Mohon tunggu...
Henggar Budi Prasetyo
Henggar Budi Prasetyo Mohon Tunggu... GO A HEAD

Bandung | Sarjana Hukum | Praktisi Hukum

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Antusiasme Sambut Bulan Kemerdekaan yang Mulai Pudar?

1 Agustus 2019   21:47 Diperbarui: 1 Agustus 2019   22:04 0 2 1 Mohon Tunggu...
Antusiasme Sambut Bulan Kemerdekaan yang Mulai Pudar?
Kemerdekaan seharusnya bukan di pandang sebagai usia yang semakin lama semakin tua dan pudar, tetapi pandang sebagai suatu semangat yang terus bergelora bagaikan tongkat estafet antar generasi (ilustrasi dari pixabay.com)

Adakah yang istimewa dengan tanggal 1 Agustus? Beberapa orang mungkin akan menjawab ada dan sebagian tidak. Namun, bagi bangsa Indonesia tanggal 1 Agustus merupakan awal dari bulan kemerdekaan. Dimana di bulan Agustus tahun 1945 Indonesia berhasil mendeklarasikan kemerdekaan kepada dunia. Hal tersebut secara serta merta telah merubah status dari bangsa Indonesia menjadi negara merdeka.

Tanda-tanda dari datangnya bulan kemerdekaan adalah mulai hadirnya pedagang atribut kebangsaan salah satunya adalah bendera. Selain itu, kegiatan-kegiatan masyarakat berupa perlombaan baik mulai dari kebersihan, olahraga ataupun bentuk kegiatan lain mulai marak diselenggarakan mulai dari tingkat Rukun Tetangga (RT) hingga tingkat kecamatan pada umumnya. Malam tirakhatan (doa) untuk mengenang peristiwa kemerdekaan juga tidak kalah ketinggalan diselenggarakan.

Suasana tersebut merupakan bagian dari momen menyambut kemerdekaan. Namun, apakah anda merasa bahwa antusiasisme sambut kemerdekaan mulai menurun dari waktu ke waktu?

Menurut saya, antusiasisme itu mulai menurun terutama di kota-kota besar. Interaksi sosial yang terbatas baik akibat padatnya pekerjaan ataupun sifat pribadi yang tertutup (ego) menjadi pemicunya. Akibatnya nuansa bulan kemerdekaan yang dahulu disambut dengan suka cita dan gotong royong, sekarang tidak jarang hanya menjadi bulan yang seperti angin lalu tidak ada maknanya.

Atas kondisi tersebut merupakan tanda (peringatan) bagi kita bahwa apa yang telah melatarbelakangi kemerdekaan yaitu persatuan mulai pudar. Itu artinya kemerdekaanpun mulai diambang kepudaran. Apabila kemerdekaan itu benar-benar hilang, tentu apa yang kita nikmati sekarang akan hilang.

Kita harus akui bahwa dengan hidup sendiri terutama pekerja, kita mudah saja memenuhi kebutuhan asal ada uang. Baik makan, minum ataupun kebutuhan lainnya akan mudah saja terpenuhi. Tetapi perlu disadari bahwa kondisi tersebut merupakan warisan dari para pejuang yang telah mendorong tercapai kemerdekaan sehingga kita memiliki sistem pemerintah dan tata negara Indonesia. 

Saking terlalu menikmatinya kenyamanan kondisi saat ini jangan sampai membuat terlena bahwa ancaman penjajahan itu sudah tak ada lagi. Jika kita kembali mengingat pasca kemerdekaan tahun 1945 sebenarnya Indonesia sempat mengalami kondisi ketidakberdayaan atau dikatakan terjajah. Itu terjadi ketika krisis moneter 1998 dimana negara Indonesia tidak lagi mampu menahan gejolak perekonomian dan akhirnya harus tersungkur meminta bantuan dari lembaga donor Internasional.

Meskipun, Indonesia bisa bangkit lagi. Namun, saat ini Indonesia telah terjerat utang. Akibat utang tersebut Indonesia menjadi tidak bebas lagi dalam menetapkan kebijakan tata kelola pemerintah dan negara. Hal tersebut baru satu jenis indikasi adanya penjajahan. Selain itu, masih ada indikasi penjajahan yang terlihat dari derasnya laju impor, dimana terjadi ketimpangan antara ekspor dan impor yang lebih banyak.

Untuk itu mari untuk menyambut bulan kemerdekaan kita perlu refleksikan diri bahwa bangsa ini memang memiliki ancaman dan tantangan yang harus dituntaskan. Untuk itu, kita jangan hanya diam, saling menyalahkan ataupun bahkan saling bertikai. Tetapi mari kita refleksikan bahwa bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan yang menjadi cambuk yang mengingatkan kita untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x