Mohon tunggu...
Hendi Supriatna
Hendi Supriatna Mohon Tunggu... Pegiat Dakwah

Bebas berpendapat sebebas-bebasnya. Email : hendisupriatna4@gmail.com Twitter : @hendisupriatn10 Instagram : @hendisupriatna07

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Secangkir Kopi dan Dunia Baru

11 Oktober 2019   04:09 Diperbarui: 11 Oktober 2019   04:12 0 1 1 Mohon Tunggu...
Secangkir Kopi dan Dunia Baru
Facebook/ Aida Ramadhona

Jika kopi bisa menenangkan jiwamu. Lalu tunggu apalagi ketika harapan akan dunia baru sudah didepan mata. Ketika satu seduh kopi bisa menghadirkan revolusi tunggu apalagi cepatlah meminum. Agar Revolusi akan suatu perubahan bisa terjadi. Kecepatan itu sudah ditunggu oleh orang yang lapar yang sedang bekerja.

Dalam dunia kampus ngopi adalah salah satu menyehari. Tidak sampai jika mahasiswa tidak sempat dengan ngopi terlebih dahulu. Ngopi sudah jadi bagian terpenting dalam kehidupan kampus. 

Ketika berdialog atas harapan baru bangsa. Yang setia menemaninya hanyalah kopi hangat. Berdialog sampai larut malam pun tak pernah lupa. Hingga sampai pada matahari terbit tiba.

Ketika malam pun dihabiskan dengan ngopi. Maka seketikapun perubahan bangsa bisa terjadi. Megandalkan secankir kopi untuk berdialog dan berdiskusi untuk mewujudkan suatu pengaharapan. Dunia baru, negara baru samapai kebahagian akan dunia.

Kita bisa beraduargumen dengan ladasan rasional yang jelas. Dimana kita dibebasakan akan kebebasan berpendapat. Dimana kebebasan tersebut diberi ruang. Kita tau dan sadar bahwa untuk menciptakan ruang seperti itulah yang mestinya diciptakan.

Berdialog dan saling lempar argumen yang dbutuhkan. Lempar wacana sana sini bisa menjadi makanan menyehari. Sampai dor-dar wacana hinggga tengah malam. Semua itu kita persiapkan dengan matang. Dengan membaca setiap hari untuk mempertahankan argumentasi kita.

Silat lidah dan bertukar pikiran rasanya surga bagi bangsa. Bagaimana merubah suatu perubahan negara yang lebih baik. Kita tidak ada lagi saling bermusuhan antar sesama manusia. 

Kita tidak menemukan konflik antar individu. Kita tidak menemukan lagi ermusuhan atar golongan. Kita tidak bisa menemukan lagi permusuhan atar partai dan samapai tidak menemukan lagi permusuhan atar agama.

Yang kita lihat hanyalah kebahagian. Kita tidak saling lagi bermusuhan atar golongan, individu, agama, ekonomi, politik dan kepercayaan. Kita akan mudah menemuinya dari pada yang seperti diatas banyak permusuhan.

Kebahagian yang kita dapatkan. Kita semua bisa saling duduk bareng. Dan berpesta setiap malam dalam relung kebahagian yang tak terbatas. Semua orang cinta sesamanya. Tidak ada lagi sikaya simiskin. Tidak ada lagi ini anak ajengan ini anak presiden, ini anaknya menteri, ini anaknya guru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
11 Oktober 2019