Mohon tunggu...
Hendri Muhammad
Hendri Muhammad Mohon Tunggu... Welcome Green !! Email: Hendri.jb74@gmail.com

... biarlah hanya antara aku dan kau, dan puisi sekedar anjing peliharaan kita

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Fadjroel dan Pernyataan Konyol Jubir Pemerintah

30 Maret 2020   16:12 Diperbarui: 30 Maret 2020   19:55 145 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fadjroel dan Pernyataan Konyol Jubir Pemerintah
Sumber foto: Kompas.com

Entah untuk keberapa kalinya media sosial kembali dihebohkan dengan pernyataan-pernyataan dari Juru Bicara pemerintah. 

Kali ini Jubir Presiden Joko Widodo, Fadjroel Rachman, yang membuat pernyataan tegas bahwa relaksasi kredit yang diumumkan Presiden sebelumnya lebih diutamakan kepada masyarakat yang sudah dinyatakan sebagai pasien positif Covid-19.

Pernyataan Fadjroel ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan Presiden Joko Widodo terkait langkah mitigasi dampak ekonomi kepada masyarakat sebagai akibat dari adanya pandemi virus corona COVID-19. 

Salah satu langkah tersebut adalah kelonggaran pembayaran kredit kendaraan selama satu tahun bagi masyarakat yang bekerja di sektor informal seperti sopir ojek online.

Namun, apa yang dinyatakan oleh Fadjroel tidak hanya menjadi blunder, tapi merupakan pernyataan "konyol" yang menunjukkan bahwa pemerintah seolah-olah sudah menjadi rabun, bukan lagi gagap, dalam melaksanakan manajemen krisis akibat wabah Covid-19.

Semua pihak tentu berpikir bahwa statement Jokowi tentang langkah mitigasi akibat wabah ini ditujukan pada aspek ekonominya, bukan pada subjek penyakitnya, namanya juga mitigasi dampak ekonomi. Kebijakan ini dijalankan dengan menyasar mereka-mereka yang bekerja di sektor informal seperti ojek online.

Dasarnya jelas, bahwa Covid-19 bukan lagi tentang sebuah virus yang menyebabkan penyakit, tapi sebuah epidemi yang juga menghantam sektor perekonomian. Bahkan beberapa pengamat memprediksi bahwa wabah virus ini bisa berakibat pada resesi dunia bahkan bisa memicu krisis ekonomi.

Negara-negara lain sudah mempersiapkan insentif untuk menyelamatkan perekonomian mereka masing-masing. Satu yang fantastis dilakukan USA dimana Donald Trump telah mengumumkan akan mengucurkan dana sebesar 2 Triliun Dollar untuk menyelamatkan perekonomian mereka.

Sementara pemerintah kita, melalui juru bicara presiden, justru melontarkan statement yang konfrontatif dengan menegasikan apa yang sudah dinyatakan sebelumnya.

Pemerintah melalui Fadjroel seolah-olah ingin mengatakan bahwa maksud pernyataan Pak Jokowi diatas bukan merupakan insentif pemerintah untuk membantu perekonomian warga yang terdampak, melalui usahanya untuk "melokalisir" pernyataan tersebut menjadi sebuah bantuan bagi yang positif terinfeksi Covid-19 saja.

Ini agak parah menurutku, bukan hanya karena relaksasi kredit justru sangat dibutuhkan oleh para pelaku ekonomi dikondisi seperti ini, namun paket bantuan berbentuk relaksasi kredit kepada mereka yang positif terinfeksi (sampai hari ini lebih dari 1.200 orang) bukan hanya tidak tepat, tapi juga konyol.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN