Mohon tunggu...
Heni Susilawati
Heni Susilawati Mohon Tunggu... Dosen - life with legacy

senang menulis tentang politik, demokrasi dan pemilu

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

A Philosophy of Shoes: Tak Sama, tapi Selalu Bersama

9 Oktober 2021   06:08 Diperbarui: 9 Oktober 2021   06:25 169 4 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Sepatu. Kita sering menyebutnya sebagai alas kaki (footwear). Benda yang satu ini memang memiliki fungsi yang teramat penting dalam melakukan aktivitas jalan kaki. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain itu memerlukan pelindung kaki yang akan membuat kita nyaman karena terlindung dari panas, dingin dan benda-benda yang berbahaya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan, produk budaya bernama sepatu tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Berjalan menelusuri sejarah sepatu bermula, ada catatan yang menyebutkan sejak lima juta tahun lalu manusia sudah menggunakan alas kaki yang terbuat dari kulit binatang. Di pedalaman Amerika Serikat pernah ditemukan sepatu dalam jumlah besar.

Penemuan serupa juga tercatat dalam sejarah yakni di Perancis dan diperkirakan berasal dari tahun 3.300 SM. Tak hanya di Amerika Serikat dan Perancis, peradaban sepatu juga ditemukan di Mesir kuno, Viking dan China kuno.

Dari masa ke masa produk sepatu terus berkembang dan menjadi sebuah industri. Konon mesin pembuat sepatu yang pertama kali dibuat oleh Jan Ernst Matzeliger pada tahun 1882. Time line sejarah sepatu mencatat sepatu pertama yang terbuat dari sol bermerek Pilmsols dibuat pada tahun 1800. Sejarahnya terus berkembang hingga lahir merek-merek terkenal sepatu mulai dari Converse, Adidas, Puma, Nike dan lain sebagainya. Sepatu merek Bata adalah legend shoes di negara kita. Aslinya produk itu berasal dari Cekoslowakia.

Di negara asalnya, perusahaan yang memproduksi sepatu merek Bata didirikan  pada tahun 1894 oleh pengusaha Tomas Anna dan Antonin Beta. Kehadiran Bata di Indonesia sejak tahun 1931. Cukup lama Bata menjadi bagian dari cerita produk alas kaki yang melegenda, nyaris 90 tahun membersamai langkah kaki konsumen Indonesia.

Catatan sekilas tentang sejarah sepatu yang dikutip dari berbagai sumber itu memberikan pembelajaran yang teramat penting. Kita tak bisa dipisahkan dari alas kaki bernama sepatu. Anatomi sepatu terdiri dari sol, hak, tali, kap dan lidah. Selain soal anatomi tentu saja peruntukan sepatu juga beda-beda sesuai kebutuhan. Dan untuk jalan kaki, kita memerlukan jenis walking shoes. Tujuan utamany adalah untuk mengurangi guncangan dan beban pada kaki. Saat akan memutuskan membeli merek tertentu yang ada di pasaran, pertimbangan jenis sepatu itu sangat mendasar. Singkat kata, memilih sepatu sesuai dengan tujuan pemakaian.

Kita membeli sepatu dalam kondisi sepasang, atau berpasangan. Sepasang itu untuk kaki kiri dan kaki kanan. Sepasang sepatu itu tak sama, tapi selalu bersama. Sepasang sepatu yang membersamai pejalan kaki, melangkah dari satu tempat ke tempat lain di berbagai kondisi cuaca dan jalan. Sepasang sepatu yang membersamai pejalan kaki mengenali kondisi lingkungan yang dilalui ketika berjalan kaki. Sepasang sepatu yang membersamai pejalan kaki memotret dengan aktual kondisi masyarakat yang ditemui dalam perjalanan. Bertemu dan bahkan bisa jadi bertegur sapa dalam keramahtamahan. Terlebih dalam budaya Indonesia yang dkenal terbuka dan ramah kepada siapapun yang ditemui. Salam, sapa dan senyum ketika melangkah bersama sepasang sepatu. 

Sepatu itu tak sama, tapi selalu bersama. Berjalan kaki di ruang terbuka, di desa ataupun di kota. Di dalam maupun di luar negri. Juga memberikan pembelajaran yang sangat sayang untuk dilewati. Ada pesan universal yang disampaikan sepasang sepatu. Sesungguhnya keragaman lah yang membuat hidup kita indah. Kebersamaan dalam keberagaman itu sangat indah.

Orang-orang yang kita temui ketika berjalan kaki tentu saja berbeda latar belakang. Mulai dari jenis kelamin, usia, pendidkan, agama, suku bagsa dan bahasa, tingkat pendapatan, pekerjaan, asal daerah/negara, pandangan politik, kebiasaan, hobi, prestasi, gaya hidup dan lain sebagainya. Memori ketika melakukan perjalan kaki adalah memori yang mengingatkan indahnya keberagaman dalam kebersamaan. Perbincangan mengalir tanpa settingan ketika bertemu beragam latar belakang dan karakter. Perbincangan meski hanya sekilas saja di sela aktivitas berjalan kaki. 

Sepatu itu tak sama, tapi selalu bersama. Dalam kehidupan kita yang lebih luas, kesadaran tentang keberagaman itu sangat dibutuhkan. Keberagaman yang membuat kita hidup saling tergantung satu sama lain.

Keberagaman yang membuat kita kaya dengan perspektif dan kekayaan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman lah yang membuat kita memiliki khasanah pengetahuan dan pengalaman tentang kuliner Indonesia yang sangat kaya. Keberagaman lah yang membuat kita memiliki khasanah pengetahuan dan pengalaman tentang sikap menjaga kecintaan terhadap tanah air, Indonesia. Memori kolektif kita, negara ini lahir dari perjuangan para pendiri Bangsa yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Keberagaman lah yang membuat kita kuat hingga hari ini sebagai bangsa yang kokoh, bangsa yang diperhitungkan di kancah Internasional.

Sepatu itu tak sama, tapi selalu bersama. Kita harus merawat keberagaman itu dengan sepenuh hati. Tak ada gunanya kita melangkah bersama, jika perasaan kita sama. Sesungguhnya negara kita akan semakin kuat, ketika keberagaman itu kita pelihara dan hormati demi kejayaan Indonesia di masa depan. Generasi hari ini bertanggung jawab penuh meninggalkan legasi terbaik bagi generasi mendatang. Legasi menyongsong kejayaan Indonesia di tahun 2045.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan