Mohon tunggu...
Hend.Setya
Hend.Setya Mohon Tunggu... Penulis Newbie

Novel AL terbit setiap hari Jumat || Contact Penulis : hsetiawan.id@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bab 19 | Kapal Penangkap Ikan

20 Maret 2019   23:33 Diperbarui: 20 Maret 2019   23:51 0 0 0 Mohon Tunggu...

Kira-kira sosok laki-laki dewasa ini berusia 40-an tahun. Berjubah kelabu, sedikit kumal dan sedapat-dapatnya 7 robekan kecil tampak di sepanjang potongan kain hingga ke lutut.  Sebagai pendatang, tidak banyak warga nagari yang mengenal pasti Fang secara personal.

Bermukim di pinggiran desa, jauh dari riuh rendah floating market nagari Wind yang terkenal. Harus diakui, sulit untuk menemukan Fang terlebih bukan warga nagari Wind. Satu-satunya petunjuk adalah adanya tugu kecil yang menandakan kediaman Blacksmith master dari Wind ini sudah dekat.

Fang memiliki AL bernama Fela - yang ia dapatkan sebagai hadiah dari anaknya yang mati di perang ke-7. AL dengan kemampuan luar biasa di matanya, diantaranya  kemampuan mengeluarkan cahaya laser dan food sensor. Kemampuan yang tidak terduga mengingat Fela adalah kucing berbulu putih panjang, wajah bulat dan berhidung pendek.

"Ini pertama kalinya aku naik kapal penangkap ikan." Ucap Arga setelah beberapa kali muntah di geladak belakang kapal. Bau amis dari ikan dan kapal yang bergoyang terus menerus membuat Arga harus mencari alasan untuk tetap tampil baik-baik saja didepan Fang.

 "Hanya dengan cara ini kita bisa sampai Cheduge lebih cepat dibandingkan lewat jalur darat."

Arga kemudian menyandarkan bahunya di bagian kapal. Mencoba tenang dan mengesampingkan efek sensasi perut yang terkocok dengan cara bermain pulpen diantara jari. Kemudian mengambil buku catatan yang berada didalam tas pingangnya.

Arga. Pemuda yang tumbuh dan berkembang di nagari Wamowam distrik The. Pernah bekerja sebagai Hub di penjara istana akibat konsekuensi perang. Sengaja memasang pita perekat selotip di lengan kiri. Entah apa tujuannya. Ia tidak terlalu memusingkan soal penampilan.

 "Menurut paman, untuk apa mereka di Wind?" Tanya Arga.

"Pasti sesuatu yang sangat penting. Selama aku menetap di Wind, belum pernah aku menemukan penyihir Hbeyida masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Namun, beberapa hari yang lalu. Aku menemukan hal yang janggal di hutan. Entah ada kaitannya atau tidak. Terdengar suara ribut di dekat cekungan dinding batu Ameth." Jawab Fang. Sesekali tangan kanan mengusap iron rod miliknya, sedangkan Fela mencari kehangatan di sela jubah kumal Fang.

"Seperti suara pertempuran. Teriakan beberapa kali terdengar hingga ke rumahku."

Kapal penangkap ikan milik seorang pedagang dari Wind terus bergerak menuju Cheduge lewat jalur utara pulau Sundaland. Cuaca di laut oke untuk sebuah perjalanan, gelombang pun cukup bersahabat, tapi tidak untuk Arga yang baru saja kembali muntah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x