Hendri Asfan
Hendri Asfan pemalas

Twitter: @hendri_sumenep

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Anies Baswedan Difitnah Merusak Tenun Kebangsaan, Ini Jawaban Untuk Ahokers

17 Februari 2017   20:45 Diperbarui: 18 Februari 2017   01:16 3651 14 31
Anies Baswedan Difitnah Merusak Tenun Kebangsaan, Ini Jawaban Untuk Ahokers
Screenshot| Dokumen pribadi

(Bahwa pemimpin itu seperti "Cah Angon" yang memiliki kemampuan mengemong, merangkul dan memesrai siapa saja) - Dikutip dari Cak Nun yang diambil dari serat-serat sya'ir Lir Ilirnya Sunan Kali Jaga

Beberapa waktu yang lalu, dan bahkan hingga saat ini, Anies Baswedan “dihajar” habis-habisan ketika mendatangi markas FPI di Petamburan. Anies Baswedan lalu dicap sebagai “penista” tenun kebangsaan yang selama ini sering digaungkannya dalam banyak kesempatan. 

Anies dianggap telah merusak prinsip kebhinnekaan, hanya karena mendatangi markas Ormas Islam yang dianggap sering mencabik-cabik persatuan itu. Bahkan, Anies dianggap sebagai sosok yang siap mendegradasi dan menggadaikan nilai-nilai dan intelektualitasnya hanya kepentingan politik praktis.

Banyak orang “menyerang” karena rasa kecewa yang dalam. Kita tentu masih ingat bagaimana rasa kecewa yang dramatis itu diungkapkan oleh Tsamara melalui tulisan, meski banyak juga yang kemudian membalikkan apa yang dituliskannya ketika Tsamara tidak “benar-benar jujur” mengungkapkan fakta tentang Anies. Banyak pihak malah mempertanyakan ketika ia ternyata pendukung Ahok, sosok yang tak disebutkan kejelekannya dalam tulisan tersebut, seakan “tanpa cacat”.

Baru-baru ini, tulisan Rian Ernest yang “fenomenal” dan menjadi trending di twitter karena kata-kata “jongosnya”. Ia, secara dramatis pula, mengungkapkan kekecewaan yang luar biasa terhadap Anies terutama untuk jawabannya di Mata Najwa. Ia juga membuka “borok” Anies sebagai sosok yang hanya paham “secara umum”, tanpa bisa menjelaskan dan memberi jawaban “hal-hal yang terperinci”. Rian Ernest juga membuka “aib” Anies ketika bekerja dalam tim transisi.

Baiklah, kita tinggalkan keduanya karena tulisan ini tidak untuk membahas perilaku dan pemikirannya. Terlebih, Anies Baswedan sedemikian jelek di mata mereka. Keduanya “mencaci” Anies sebagai sosok yang “kutu loncat” karena rela “menghinakan” diri untuk kepentingan pribadinya. Padahal, keduanya juga sama, mereka mendukung Ahok, lalu dengan tega menjelekkan Anies di muka umum karena rasa kecewa yang dalam dan dramatis. Untuk apa? Untuk mendukung pujaan mereka; Ahok. Sama-sama praktis. Itu saja sederhananya.

Lebih dari itu, apa yang dilakukan mereka adalah representasi ketidak-mampuan mereka untuk merangkul semua pihak. Mereka membenci FPI, lalu mendiskreditkannya secara sarkas, padahal kelompok dan golongan apapun harus dirangkul sebagai satu kesatuan dalam persatuan yang utuh. Pujaan mereka, Ahok, tidak mampu melakukan itu. Ketidak-mampuan itu kemudian diolah sedemikan rupa untuk menjadi keunggulan yang dijual di pasaran dengan memanfaatkan pasukan robot yang kembali garang. Bukan hanya tidak mampu, tapi banyak orang dan pihak justeru dimusuhinya dengan arogan. Seakan, kebenaran hanyalah apa yang ada diotaknya saja.

Itulah sejatinya perusak tenun kebangsaan karena perilaku dan sikap yang ditampilkan banyak menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Rakyat terkotak-kotakkan dalam sebuah ritme yang kacau. Apakah itu pemimpin yang benar, yang bahkan, ikut berperan dalam menciptakan perpecahan?

Padahal, kalau kita kembali pada teori yang paling mendasar, salah satu kunci menjadi pemimpin yang baik adalah bisa merangkul semua pihak, semua golongan, dan semua orang. Sulit membayangkan kalau pemimpin hanya condong pada satu kelompok, dan melupakan yang lainnya pada saat bersamaan. 

Sulit dijelaskan ketika pemimpin dari melakukan “diskriminasi” secara nyata terhadap kelompok dan golongan tertentu, hanya karena mereka bukan bagian dari mayoritas (istilah yang sering dihindari Anies Baswedan). Bukankah indah ketika ada pemimpin yang bisa mesra dengan siapapun, golongan apapun, termasuk FPI? Pertanyaanya, apakah itu bisa dilakukan oleh Ahok? Lalu kenapa ketika ada (calon) pemimpin yang bisa melakukannya kemudian dinyinyiri sedemikian rupa?

Justru salah satu “kehebatan” pemimpin adalah ketika ia bisa merangkul kelompok yang dianggap “menakutkan” dan “ekstrim”, karena dengan itu, ada proses tabayun yang menjadi modal dasar untuk menciptakan stabilitas di sebuah daerah. Membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak adalah salah satu kunci suksesnya sebuah kepemimpinan. Disitulah sebenarnya kehebatan Anies Baswedan.

Bukan hanya dengan FPI, Anies Baswedan juga pernah beberapa kali mengunjungi penganut agama yang berbeda. Apa yang dilakukan Anies Baswedan sebenarnya dapat kita pahami sebagai upaya untuk menjelentrehkan suasana yang agak “panas” ketika berkaitan dengan FPI dan kelompok lain yang akhir-akhir ini “dihajar” sedemikan rupa. Padahal orang-orang yang membuat “panas” itu tidak pernah duduk dan datang langsung dalam majelis FPI, lalu membuat opini dan suasana gaduh yang tak beralasan.

Akhirnya, kita bisa memahami apa yang dilakukan Anies Baswedan masih dalam track yang lurus sebagai bentuk menjaga dan merawat tenun kebangsaan, karena bukan tugas pemimpin untuk mendiskreditkan dan mendiskriminasi kelompok tertentu, apapun jenisnya. Inilah sejatinya tenun kebangsaan itu, yang akan terus terawat hingga Anies benar-benar menjadi gubernur nanti, dan seterusnya. Bisa jadi, keberhasilan Anies menuju putaran kedua, adalah hasil dari tenun kebangsaan yang ia rawat dan jaga sepenuh hati.