Mohon tunggu...
Hendi Supriatna
Hendi Supriatna Mohon Tunggu... Pegiat Dakwah

Bebas berpendapat sebebas-bebasnya. Email : hendisupriatna4@gmail.com Twitter : @hendisupriatn10 Instagram : @hendisupriatna07

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kritik atas Film "The Santri"

23 September 2019   01:13 Diperbarui: 23 September 2019   03:08 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kritik atas Film "The Santri"
Twitter/Prof. Bubuk Kopi

Baru-baru ini yang menjadi trending yaitu film yang tayang dibioskop. Film tersebut belum ditayangkan tapi banyak kontro versi. Film tersebut apakah benar-benar menunjukan kehidupan pesantren yang sebenarnya. Jangan-jangan hanya politik perjuangan identitas saja.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan ''Film drama ection yang bisa mengandung nilai-nilai islam yang santun, toleran, ramah, pulrel dan islam bahwa budaya ahlakul karimah peradaban. Jauh dari islam radikal islam ekstrim apalagi islam teror. Islam yang sebenarnya dari salam, shalom, peace''. 

Kita bisa lihat, dalam vidio Trailer film "the santri" seorang muslim yang masuk greja. Yaitu sosok wirda mansur yang masuk greja membawa nasi tumpeng. Akan tetapi menurut Ust Abdul Somad dalam cuplikan Vidio youtube " Haram hukumnya seorang muslim masuk kedalam rumah ibadah orang lain".

Karena pada Nabi pula tidak mau masuk kedalam rumah ibadah orang lain. Karena pada waktu itu dia sudah tau ada patung berhala, Lanjutannya.

Kemudian beberapa orang menolak film tersebut. seperti Habib Hanif, KH Lutfi Bashori, dan Ustadz Maher At-Tuwalibi.

Akan tetapi sebagai sebauh karya seni, film bisa ditolak ketika tidak lolos sensor oleh lembaga penyensor film. Kita bisa lihat apakah nanti bisa lulus atau tidak. Tapi persoalannya bukan disitu. Makna yang terkandung dalam sebuah film itu seperti apa.

Dalam pasal 6 UU 33/2019 tentang perfilman, yang menjadi unsur poko perflman dilarang mengandung seperti,

Mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainya. Menonjolkan pornografi, memprovokasi terjadinya pertentangan antar kelompok, antarsuku, antar-ras, dan atau antar golongan. Menistakan melecehkan dan menodai nilai-nilai agama, mendorong khalayak umum melakukan tindakan hukum, atau merendahkan harkat martabat manusia.

Jika dikaji lewat persoalan hukum perundang-undangan film tersebut akan layak tonton. Akan tetapi persoalan moral yang diajarkan Nabi. Apakah Nabi membiarkan seorang yang belum mahram berduaan. Seperti yang dicontohkan dalam film tersebut. Yaitu ketika dihutan itu merupakan contoh yang kurang baik. Jika itu tidak menunjukan seorang santri yang jelas. Santri sebenarnya tidak mungkin melakukan seperti itu.

Kemudian ketika seorang santri masuk greja. Seorang muslim mestinya bisa membedakan. Mana persoalan akidah dan mana masalah sosial. Jika itu masalah sosial berhubungan baik terhadap non islam juga harus saling menghormati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2