Mohon tunggu...
Hendra Fokker
Hendra Fokker Mohon Tunggu... Guru - Pegiat Sosial

Buruh Kognitif yang suka jalan-jalan sambil mendongeng tentang sejarah dan budaya untuk anak-anak di jalanan dan pedalaman. Itu Saja.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Geger 65 dalam Perspektif Sosial/Politik

30 September 2022   05:30 Diperbarui: 30 September 2022   08:55 1463 20 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokpri. Lubang Buaya, Jakarta

Pagi itu kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Lubang Buaya bersama-sama. Tidak lain adalah untuk memperkenalkan si kecil mengenai kisah kelam yang pernah terjadi di masa lalu. Mungkin baru kali ini ia bermain ke museum, walau sebenarnya ia lebih suka bila diajak hiking ke gunung.

Bagi kami, kisah mengenai pemberontakan "kaum merah" memang telah menjadi kisah sejarah yang tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan hidup ini. Jika memang dahulu diantara keluarga kami ada yang menjadi korban dari huru-hara PKI di Kediri, maka bisa jadi kami tidak akan ada di dunia ini.

Seraya menuangkan tulisan lama, yang pernah dibuat ketika melakukan penelitian mengenai "Kisah Petualangan Tan Malaka di Kediri" pada tahun 2016 silam. Walau kisah mengenai geger '65 kali ini hanya dapat disajikan dalam bentuk ulasan singkat. Semoga dapat menambah pemahaman kita terkait peristiwa kelam ini di masa lalu.

...

Di Kediri.

Pun fakta-fakta mengenai berbagai aksi kekerasan komunis yang terjadi di Kediri ketika itu, yang hingga kini masih dapat ditemui dari berbagai kisah yang kerap dituturkan oleh para sesepuh desa. Khususnya menjelang prahara di tahun 1965. Maka, jika kini banyak yang berupaya memutarbalikkan fakta, hal itu dapat ditengarai karena faktor kepentingan sepihak dan kelompok semata.

Memang banyak rakyat menjadi korban dari prahara politik yang kala itu tengah berkecamuk. Masa-masa "pembersihan" terhadap kaum komunis usai geger '65, faktanya juga banyak terjadi diluar batas kemanusiaan. Walau semuanya berangkat dari berbagai aksi kekerasan yang dilakukan oleh PKI terhadap lawan-lawannya, kala mereka menguasai panggung perpolitikan Indonesia.

Seolah, geger '65 menjadi titik balik bagi masyarakat yang selama ini merasa diintimidasi oleh kelompok komunis. Bahkan, kala itu, aksi balasan tersebut dapat dikatakan wajar, karena memang kondisi politik yang berbalik. Istilah, "siapa berani menabur angin, harus berani menerpa badai" adalah konsekuensi politis dan logis, yang kala itu mau tidak mau harus diterima oleh para anggota PKI.

Bahkan beberapa waktu usai geger '65, masih banyak aksi sepihak yang dilancarkan simpatisan PKI di beberapa daerah. Seperti aksi-aksi kekerasan yang terjadi di Trenggalek, Blitar dan Tulungagung. Ada semacam peribahasa, "bila tidak membunuh tentu akan dibunuh", hal yang berlaku bagi kedua belah pihak.

Pada beberapa kasus, ketidaksenangan secara personal juga kerap dijadikan alasan untuk saling memberikan intimidasi. Baik pra dan pasca '65. Dapat dibayangkan, betapa kerasnya konflik sosial yang terjadi kala itu. Semua dalam suasana mencekam, dan saling curiga antara satu dengan yang lainnya. Apalagi jika berbeda latar belakang politik dan ideologinya, semua pihak saling waspada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan