Mohon tunggu...
Hendra Purnama
Hendra Purnama Mohon Tunggu... Freelancer - Seniman yang diakui negara

Penulis yang tidak idealis, hobi menyikat gigi dan bernapas, pendukung tim sepakbola gurem

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Piala Dunia 2022: Siklus Kematian Sang Matador

7 Desember 2022   10:22 Diperbarui: 7 Desember 2022   12:26 421
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mau tahu mentalitas bangsa Spanyol? Bayangkan saja sebuah kematian dan bagaimana kematian itu menjadi bagian dari kehidupan. 

Penyair besar Spanyol, Federico Garcia Lorca menuliskan ini dengan baik. Katanya, "In Spain, the dead are more alive than the dead of any other country in the world."  Karena itulah, orang Spanyol tidak takut akan kematian, sebab kultur dan budaya yang ditanamkan selama ratusan tahun sejarah bangsa membuat mereka menyadari bahwa kematian sudah berkelindan dalam setiap sendi kehidupan mereka.

Saking akrabnya dengan kematian, bahkan hiburan rakyat di sana pun adalah konsep menantang kematian. Matador. Kita semuatahu bahwa pada acara itu, para toreros rela menyabung nyawa melawan serudukan-serudukan banteng. Memang benar, lebih banyak kisah mereka menang, tapi bukan berarti para matador itu aman. Tercatat matador terakhir yang meninggal adalah Ivan Fandino pada 2017. Fandino menambah list lebih dari 500 matador yang meninggal "dalam tugas"

Bahkan jika mereka tidak meninggal pun, selalu ada resiko cacat permanen. Pada 2011 Juan Jos Padilla terkena tandukan banteng hingga kehilangan mata kiri, telinga kanan rusak, dan wajahnya lumpuh. Hal ini dibilang lumrah dan sudah menjadi risiko, bahaya ini dikatakan merupakan inti dari sifat dan daya tarik adu banteng.

Tidak heran jika di setiap arena adu banteng, kita bisa menemukan kapel tempat seorang matador berdoa, dan melakukan sakramen. Sakramen yang paling sering dilakukan oleh seorang matador adalah Extreme Unction atau Last Rites, ritus terakhir. Dari sini saja jelas para matador itu menyadari bahwa kematian mungkin saja sedang ada di depannya, dan sekarang mereka akan bermain-main dengan itu. Ernest Hemingway pernah mengatakan bahwa adu banteng adalah satu-satunya seni di mana senimannya berada dalam bahaya kematian, dan di mana tingkat kecemerlangan pertunjukan diserahkan kepada kehormatan petarung.

Dengan menyadari atau bahkan sampai "mengalami" proses kematian—seperti yang terjadi pada Jos Padilla—bangsa Spanyol diajarkan untuk selalu bangkit. Itulah kenapa hanya lima bulan setelah insiden mengerikan yang dialaminya, Padilla telah kembali ke gelanggang adu banteng lagi dengan penutup mata dan beberapa plat titanium menempel di tengkoraknya. Padilla mencoba bangkit lagi, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

Luis Surez Miramontes, legenda sepak bola Spanyol yang membawa negaranya juara Piala Eropa 1964 paham betul tentang mental ini. Peraih Ballon d'Or 1960 yang sepanjang tahun 50-70 an malang melintang di Barcelona dan Inter Milan tersebut menegaskan bahwa mentalitas toreros memang berurat berakar dalam tim Spanyol, "Seperti pemain Brazil tidak bisa lepas dari Samba, demikian pula kami tidak bisa lepas dari mentalitas toreros." Ujarnya.

Dengan mentalitas ini pula Spanyol datang ke Piala Dunia Qatar 2022. Rekor mereka bagus di kualifikasi, menjadi juara grup B dengan mencetak 15 gol dan kebobolan lima. Hanya sekali "kepeleset"1-2  ketika meladeni Swedia di Stockholm, dan sekali seri 1-1 dengan Yunani di kandang sendiri. Tapi sisanya Spanyol melesat kencang. 

Bahkan di partai pembuka, mereka tidak tanggung-tanggung menggulung Costa Rica 7-0.

Namun siapa yang sangka jika kemenangan 7-0 itu seolah menghabiskan seluruh keberuntungan Spanyol dan menandai perputaran siklusnya. Andai saja keberuntungan itu bisa dicicil, saya yakin Spanyol lebih suka menang 3-0 lawan Costa Rica, sementara sisa empat gol yang lain dicicil dan dibagi-bagi saat menghadapi Jerman, Jepang, atau bahkan Maroko.  Sebab jelas setelah kemenangan besar itu, mesin Spanyol seperti macet. Mereka seolah lupa cara membuat gol, yang mereka ingat hanya oper-operan saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun