Mohon tunggu...
Hendi Supriatna
Hendi Supriatna Mohon Tunggu... Pegiat Dakwah

Bebas berpendapat sebebas-bebasnya. Email : hendisupriatna4@gmail.com Twitter : @hendisupriatn10 Instagram : @hendisupriatna07

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Masyarakat! Sehat Itu Mahal

19 Oktober 2019   04:37 Diperbarui: 19 Oktober 2019   04:38 0 5 1 Mohon Tunggu...
Masyarakat! Sehat Itu Mahal
Sumber: Tirto.id

Jika kita sehat, maka bebas untuk melakukan apapun. Kita bekerja, berolahraga, senam, ngurus keluarga dan berpikir untuk bangsa. Tidak bisa dikerjakan jika kondisi kita tidak sehat. Masyarakat perlu menanamkan pola hidup sehat. Agar kemudian hari bisa merasakan hidup lebih panjang dan bermanpaat. Tapi masyarakat apakah sadar tentang hal itu. 

Aku masih teringat setahun yang lalu Ibuku meningggal. Dia terkena gagguan rahim akibat pola makan yang tidak teratur. Pada waktu itu, ibu ku sedang sakit. Lebih sedih lagi didalam perut Ibuku ada sibayi yang belum lahir. Akan tetapi yang lebih sedih Ibuku tidak bisa melihatku memakai toga wisuda karena impiannya.

Pada waktu itu aku terpukul. Aku masih kuliah tahun pertama dengan begitu Ibuku meninggalkan aku selaamanya. Aku berpikir pada waktu itu ohh mungkin aku kuliah sampai disini saja. Karena kuliah bagiku tidak lain hanyalah untuk ibuku. Ayah dan Ibuku seorang petani dari seluruh keluarga besarnya hanyalah aku yang bisa kuliah sampai jenjang tinggi. Sampai mendapatkan beasiswa. 

Beasiswa yang didapatkan kala itu hanyalah sia-sia belaka. Karena bagiku Ibuku adalah segalanya. Kehidupan yang miskin tinggal disebuah desa memungkinkan hidup yang sederhana. Melihat keamaian kota yang begitu pesat dan tidak tau epeknya. 

Ibuku meningggal pada saat mau dibawa kerumah sakit dr. Selamet Garut. Ketika sampai dirumah sakit itu Ibuku menghembuskan napasnya untuk terakhir kali. Terpukul rasanya aku sudah dapat beasiswa tapi aku tidak dilihati oleh Ibuku tercinta. Harapan dan impian dimataku hanyalah sampah yang tidak bisa mencapainya. 

Kehidupan miskin dan makanpun biasa saja. Ibuku selalu berkerja kasar tiap hari. Dia bertani dan berkebun setiap hari. Pekerjaan laki-lakipun ia lakukan. Karena dia selalu bersemangat untuk anak-anaknya tercinta. Dia bercita=cita semua anaknya bisa sekolah tinggi tidak sama seperti ibu yang hanya sekolah SD pun tidak tamat. 

Dengan keterbatasan Ibuku dan semangat Ibuku akhirnya aku bisa kuliah. Dengan beasiswa yang didapatkan aku bisa menyelesaikan kuliahku sampai akhir. Akan tetapi yang pada akhirnya aku bisa pada sampai semester akhir. 

Kekurangan Ibuku hanyalah dalam segi pola makan yang tidak sehat dan tidak teratur. Dia jarang makan karena Anaknya yang didahulukan untuk makan. Dia rela tidak makan demi anaknya. Karena itulah penyakit dalam perut ibuku sampai mengakibatkan meninggal dunia. 

Solusinya adalah marilah kita semua mengingatkan kepada keluarga, masyarakat dan kerabat. Untuk menjaga pola makan dan hidup. Karena itulah aset yang paling berharga adalah ibuku selagi hidup. Karena dialah aku bisa sampai kuliah sampai tinggi. Karena dialah aku bisa dikampus terbaik di Bandung. Akan tetapi Ibu ku kurang dalam menjaga makannya. Dia rela tidak makan hanya sebuah anaknya untuk bisa kuliah. 

Kita jaga dan ingatkan pada mereka. Bahwa menjaga kesehatan adalah aset yang paling penting. Jika kita tidak sehat bagaimana agar aset kita bisa bergerak. Karena itulah aset kita bergerak yaitu dengan kesehatan. Hal itulah mesti kita sadarkan terhadap masyarakat. Bahwa sehat itu mahal. Kita bisa bekerja karena sehat. Kita bisa beraktivitas karena sehat, kita bisa kemana-mana karena sehat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x