Politik Artikel Utama

Gempa Lombok dan "Insinuasi Politik"

6 Agustus 2018   20:36 Diperbarui: 8 Agustus 2018   16:45 1211 5 3
Gempa Lombok dan "Insinuasi Politik"
Jokowi dan TGB. Sumber foto: ANTARA

"Jika para kritikus TGB tidak lagi menyukai Gubernur NTB, sebaiknya mulailah dengan sesuatu yang lebih elegan dibandingkan sekadar insinuasi gelap kabur bin ngawur," jauh dari cara cara cerdas dalam berpolitik.

Memainkan politik insinuasi terhadap gempa yang melanda Lombok seakan menjadi semangat sebagian kelompok tertentu untuk memburu simpati terkait kontestasi pilpres. Bagaimana tidak, nama TGB Muhammad Zainul Majdi masuk nominasi cawapresnya Jokowi di Pilpres 2019.

Ini jelas gaya picik mengaitkan bencana alam yang notabenenya "urusan Tuhan" dan juga fenomena alam Indonesia yang kerap rawan gempa. Celakanya, kelompok tertentu kerap menggunakan strategi insinuasi untuk mencerca lawan politik dalam Gempa Lombok TGB menjadi sasaran, berharap menghasilkan framing politik dari bencana alam yang jelas tidak ada hubungan sama sekali.

Insinuasi adalah suatu tuduhan tersembunyi. Meski sesungguhnya merupakan suatu tuduhan, ia dapat saja menyamarkan sasaran dan mengaburkan kenyataan (KKBI). Tujuannya agar massa yang kerap diselimuti ketidaktahuan menyerapnya begitu saja sebagai kebenaran. Sementara lawan, menjadi kelimpungan bingung dengan serangan yang tidak mendasar.

Perjalanan bangsa Indonesia dan bencana menjadi catatan sejarah, sebagaimana tahun 2004 Aceh didera bencana gempa dan tsunami dahsyat dengan ratusan ribu korban jiwa dan kehilangan materi. Kita, saya, dan Anda mungkin ada yang tercatat sebagai orang yang mengalami baik langsung atau tidak. Apa itu orang tuanya, saudara, serta keluarga besar lain. Terlalu naif jika ada pihak yang memainkan cara insinuasi ini untuk menyalurkan hasrat politik kotornya.

Jika elit politik dan orang tertentu melakukan insinuasi gempa ke urusan politik, maka yang dibutuhkan publik mengaktifkan kecerdasan alam pikirannya untuk membatasi pemaksaan ilusi terkait politisasi gempa dan bencana lainnya yang melanda Indonesia yang kerap terjadi. Tidak bisa dihindari akan tetapi peran umat manusia untuk tetap survive, mengelola dampak kebencanaan merupakan aksi nyata, sehingga orang korban yang selamat bisa terpenuhi kebutuhan darurat dari musibah yang didera.

Kritis boleh, tapi bloon jangan. Frase ini lebih tepat disematkan kepada orang yang menggunakan politik insinuasi mengaitkan bencana dan politik melalui sindiran satire dengan kalimat yang tidak berhubungan penuh konotasi negatif yang tidak membutuhkan data dan fakta untuk dipertanggungjawabkan.

Berprasangka buruk dan menjurus ke fitnah semata karena tidak faktual, yakinlah prasangka buruk akan membebani pikiran kita. Akan repot lagi jika membutuhkan pembuktian. Sebagai salah satu contoh, seperti orang yang berilusi menuduh seseorang sebagai "Kelompok Terlarang" yang akan membahayakan secara pribadi dan sosial.

Bagaimana tidak? Jika disasar dengan balasan pertanyaan lanjutan, si penuduh tanpa merasa bersalah hanya berkelit dan menyatakan hanya menduga kalau tidak percaya tanyakan langsung pada bersangkutan atau tes DNA, biarkan tugas penegak hukum dan macamlah kelitannya.

Atas ketidaktahuan atau ketidakpedulian publik yang enggan mengonfirmasi dan mencari kebenaran informasi sesungguhnya, diperparah lagi oleh elit tertentu yang memanfaatkan situasi. Sehingga membangun kekeliruan membenarkan yang salah menyalahkan yang benar sehingga langsung menjadi santapan cepat sajian publik.

Jika ada pernyataan insinuasi oleh elit orang tertentu, publik tidak perlu reaksioner, cukup luangkan waktu untuk mencari kebenaran dengan nalar tanpa harus gaduh untuk mendapatkan sajian informasi yang pantas masuk akal.

Memasuki tahun politik, tanpa disadari friksi makin melebar di antara para pendukung. Namun mengenai kebencanaan sepantasnya STOP ber insinuasi. Lain hal kritis pada penanganan pasca bencana ini merupakan keharusan atas pengalaman dan profesionalitas, silakan bagi yang memiliki kesempatan, waktu, pikiran, dan materi untuk membantu yang didera bencana.

Berlomba berbuat kebajikan, kata tepat untuk membantu saudara kita yang di Lombok. Tak perlu berinsinuasi, yang kita butuh harmonisasi, aksi derma, serendahnya sikap terhadap Gempa Lombok adalah sikap empati.

Bencana bisa datang kapanpun tanpa harus terkonfirmasi. Hari ini saudara di Lombok, bisa jadi nanti giliran kita. Mari beraksi menghadapi pascabencana untuk terus memperbaiki keadaan,

Duka Lombok duka kita.

Hendri Syafrizal

#PrayForNTB
#GempaLombok
#DukaLombokDukaKita

Meulaboh, 6 Agustus2018