Mohon tunggu...
Heni Prasetyorini
Heni Prasetyorini Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga Digital

Ibu Rumah Tangga Digital

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Bu, Saya Sekarang Agnostik

12 Juni 2019   06:34 Diperbarui: 12 Juni 2019   17:12 0 16 6 Mohon Tunggu...
Bu, Saya Sekarang Agnostik
sumber gambar: theplaidzebra.com

Sebuah percakapan siang kemarin yang tak direncanakan, tapi bikin hati saya kebat-kebit juga. Sambil mengunyah nasi dan tahu kecap bekal makan siang, saya membuka percakapan dengan teman baru. 

Disebut teman banget juga bukan, sebenarnya dia Personal Mentor dari program edukasi yang sedang saya ikuti sekarang. Usianya jauh lebih muda. Laki-laki. Posturnya tinggi besar, bahkan saya pernah menduga dia keturunan orang India. Dan saya pikir dia bukan Muslim, meninjau beberapa gestur tubuh, cara bicara dan sikapnya ketika bertemu saya sekitar 3 bulan ini. 

"Kamu emang dulu SMA mana?", tanya saya. Iseng sebenarnya, sumpah.

"Saya dari SMA xxxxxx  bu." [SMA Swasta Islam]

Woh, kaget saya mendengarnya. Rupanya nih anak muslim. Dan keluarganya muslim. 

Singkat cerita dia kemudian bercerita bahwa SMA itu adalah masa paling pahit dalam hidupnya. Pahit sepahit-pahitnya dia merasakan kekecewaan atas apapun terutama tentang agama dan Tuhan. 

"Saya AGNOSTIK bu sekarang," santai saja dia bicara.

"Ha? agnostik? apaan tuh?"

Sebenarnya saya sudah tahu sedikit tentang Agnostik. Sekilas mirip dengan penjelasan tentang Atheis begitu. Tapi saya ingin mendengar penjelasannya. 

"Agnostik itu, saya tidak memihak agama manapun."

Keringatnya menguncur di dahi. Hawa sangat terik memang di balkon gedung ini. Saya pun berulangkali menahan diri kepanasan, sambil terus menghabiskan bekal makan siang menggunakan sendok plastik hijau kecil, yang saya bawa dari rumah. Ada rasa ingin menasehati, sebuah reaksi spontan dari seorang ibu-ibu seumuran saya sebenarnya. 

Tapi saya kemudian sadar, bahwa anak muda sekarang paling sebel mendengar nasehat. Mereka akan merasa sudah cukup pintar, cukup tahu, karena mereka rajin untuk membaca buku, artikel atau bahkan bertanya kepada ahlinya. 

Saya berusaha menahan rasa yang entah, begitu sesak di dada antara heran, kasihan, curiga bahwa ini akal-akalan dia aja mencari cara enaknya hidup. Milih-milih ajaran agama lalu membungkusnya dengan manis dalam kata Agnostik. 

Awal perbincangan ini sebenarnya karena saya ingin menggali cerita, bagaimana caranya dia kok bisa enteng aja pergi-pergi ke luar negeri. Saya yang sejak jaman kecil pengen keliling dunia gitu mimpinya, suka mencari tahu gimana sih kondisi negeri di seberang sana itu. Percakapan cukup ringan sampai akhirnya sampai ke pertanyaan saya, "Kamu SMA mana sih?".

Saya tidak tahu bahwa masa muda anak ini waktu SMA adalah pemicu pada ketidakpercayaannya pada agama.

"Sejak kapan kamu agnostik?"

"Sejak SMA bu."

"Loh, tapi kamu kalau disuruh sholat ikut sholat?", ya kan dia masuk SMA swasta Islam. 

"Ya sholat bu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2