Hendy Mustiko Aji
Hendy Mustiko Aji Dosen

Dosen dan Peneliti di Universitas Islam Indonesia serta Pengelola www.MustikoLogy.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Strategi Pemasaran dalam Kehidupan Percintaan

1 Januari 2018   23:10 Diperbarui: 2 Januari 2018   10:00 847 5 0
Strategi Pemasaran dalam Kehidupan Percintaan
Ilustrasi: harborlighthospice.com

Banyak yg kepingin dapat istri yang sederhana dan menerima dia apa adanya, namun strategi 'pemasaran' nya salah total.

Dalam ilmu pemasaran, ada 3 strategi dasar yg harus dipahami, yaitu: Segmenting, Targeting, dan Positioning. Ketiga ini saling berkaitan dan tidak boleh saling terlepas. Oleh karena itu banyak yg menyebutnya sebagai satu kesatuan, yaitu strategi STP.

SEGMENTING berarti membagi konsumen berdasarkan beberapa karakteristik sejenis. Dalam kasus 'memilih istri', maka wanita yg dapat dijadikan calon istri dapat dibagi menjadi beberapa segmen dgn karakteristik sejenis. Misalnya:

  • Berdasarkan FISIK nya:  
  1. Cantik
  2. Kulit putih
  3. Rambut panjang
  4. dst
  • Berdasarkan letak GEOGRAFIS (asal) nya:
  1. Jawa barat
  2. Jawa tengah
  3. Jakarta
  4. Sumatera
  5. dst
  • Berdasarkan SIFAT nya:
  1. Sederhana
  2. Nerimo apa adanya
  3. Pemalu
  4. dst

Harap diperhatikan, SEGMENTING hanya proses membagi-bagi konsumen berdasarkan karakteristik sejenis. Tidak semua konsumen yg sudah disegmen harus dilayani. Pemasar harus memilih SATU atau beberapa segmen untuk dilayani. Segmen yg harus dilayani adalah yang dirasa paling tepat, menarik dan potensial saja. Proses ini disebut dengan TARGETING.

Kalo kita bawa ke konteks mencari istri, segmen calon istri yg dilayani (ditarget) adalah segmen yg sesuai dgn kriteria dan yg berpotensi mau menerima pinangan si pria. Dalam hal ini si Pria harus berkaca pada resource yg dia miliki (internal strength). Kesalahan menganalisis internal strength akan berakibat pada kegagalan dalam proses Targeting.

Setelah melakukan Targeting (sudah memilih segmen yg dirasa paling cocok dan potensial), langkah selanjutnya adalah 'tebar pesona' kepada si target. Bagaimana caranya agar si target ini tertarik untuk membeli produk yg dijual pemasar. Bagaimana juga caranya agar dalam benak dan fikiran si target, produk pemasar punya image yg positif. Proses 'tebar pesona' ini disebut dengan POSITIONING.

Dalam konteks mencari istri, setelah mentarget segmen calon istri, si pria harus tebar pesona kepada calon istri agar calon istri mempersepsikan si pria secara positif sehingga bersedia 'membeli' tawaran/lamaran si pria.

Kita kembalikan ke masalah diawal tadi. Jika si pria men-target calon istri yg SEDERHANA dan NERIMO APA ADANYA, maka tebar pesona (positioning) nya juga harus tepat dan sesuai.

Kebanyakan pria SALAH dalam tahapan ini. Mereka pingin calon istri yg sederhana dan nerimo apa adanya tapi tebar pesona nya dengan memamerkan kemewahan.

Misal:

Ketika PDKT yg ditonjolkan barang mewah seperti mobil, uang, HP, dll. Selanjutnya, ketika melamar datang dengan mengendarai mobil supaya terlihat keren dan impresif.

Jika Anda mau calon istri yg sederhana, maka PDKT lah dengan kesederhanaan bukan dengan kemewahan. Kalau Anda PDKT dengan kemewahan, lalu calon istri menerima pinangan Anda, maka dapat dikatakan calon istri Anda bukan wanita yg sederhana. Dengan kata lain, TARGETING dan POSITIONING yg anda lakukan sudah meleset.

Bisa jadi calon istri Anda menerima Anda bukan karena cinta apa adanya kepada Anda, tapi karena mobil dan kemewahan yg selalu Anda tonjolkan. Ketika kemewahan yg ada hilang, maka hilang juga rasa cintanya pada Anda. Kasus ini banyak terjadi di sekeliling kita.

Maka mustahil bisa mendapatkan istri yg sederhana dan nerimo apa adanya jika tebar pesona nya dengan kemewahan supaya terkesan keren dan impresif.

Intinya, belajarlah strategi STP sebelum mencari pasangan hidup. Dengan kata lain, belajarlah Manajemen Pemasaran untuk hidup yg berbahagia dimasa depan

HMA

Dosen Pemasaran, FE UII