Mohon tunggu...
Hendi Supriatna
Hendi Supriatna Mohon Tunggu... Pegiat Dakwah

Bebas berpendapat sebebas-bebasnya. Email : hendisupriatna4@gmail.com Twitter : @hendisupriatn10 Instagram : @hendisupriatna07

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pertarungan Politik Kampus

16 September 2019   07:35 Diperbarui: 16 September 2019   07:37 0 2 1 Mohon Tunggu...
Pertarungan Politik Kampus
Facebook/Muhammad Azwad Mirwad

Kampus merupakan miniatur negara. Tempat mahasiswa mengekspor sebebas-bebasnya. Demokrasi dan gerakan awal sebagai pertarungan dikampus. Mahasiswa dituntut akan hal itu. Mereka bebas dengan segudang pemikirannya. Dengan hal itu, mampukah mahasiswa mengakomodir tentang sebuah perubahan.

Kehidupan kampus juga tidak terlebih dari unsur kepetingan. Semenjak saya masuk kampus. Pertarungan ideologi pun dimulai. Dari mulai memperbanyak kader sampai pada isu radikalisme. Semua dinamika tersebut memang suatu gramatikal.

Alih-alih setiap lini organ memperbesar egonya masing-masing. Bisa dikatakan sebagai jago kandang. Tapi apakah mereka mampu menyuarakan. Tentang suatu idealisme yang dimilikinya. Apalagi nilai kebenaran, mampukah tuk menyatakan.

Organ ekstra menjadi penentu, arah gerak intra kampus. Memang setiap organisasi mahasiswa intra kampus terkuasai. Untuk menguasai intra kampus. Mereka sibuk dengan memperbanyak kader. Disisi lain, targetannya adalah proyek-proyekan lagi.

Kalau mahasiswa semacam itu, apabedanya dengan politisi brengsek. Yang menghisap kekayaan negara dengan kekuasannya. Dalih yang mereka lakukan mengatasnamakan rakyat. Akan tetapi mereka dikemas memalui kepetingan dan kekuasan untuk meraup segala keserakahan.

Pengkaderan sebagai metode baru, untuk menciptakan seperti diatas. Sistem siperti ini memanipulasi dan dikemas dengan dakwah dan transpormatif pengetahuan. Akan tetapi dengan semua itu mereka bukan lagi kepentingan bersama. melainkan hanya kepentingan kelompoknya.

Untuk mencapai pada kekuasan dan penghisapan. Maka mereka berlomba-lomba untuk memperbanyak kader. Sehingga pengkaderan itu menjadi penentu kesuksesan. Suksesnya penghisapan dan proyekan sebagai tujuan yang mereka agendakan.

Semua organ ekstra, berkerja dengan cepat dan terarah. Mereka mendoktrin maba-maba yang polos. Mereka saling menghujat  sesama organ ekstra. Mereka mendoktrin bagaimana agar mahasiswa baru megkalim. Atas organisasi bukan miliknya. Mereka disana terjadi saling menghujat dan saling menjelekan.

Kita bisa tau, dari setiap kampus apakah setiap organ ekstra bersatu. Apalagi organ intra mereka hanya patuh dan tunduk sebagaimana halnya petugas partai. Meskipun disini penulis kurang sepakat dengan artian petugas partai. Tetapi kenyataan kaya gitu. Bahwa pergerakan organ ekstra seperti robot yang ada remotnya dari belakang.

Permainan seperti itulah, yang dilakukan oleh para aktivis kampus. Mereka bersaing untuk kekusaan. Karena kekuasan bisa menghisap segalnya. Dengan kekuasan mereka bisa lancar untuk merebut beasiswa. Dalih yang mereka tawarkan dalam pengkaderan juga suka disodorkan dengan iming-iming beasiswa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2