Hennie Engglina
Hennie Engglina Pelajar Hidup

Untuk yang ada dan belum ada.

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Perbedaan Perlakuan Hukum di Indonesia

11 Agustus 2018   06:47 Diperbarui: 27 Januari 2019   18:01 1356 4 7
Perbedaan Perlakuan Hukum di Indonesia
koleksipribadi

Adanya lagi seruan Habib Rizieq Shihab (HRS) kepada para tokoh dan umat Islam (10/8) dari Makkah, Arab Saudi, membuat Penulis tidak dapat lagi menahan pertanyaan ini: "Mengapa HRS tidak datang ke Indonesia saja? Mengapa sekarang hanya berseru dari jauh seperti itu? Beliau tidak mau atau tidak bisa?"

Sejak kasus chat pornografi menyeruak, sejak itu beliau lenyap dari bumi persada Indonesia, atau setidaknya, dikabarkan seperti itu. Laporan polisi menumpuk dari November 2016 hingga saat ini. Entah berapa persis jumlahnya. Tidak tahu. Penulis tidak perlu hafal.

Setidaknya, beberapa kasus hukum beliau disebutkan pada gambar di bawah ini:

sumber:liputan6.static6
sumber:liputan6.static6
Yang Penulis tahu sudah di-SP3-kan adalah kasus chat pornografi dan penghinaan Pancasila. Apakah sudah ada yang lain? Apa kabarnya? Mengapa satu pun tidak ada yang diproses?

Perhatikan ini:

  • PENDETA Siman Hutahaean terjerat kasus asusila sudah dipenjarakan, ya, 'kan? Prosesnya cepat, bukan?
  • BTP sebut ayat Alquran, Indonesia sudah jadi lautan putih: penjarakan dia!! Tuh, beliau sudah di dalam penjara. Ya, kaaaan? Prosesnya cepat, bukan?
  • PENDETA Abraham Ben Moses hina Nabi umat Islam juga sudah dipenjarakan, ya kan? Prosesnya cepat, bukan?

Kalau salah, ya, harus dihukum. Pendeta bukan Tuhan yang mustahil punya dosa. Mau Pendeta sekalipun, dia tetaplah manusia. Pasti ada salah, khilaf, dan dosa. Jika melanggar hukum, diproses sesuai hukum yang berlaku. Itu juga adalah proses didikan Tuhan dan bukti bahwa tidak ada orang benar di dunia ini sekalipun ia pemimpin umat. Semua bisa jatuh ke dalam dosa.

Tapi HABIB RS, sampai percakapan dan foto sudah begitu jelasnya, SP3. Ok. Kalau sudah begitu, kita hormati saja keputusan itu. Akan tetapi, HABIB RS bisa hina Yesus, tetapi kenapa tidak diproses juga sampai detik ini??  Itu sudah 2 (dua) tahun tidak diproses sama sekali!! 

Enak sekali, ya, HRS. Kasus bertumpuk bisa lenggang kangkung di luar sana. Apa karena HRS adalah seorang Ulama dan terutama karena beliau bergelar HABIB pertanda keturunan Nabi? 

Di Indonesia ini, setiap kali ada jeratan hukum yang disangkakan kepada pribadi Ulama apalagi Habib langsung disebut kriminalisasi ulama.

Pertanyaan: Apakah itu berarti bahwa dalam ajaran Islam, seorang Ulama dan Habib diimani adalah "Tuhan" sehingga tidak mungkin ada salah, tidak mungkin ada khilaf, dan tidak mungkin ada dosa?

Hingga sedemikian hebatnya perlawanan kaum Muslim atas sangkaan pelanggaran hukum yang diterakan terhadap seorang Ulama dan khususnya Ulama Habib. Semua disebut kriminalisasi Ulama. Kesannya: hukum salah, ulama benar atau tidak pernah mungkin salah. 

Ubah sajalah redaksi kitab undang-undang dan hukum Indonesia dengan memberi kata KECUALI kepada seorang Ulama dan Ulama Habib. Supaya jelas. Supaya tidak ada pertanyaan lagi tentang keanehan ini. Jangan hukumnya bicara apa, pelaksanaannya tergantung siapa.

Sungguh mengherankan, bahwa mengapa HRS bisa santai di sana sementara jeratan kasus hukum atas dirinya begitu banyak?

Atau, karena sesuatu hal. Apakah itu UNTUK MENJAGA CITRA ISLAM? Apalagi proklamasi kekuasaan Islam di Indonesia pada kasus Ahok belum lama terjadi. Nanti Islam malu kalau ada Habib masuk penjara?

Lalu, adakah win-win solution bahwa kasus di-SP3-kan tetapi tidak boleh ke Indonesia? Itu karena menginsafi bahwa kehadiran HRS memporak-porandakan segala tatanan toleransi dan hukum di Indonesia, maka karena itulah beliau sekarang hanya bisa komando dari jauh?

Berapa lama masa perjanjian HRS tidak bisa ke Indonesia itu? Sepanjang hitungan masa hukuman yang seharusnya beliau jalanikah?

Hanya Allah Yang Mahakuasa yang tahu persisnya. Puji syukur ada keadilan Allah. Manusia boleh membedakan, hukum boleh tidak adil, tapi Ia TETAP ADIL bagi semua manusia. Ia tahu derita manusia yang menerima ketidakadilan dari sesamanya manusia dan dari keadilan hukum dunia.

Yang Penulis tahu ada perbedaan perlakuan hukum kepada pemuka agama Kristen dan pemuka agama Islam di NKRI ini. Dan, itu fakta. Karena dua orang Pendeta, yang satu kasus penistaan agama dan yang satu kasus asusila, dua-duanya SUDAH DIPENJARAKAN. BTP juga sudah dipenjarakan.

Sedangkan, HRS bisa enjoy his life. Bisa "live-live"-an dengan para pemujanya di Indonesia, sementara Pak Tito dan Pak Presiden santai-santai saja melihat itu.

Penulis tidak bela Pendeta atau tokoh masyarakat beragama Kristen. Salah adalah salah! Karena kami sadar sesadar-sadarnya Pendeta bukan Tuhan! Bisa punya salah, khilaf, dan dosa seperti semua yang namanya manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2