Hendra Fahrizal
Hendra Fahrizal

Hendra Fahrizal, berdomisli di Banda Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Trik Memilih Videografer Pesta Pernikahan

11 Maret 2018   13:50 Diperbarui: 12 Maret 2018   20:40 895 3 1
Trik Memilih Videografer Pesta Pernikahan
sumber gambar: pexels.com

Beberapa  waktu yang lalu seorang pesohor menikah di Aceh. Beberapa teman  bertanya, kok bukan kamu yang mendokumentasi video wedding-nya.

Sekarang kalimat, saya jawab, "Emangnya saya pemilik Banda Aceh, semua wedding harus pakai jasa saya."

Maklum saja mereka bertanya demikian, karena, nyombong dikit ya, ada  sebagian orang-orang "penting" yang anaknya menggunakan jasa saya,  termasuk sekali waktu mendapatkan sub pekerjaan untuk mendokumentasi  kegiatan Tenda Cinta Kahiyang-Bobby, untuk pernikahan anak presiden  Jokowi di Medan.

Alasannya untuk tidak sesuai harapan mereka yang bertanya tentu dapat  saya jelaskan dengan mudah, selain karena sistem jasa seperti itu  menggunakan pola pendekatan personal, seperti fotografer saudara atau  tetangga si pengantin, atau sudah berlangganan, atau kerabat kantor ayah  si pengantin, dan lain sebagainya, juga ada alasan internal saya, yaitu  bahwa pada 2018 ini saya berusaha mulai tidak fokus lagi di wedding. Wedding hanya saya buka 1 pekerjaan setiap bulan dan hanya di awal  tahun. Begitu pula APBA diketuk (biasanya pada Maret-April), saya  langsung fokus ke pekerjaan dinas.

Alasan terakhir, nah ini yang akan kita akan bahas panjang,  pekerjaan-pekerjaan pernikahan itu, khususnya untuk pelanggan menengah  atas, biasanya ada sebuah ketidaknyamanan yang rada melanggar prinsip,  dan bagi saya itu rada krusial.

Apa itu?

Kaum menengah atas, biasanya segala urusan pernikahan mereka  diserahkan kepada penyelenggara pernikahan atau wedding organizer (WO). Tidak mau ribet dan ingin terima beres adalah alasan utama. WO yang  diminta mengatur semua kebutuhan, mulai dari pelaminan, make-up, foto, video,  gedung, catering. Semua.

Nah, urusan dengan WO inilah yang bikin saya malas untuk menggarap wedding. Saya memiliki pengalaman bekerja sama dengan beberapa WO yang  lancung. Salah satunya adalah masalah harga. Mungkin lebih nyaman, jika  ada WO yang nanya penawaran kita, lalu misalnya kita memasukkan angka  rupiah wedding-nya ke dia, misalnya 10 juta. Urusan kemudian dia memark-upnya adalah urusan dia. Tentu kita paham WO juga butuh fee.

Tapi, yang jadi masalah adalah, menarik fee dengan jumlah yang tak  wajar, atau berbohong dengan nilai jasa sebenarnya. Itu yang bikin  kepala saya panas. Kalau misalnya, harga kita sepuluh juta, lalu dia  memark-up 500 ribu atau satu juta, itu sih gak masalah. Tapi yang  terjadi, WO menjatah bahwa dia hanya punya uang untuk videografi senilai  6 juta, lalu dia meminta-minta tolong dengan alasan bahwa budget memang  minim dengan segala alasan.

Karena kita berpikir keberlanjutan sebuah kerja sama yang baik, dan  mengira memang menilai budget-nya memang segitu, ya kita terima dengan  melakukan beragam penyesuaian dan penghematan. Tapi, belakangan, kebongkarlah kedok ternyata si WO mematok jasa videonya itu adalah jauh  diatas nilai 6 juta itu. Misalnya memang 10 juta, seharga penawaran  kita. Dia menilep 4 jutanya. Itu sungguh kampret, saudara-soaudara. Masalahnya, dengan harga 6 juta, kita sudah melakukan beragam penyesuaian, mengurangi ini dan itu, sehingga juga mengurangi kualitas. 

Sementara, klien, dengan membayar 10 juta, mereka akan mengira kita  mengerjakan pekerjaan dengan kualitas 10 juta. Disinilah bentrok sering  terjadi, klien komplain, kenapa kualitasnya kok tidak seperti contoh  video. Nilai pembayaran video itu bukan sering kebongkar disitu. Saya  tentu saja akan berkata seadanya bahwa jasa saya dibayar jauh dibawah  standar. Klien marah pada WO. WO marah pada saya. Kerja sama bubar. Klien  tidak pernah pake WO itu lagi. WO itu tidak pernah pake jasa saya lagi.  Haha.

Walau tidak semua EO demikian, saya jadi hati-hati bekerjasama dengan  WO. Setidaknya benar-benar melihat track record EO itu. Terlebih WO-WO  besar yang biasanya dipakai oleh para orang kaya yang menikahi anaknya.  Walau pada akhirnya tak mendapat pekerjaan-pekerjaan 'wah', ah bodo  amat, yang pasti semua orang akan mendukung langkah saya, karena  saya...benar.

Permasalahan kedua, fotografer. Sebelum mencari videografer, biasanya  mereka mencari fotografer dulu. Biasanya ini terjadi di kaum menengah,  yang tidak menggunakan jasa WO. Mereka biasa akan bertanya ke  fotografer, karena menganggap kedua profesi ini berada di satu  komunitas. Fotografer ini, biasanya, kalau tidak menggarap sendiri  videografinya, dia akan melempar pekerjaan ke pihak lain, dengan satu  syarat; minta fee.

Nah ini dia juga yang saya nggak demen. Saya pernah menasehati  seorang fotografer. "Kalau memberi pekerjaan, jangan minta fee, karena  suatu saat saya juga akan memberikan kamu pekerjaan dan saya tak akan  minta fee. Kalau kamu minta fee ke saya, maka saya tentu akan memark-up  biaya jasa saya agar ada alokasi dana fee untukmu. Itu akhirnya bikin harga jadi melejit dan menjadi terlihat mahal bagi klien, dan bisa saja  klien memutuskan tidak menggunakan jasa kita."

"Begitu juga sebaliknya  bila saya melakukan hal yang sama, yaitu minta fee dari kamu. Harga kamu  jadi mahal dan ia malah akan beralih ke fotografer lain. Lebih baik, sistem kerja samanya diubah, sistem saling merekomendasi tentu lebih  tepat, kamu rekomendasikan saya, saya rekomendasikan kamu di lain waktu. Keuntungannya disitu. Kamu jadi dapat kerja. Tapi kita tak perlu harus  menaikkan harga untuk alokasi fee. Kan lebih cerdas." Begitu kata saya  ke seorang fotografer yang belakangan suka melamun sendiri karena  kebanyakan makan duit fee."

Kedua hal diatas, tentu saya harapkan menjadi pertimbangan dari  seorang calon pengantin yang hendak melaksanakan pesta, bila kalian  hendak mencari sebuah jasa, lebih baik cari sendiri, kalian akan  terlepas dari jerat fee yang dibuat oleh WO dengan vendor lain atau  fotografer dengan vendor video lain, yang membuat kalian secara tidak  sadar, harus merogoh kantung untuk sebuah harga jasa yang lebih mahal.