Mohon tunggu...
Hend.Setya
Hend.Setya Mohon Tunggu... Penulis Newbie

Novel AL terbit setiap hari Jumat || Contact Penulis : hsetiawan.id@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Bab 12 | Panggil Aku, Fang!

2 November 2018   19:31 Diperbarui: 2 November 2018   19:53 0 0 0 Mohon Tunggu...

Wind. Nagari yang dikelilingi sesaknya hutan bambu. Saking rapatnya barisan tanaman dengan pertumbuhan paling cepat ini, memaksa intensitas cahaya matahari terhalang di perimeter luar nagari. Akibatnya, temperatur lingkungan Wind cenderung mengarah ke dingin. Bahkan di beberapa spot, 2 sampai 3 pengawal Essa dibuat kikuk karena bulu kuduk mereka merinding.

Meski area pinggiran nagari yang begitu mencekam. Tampaknya Wind beruntung memiliki sungai jernih dan floating market aktif sepanjang 1.5 km garis sungai yang menyempit hingga taman cantik di ujung nagari.

"Aku mengira kita hendak masuk ke dalam hutan belantara." Elcom tampak kaget sekaligus sumringah karena ia menemukan sesuatu yang normal yang ia temukan ketika berkunjung ke sebuah tempat yang umum di sebut nagari.

Selepas hujan sepanjang malam di Gerdurk. Rombongan panglima Essa berangkat pagi-pagi sekali menuju Wind. Rombongan tidak pernah menyangka ketika akhirnya sampai di nagari tujuan, mereka melihat momen aktifitas penduduk asli Wind. Berbeda dengan kondisi Hbyeida yang lebih industrial. Wind kental suasana perdagangan dan lebih humanis. Pantas nagari ini ditetapkan sebagai supplier utama kebutuhan logistik dan tenaga kasar untuk istana.

Beberapa pasang mata penduduk asli Wind tampak merasa kaget bercampur ketakutan dengan hadirnya para penyihir istana diantara mereka. Mata Essa dengan begitu cepat menemukan seorang penjual buah labu yang menjatuhkan dagangannya secara tidak sengaja ke dalam sungai ketika Elcom secara iseng menyeringai kepadanya.

"Tambatkan kuda kalian di sini. Pastikan ia cukup dekat dengan rerumputan. Kita lanjutkan dengan berjalan kaki menuju hulu sungai." Perintah Essa.

Menyusuri jalan setapak berlumpur, Essa berjalan di depan rombongan. Sesekali tangannya menyingkirkan sulur batang muda yang menjalar. Elcom memperhatikan secara seksama, sosok yang banyak diperbincangkan para penyihir tua Hbeyida sebagai calon ideal pengganti raja Adas selanjutnya.

Sejauh penglihatan Elcom, Essa pantas dijadikan role model para penyihir muda Hbeyida saat ini. Disamping cerdas, leadership Essa banyak teruji dalam banyak situasi. Pihak istana pun tak segan untuk menjadikan Essa rujukan utama terkait kebijakan strategis. Paling wah adalah saat 1 pekan sebelum perang suci, forum rapat penyihir utama Hbeyida memutuskan posisi panglima tertinggi perang suci ke-8 mutlak milik Essa. Jabatan paling prestisius yang diincar oleh semua penyihir.

 "Brukkk..." Badan Essa berbenturan dengan sosok tinggi besar. Kayu bakar berserakan di sekita Essa.

"Apa yang kau lakukan, orang tua!" Elcom begitu cepat naik pitam ketika menemukan ada orang lain yang menghantam tubuh kawannya. Seketika Elcom mengeluarkan pedang dari sarung, yang dilawan pun tak kalah cepat mengeluarkan batang besi dari balik punggungnya. Iron rod yang semula kecil namun bisa langsung memanjang secara otomatis. Tak lama sesudahnya, AL jenis kucing persia muncul dari balik kaki sosok tinggi besar ini.

 "Kau tidak tahu dia siapa?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x