Hendi Setiawan
Hendi Setiawan Blogger

Senior citizen. Pengalaman kerja di bidang transmigrasi, HPH, modal ventura, logistik, sistem manajemen kualitas, TQC, AMS, sistem manajemen lingkungan dan K3, general affair, procurement, security. Beruntung pernah mengunjungi sebagian besar provinsi di Indonesia dan beberapa negara asing. Gemar membaca dan menulis. Menyukai sepakbola dan bulutangkis. Masih menjalin silaturahmi dengan teman2 sekolah masa SD sampai Perguruan Tinggi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Tol Jagorawi, Selangkah Lagi Mungkin Gratis

8 September 2017   16:05 Diperbarui: 9 September 2017   17:39 7960 2 1
Tol Jagorawi, Selangkah Lagi Mungkin Gratis
tarif-toll-jagorawi-jauh-dekat-rp-6500-59b25de4830de03b206af402.jpg

Sekilas Jagorawi Tempo Dulu

Jalan tol Jagorawi, Jakarta - Bogor - Ciawi, jalan tol pertama di Indonesia, yang dibangun oleh kontraktor utama dari Korea Selatan.

Jalan yang diresmikan pertengahan 1978 ini benar-benar berkualitas jalan tol, sangat halus jalannya, sangat nyaman dilalui saat berkendara. Bahkan gosipnya dapat didarati oleh pesawat tempur TNI AU.

Selain kualitas jalan yang secara awam saya sebut mulus, kendaraan yang lalu lalang di Jagorawi juga masih sepi. Apalagi di atas pukul 8 malam. Tahun 1985 mobil saya pernah mogok kehabisan bensin di Jagorawi. Lokasinya sekarang sekitar 4 Km menjelang gerbang Cimanggis Utama. Sulit mencari bantuan saat itu sore menjelang maghrib, alhamdulillah akhirnya mendapat mobil tebengan, rencananya saya minta diturunkan di Cibubur. Namun menjelang Cibubur ada mobil patroli Jasa Marga yang mau dimintai pertolongan untuk mencarikan bensin. Singkat kata saya dapat menjalankan kembali mobil menuju Jakarta atas bantuan petugas Jasa Marga. Penggalan cerita ini hanya untuk menggambarkan sepinya Jagorawi pada tahun 1978 hingga 1980-an.

Selain kualitas jalan tol yang mulus, bahu jalan juga masih ditaburi pasir. Sehingga jika kendaraan berjalan di bahu jalan akan terasa tidak nyaman. Jalan arah ke Bogor dan jalan arah ke Jakarta masing-masing hanya dua lajur dipisahkan median berupa lahan kosong berumput menyerupai parit landai dan dangkal.

Tahun 1978 saat diresmikan Presiden Suharto, Jagorawi baru beroperasi sampai Cibinong saja, baru tahun 1979 atau 1980 seluruh ruas jalan Jakarta (Cawang) - Bogor - Ciawi beroperasi penuh.

Jagorawi padat kendaraan
Entah mulai tahun berapa Jagorawi mulai padat kendaraan. Tahun 1990an sudah cukup ramai dan makin hari makin padat, terutama pada pagi, sore dan Sabtu - Minggu. Antrian kendaraan mulai mengular antre di gerbang tol Taman Mini. Selewat Taman Mini lalu lintas lancar sampai Bogor.

Beberapa tahun kemudian mungkin berdasar analisis PT Jasa Marga, kemacetan antara Cawang - Taman Mini diatasi dengan memindahkan gerbang tol utama ke Cibubur untuk arah ke Bogor dan dibangun gerbang Cimanggis Utama untuk pengganti gerbang tol Taman Mini.

Pemindahan gerbang utama ke Cibubur dan Cimanggis sukses mengurangi kemacetan di jalan tol sekitar Taman Mini. Namun kemacetan pada sore dan malam hari pindah ke Cibubur untuk arah ke Bogor dan kemacetan pada pagi hari parah menjelang Cimanggis Utama, malahan terus sampai Cawang dan seterusnya.

Selangkah lagi Jagorawi gratis?
Dalam rangka mengatasi kemacetan menjelang gerbang utama Cibubur dan Cimanggis, mulai hari Jumat, 8 September 2017 PT Jasa Marga "meniadakan" gerbang Cibubur dan Cimanggis. Pengguna Jagorawi dari arah Jakarta menuju Bogor langsung bayar di Bogor. Sebaliknya pengguna Jagorawi yang menuju Jakarta cukup membayar biaya tol di Bogor atau di pintu masuk lainnya. Untuk kendaraan golongan I tarifnya sama Rp 6500 tanpa melihat jarak lagi.

Apakah sistem terbuka yang diterapkan PT Jasa Marga akan berhasil menekan kemacetan di Jagorawi? Logikanya kemacetan di sekitar Cibubur dan Cimanggis mestinya teratasi. Kepadatan akan pindah ke gerbang tol Bogor dan Ciawi, baik untuk arah ke Jakarta maupun arah ke Bogor dan Ciawi.

Satu hal lagi untuk memperlancar arus lalu lintas di gerbang tol, PT Jasa Marga mulai Oktober 2017 mewajibkan transaksi non tunai, pengguna jalan tol wajib menggunakan e-toll atau e-money dan sejenisnya.

Bagaimana kalau kendaraan masih padat mengular sampai Cimahpar atau Baranangsiang? Tentu akan makin bikin macet Baranangsiang dan sekitarnya. Gadog Ciawi juga berpotensi tetap macet pada hari libur.

Siapa tahu untuk mengatasi potensi macet itu selanjutnya gerbang tol Bogor dan Ciawi "dihapus" juga, artinya Jagorawi gratis hehehe.