Mohon tunggu...
Hend.Setya
Hend.Setya Mohon Tunggu... Penulis Newbie

Novel AL terbit setiap hari Jumat || Contact Penulis : hsetiawan.id@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bab 17 | Saphira

11 Januari 2019   15:51 Diperbarui: 11 Januari 2019   16:02 0 1 0 Mohon Tunggu...

Bagi klan AL, ikut serta di perang suci adalah sebuah kebanggaan paripurna. Cukup sekali saja para master dan kalangan pemberani bertempur di medan perang, maka saat itu pula ia akan dikenang dan terus dipastikan tercantum di playlist dongeng sebelum tidur hingga lintas generasi.

Secara umum ceritanya adalah sama, diawali rakusnya bangsa Wizzie terhadap kekuasaan dan diakhiri dengan bagaimana heroiknya ayah, ibu atau kakek nenek mereka dahulu berperang melawan bangsa penyihir. Terlepas dari penutup cerita apakah si aktor yang diceritakan mati atau kembali dari perang suci.

AL berperang bukan untuk menaklukan bangsa Wizzie penyihir, tapi jauh lebih mulia dari itu. Alasan AL berperang yakni membebaskan nagari-nagari kecil dari tirani penjajahan Wizzie yang luar biasa mengekang.

"Kita adalah bagaimana kita dikisahkan di masa depan." Barisan kata yang tertera di makam Steiner, tetua nagari Cheduge yang menginisiasi perang suci. Kalimat ini begitu populer di kalangan keluarga klan AL. Semacam sebuah doktrin dan cita-cita agung yang patut diperjuangkan.

"Ayah tidak menemaniku?" Tanya Rheen tadi pagi kepada Seki yang baru saja mengingatkan dirinya untuk segera pergi menghadiri perayaan Ara - perayaan penghormatan bagi sisa pasukan perang suci.

"Ada yang harus aku lakukan. Aku akan menyusul." Seki menjawab singkat. Telunjuk Seki diarahkan kepada sosok yang kini berdiri tepat di makam milik Odric.

Rheen berjalan cepat keluar rumah. Sementara Seki mendekat kepada sosok wanita berusia sekitar 30 tahun yang tampak asing bagi Seki. Jika ia penduduk Cheduge atau berasal dari kantung wilayah klan AL, ia mestinya paham bahwa ia harus beranjak pergi ke perayaan Ara sebagai bentuk penghormatan. Ensi si gila saja terlihat keluar rumah dengan celana hitam, kemeja putih dilapis vest berwarna cerah.

"Apakah aku pernah melihatmu?" Tanya Seki langsung.

"Saphira. Master al terpilih selanjutnya. Murid dari tuan Odric." Wanita ini kemudian menunjukkan rajah khusus di punggung tangannya, yang dalam bahasa sunda kuno berarti "fa".

"Maaf. Maksudmu Odric masih hidup?" Seki hampir saja tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Kabar bahwa indikasi Odric masih hidup lebih membuat Seki bahagia dibanding dengan berita bahwa yang ia ajak bicara adalah seorang master AL terpilih selanjutnya.

"Aku yakin ia masih hidup. Kami berkomunikasi lewat surat."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x