Mohon tunggu...
Hend.Setya
Hend.Setya Mohon Tunggu... Penulis Newbie

Novel AL terbit setiap hari Jumat || Contact Penulis : hsetiawan.id@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bab 14 | Cekungan Dinding Batu Alam

16 November 2018   19:35 Diperbarui: 16 November 2018   19:40 0 0 0 Mohon Tunggu...

Tidak banyak suara yang dihasilkan antara rombongan istana sepanjang sisa perjalanan menuju lokasi pencurian batu Assion. Kecuali, Elcom yang masih saja menggerutu soal pertemuan dengan satu master AL yang dinilai tidak patut menabrak Essa dan kemudian pergi saja tanpa berusaha meminta maaf.

Jalan setapak yang dilalui rombongan istana kini tidak lagi dipenuhi lumpur datar namun diganti berjejal-jejal menanjak tanaman putri malu. Setiap rombongan bergerak, saat itu pula tanaman ini meredup menunduk. Ada kalanya, rombongan pengiring dan Elcom tampak kesakitan akibat gesekan duri tanaman tersebut.

Kini semua orang sudah berada di tempat yang dituju. Cekungan dinding batu alam yang sekilas mirip altar yang melindungi sesuatu tepat dibawah tengahnya. Rombongan mengitari pintu masuk yang berupa lubang biru kehitaman berdiameter sekitar 3,1 meter. Air mengalir meluap dari lubang ini kemudian membuat aliran sungai hingga ke ujung nagari Wind.

Essa melepas jubah luar penyihir istana kelas satu Hbeyida. Menyingkap sedikit postur atletis dan tegap badannya. Ia bersiap untuk menyelam.

"2 dari 5 pengawal berjaga di tempat ini, sisanya ikut denganku. Aku berjanji, Ini tidak akan lama."

"Sedangkan kau, Elcom. Aku berharap. Ini menepis dugaanku. Bahwa kau takut dengan air." Essa melempar senyuman ke arah Elcom.

Sial.

"Respira!" Essa mengucapkan mantra yang dengannya ia mampu untuk bernapas di air. Diikuti pengawal dan Elcom di barisan terakhir. Menyelam berbarengan hingga kedalaman 7 meter, membentuk rangkaian kurva gelombang sinus cosinus sebelum akhirnya naik ke permukaan gua persis di belakang dinding batu alam sebelumnya.

Alangkah terkejutnya semua orang termasuk Essa. Beberapa jasad pasukan penjaga tidak bernyawa tergeletak begitu saja ketika rombongan menyusuri gua penyimpanan batu Assion. Sebuah pertarungan telah terjadi, jika melihat bukti sebaran percikan darah.

"Kuburkan semua korban yang ada." Perintah Elcom. Sementara Essa bak sutradara, kaki dan telunjuknya terlihat terus bergerak melakukan reka ulang kejadian lewat imajinasi yang ia buat.

Essa tiba-tiba berlari ke kanan jauh gua. Ia menemukan pergerakan minor dari tubuh salah satu penjaga.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x