hukum salah, ulama benar atau tidak pernah mungkin salah. 

Kalau memang ada ajaran Islam yang menyebutkan Ulama dan Ulama Habib itu bukan manusia, tetapi = "Tuhan" tak mungkin punya salah, khilaf dan dosa, maka itu berarti tidak ada pertanyaan lagi.

Selesai sampai di situ. Karena itu adalah keyakinan agama yang harus dihargai dan dihormati oleh manusia lain yang tidak seagama. Termasuk Penulis.

Penulis akan diam dan sepenuhnya menghormati keyakinan umat beragama lain sesuai ajaran Kitab Sucinya. Itu juga ajaran orangtua saya: menghormati dan menghargai setiap keputusan orang lain yang diambilnya untuk hidupnya, termasuk hal agama.

Di sini kita masih bisa dibela manusia lain. Tapi kelak, seorang diri saja kita akan berdiri di hadapan Takhta Suci Penghakiman Terakhir.

Karena setiap orang akan mempertanggungjawabkan semua keputusan yang diambil di hidupnya secara pribadi kepada Tuhan. Satu-satu. Pribadi-pribadi. Tidak bisa lagi kita membawa dukungan massa di Pengadilan Allah.

Kita ini hanya manusia, bukan Tuhan. Tuhan tidak memberi hak kepada kami untuk menjadi hakim atas sesama manusia. Itu hak Tuhan. Itu ajaran Kristiani.

Karena manusia tidak boleh menghakimi manusia, maka ada aturan hukum yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia ini.

Mungkin redaksi kitab undang-undang dan hukum Indonesia yang harus segera diubah dengan memberi kata KECUALI kepada seorang Ulama dan Ulama Habib.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2