Mohon tunggu...
Susilo
Susilo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana Malang

💦peace began with a smile 💦

Selanjutnya

Tutup

Love

Jodoh dan Cinta

17 Oktober 2021   23:16 Diperbarui: 17 Oktober 2021   23:26 39 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Love. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Prostooleh

Jodoh dan Cinta

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad (Kahlil Gibran).

Setiap kita tentu memiliki kisah "cinta". Tidak ada rumus mencari jodoh yang paling efektif.  Ada orang yang mudah mencari jodoh, ada juga yang sulit mencari jodoh atau mencari pasangan, bahkan ada yang seumur hidup tidak berjodoh dengan siapapun. Tidak asing ada yang punya jodoh lebih dari satu, berpasangan dengan beberapa orang, atau gonta-ganti pasangan. Mungkin setiap pasangan dianggap jodoh, dan kalau ada ketidakcocokan di kemudian hari, dianggap 'bukan jodoh'.

Kita pernah mendengar perkataan 'lahir, jodoh dan mati itu ada di tangan Tuhan. Atau singkatnya 'kodoh di tangan Tuhan' menjadi kata penghiburan untuk 'menyerah' kepada 'nasib' karena tak tahu hendak berjodoh kepada siapa. Seperti halnya kelahiran dan kematian, tergantung pada nasib. Kita tidak minta kepada Tuhan mau lahir di mana, dengan siapa, dalam kondisi apa. Kita juga tidak bisa menentukan kapan akan mati dan dengan bagaimana. Benarkah? Dalam banyak kasus benar tetapi selalu ada pengecualian. Orang bunuh diri, itu menentukan sendiri kematiannya. Sejatinya hidup adalah tentang pilihan dan konsekuensi.

Demikian juga dengan jodoh, kita memiliki kebebasan untuk memilih satu orang dari sekian banyak orang yang kita jumpai untuk menjadi 'calon jodoh' kita. Kebebasan itu termasuk kebebasan kita menyerahkan pilihan itu kepada Tuhan bahwa jika kita yakin bahwa Tuhan akan memilih seseorang untuk kita. Nanum, beranikah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dan membiarkan Tuhan berkehendak atas diri kita? Tentu bukanlah hal yang mudah menyerahkan semuanya pada Tuhan.

 Kerelaan perlu untuk mematikan keinginan/Hasrat untuk "jatuh cinta" pada orang-orang yang tampak menarik. Perlu kepekaan yang tinggi untuk mendengar suara Tuhan Ketika Tuhan sebenarnya sedang menunjukkan seseorang itulah jodoh. Bukan mustahil tetapi juga bukanlah hal yang mudah. Hati-hati, karena yang paling gampang adalah Ketika kita menemukan seseorang yang menarik hati, kemudian kita klaim bahwa itulah jodoh yang diberikan Tuhan. Lalu bagaimana Ketika di kemudian hari terjadi perpisahan, apakah Tuhan sedang tidak konsisten dengan kehendak-Nya?

Tidak perlu terlalu berani meng-klaim 'ini dari Tuhan', jika kita belum tahu bahwa seseorang itu memang diberikan Tuhan untuk kita. Bisa jadi, dan paling banyak terjadi jatuh cinta pada seseorang hanyalah keinginan semata tanpa ada yang mendasari atau hanyalah Tindakan dari podhamine di otak kita. Dophamine adalah neuotransmiter di otak kita yang memicu rasa nikmat. Jika dophamine di otak kita bekerja, kita akan mampu membayangkan kenikmatan-kenikmatan. Oleh karena itu, orang yang jatuh cinta akan mudah membayangkan ini-itu, begini begono, juga membayangkan hal-hal yang sensitive.

 Kita boleh ingin ini-itu, tetapi baik kalo kita membawa keinginan itu kepada Tuhan melalui doa. Namun harus diketahui bahwa urusan jodoh tidak semata-mata urusan Tuhan. Jika kita memang diperhatikan Tuhan, Ia tentu akan memberi kebebasan kepada kita untuk bertindak atas nama-Nya.

Urusan Tuhan sangat kompleks, tidak hanya mengurus 'jodoh' setiap manusia di bumi. Bukan mengecilkan kuasa Tuhan, karena Dia Mahakuasa, tetapi perlu usaha jika kita ingin diperhatikan oleh Tuhan termasuk urusan cinta atau jodoh. Temukan dahulu Tuhan, kaluau memang mau mendapat 'jodoh dari Tuhan'.

Dinamika 'jatuh cinta' sering terjadi sebelum nikah. Secara naluri pria akan memberikan cinta untuk mendapatkan seks dan perempuan akan memeberikan seks untuk mendapatkan cinta. Kalua hanya naluri semata, cinta dan seks akan menjadi paket komplit dalam relasi pria-wanita. Beberapa perempuan yang belum menikah secara jujur mengatakan bahwa sudah tidak gadis lagi. Demikian juga beberapa pria sudah tidak perjaka lagi. Tidak sedikit orang mengatakan seks dianggap hal yang biasa.  Ketika ada keinginan, kesempatan, menjalani hubungan tanpa memperhitungkan resiko atas pilihan itu.

Bagi perempuan, resiko yang sering kali ditanggung adalah ketika pasangan seks itu kemudian meninggalkannya, tidak lagi menjadi pacarnya atau calon suaminya. Rasa bersalah, penyesalan dan kadang putus asa akan menghantuinya. Resiko yang lain ialah kehamilan yang belum dikehendaki.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan