Mohon tunggu...
Helen Adelina
Helen Adelina Mohon Tunggu... Passionate Learner

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value - Einstein

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Kompasiana Bukan Sekadar Menulis

10 Mei 2021   09:31 Diperbarui: 10 Mei 2021   10:07 107 17 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasiana Bukan Sekadar Menulis
sumber: kompasiana

Membaca artikel Kompasiana yang ditulis oleh Romo Bobby via Ruang Berbagi melalui situs web Kompas memberikan paradigma baru bagi saya (link). 

Selama ini, saya selalu membaca artikel yang ditulis oleh kompasianer langsung dari platform Kompasiana. Bahkan sejak saya menjadi silent reader selama 6 tahun dan belum bergabung dengan Kompasiana. Saat membaca artikel Romo Bobby, saya mencoba melihat diri saya sendiri sebagai seorang pembaca layaknya pembaca berita dari media massa.

Beranjak dari paradigma ini, saya baru menyadari satu hal: bahwa artikel Kompasiana dibaca oleh banyak kalangan. Bukan hanya oleh kompasianer atau orang-orang iseng seperti saya dulu sebagai silent reader

Sudah satu bulan lebih saya bergabung dengan Kompasiana dan selama ini saya hanya menulis apa yang ingin saya tulis dengan gaya semaunya saya. Dengan jujur saya akui, selama saya menulis tidak pernah terbersit dalam benak saya bahwa artikel yang saya tulis dapat menjangkau khalayak dengan latar belakang yang berbeda-beda. 

Bagi saya, penikmat artikel Kompasiana adalah komunitas khusus orang-orang yang senang membaca dan menulis apa saja. Saya menganggap para pembaca artikel Kompasiana seperti keluarga atau teman yang dapat menerima apa saja yang disuguhkan, tanpa memedulikan kekurangan dari artikel yang ditulis. Sebagai keluarga, memaklumi kesalahan adalah hal yang lumrah. Itulah sebabnya bahasa yang saya gunakan dalam menulis artikel cenderung informal, dengan gaya bahasa pergaulan sehari-hari. Jangan ditanya apakah sudah memenuhi kaidah SPOK.

Saya menanyakan diri saya kembali apa tujuan saya menulis di Kompasiana. Melihat daya jangkau Kompasiana sebagai platform blog, saya baru menyadari bahwa slogan Beyond Blogging bukan hanya sekedar jargon. Beyond Blogging adalah visi Kompasiana bahwa Kompasiana adalah saluran gagasan dan opini masyarakat, yang kebermanfaatannya menjangkau masyarakat luas. 

Kompasiana adalah “pengeras suara” yang menggemakan hidden voice masyarakat yang tidak dapat disalurkan dalam media resmi. Kalau boleh saya samakan, Kompasiana: dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Paradigma inilah yang membuat saya berpikir ulang tentang tujuan saya menulis di Kompasiana dan mencoba mencari irisan antara visi pribadi dan visi Kompasiana sendiri.

Berdasarkan informasi di situs web Kompasiana, per Desember 2017, ada 355.000 anggota kompasianer. Mungkin Kompasiana perlu memperbarui data anggota kompasianer secara berkala agar data yang disajikan lebih menggambarkan kondisi aktual saat ini. Termasuk juga pergerakan keanggotaan Kompasiana, berapa pertumbuhan anggota kompasianer dan berapa orang kompasianer yang aktif menulis dalam jangka waktu setahun. Jika perlu per bulan. Dengan demikian, Kompasiana dapat mengevaluasi dinamika yang terjadi Kompasiana dan merencanakan terobosan-terobosan baru yang diperlukan.

Saya membayangkan dengan jumlah keanggotaan Kompasiana yang begitu besar, berapa banyak hidden voice yang dapat digemakan oleh Kompasiana. Jika masing-masing kompasianer menulis secara aktif, berapa banyak pengetahuan, keahlian, pengalaman dan kebijaksaan dari masing-masing individu yang terkumpul? Menurut saya, ini benar-benar kekayaan yang luar biasa. Apa yang dibagikan oleh para kompasianer melalui tulisan yang diunggah di Kompasiana bukan lagi perkara kecil.

Saya tidak mau muluk-muluk. Bagi saya sendiri, menulis di Kompasiana bukanlah prioritas utama karena ada kesibukan lain. Waktu yang saya luangkan untuk menulis juga terbatas sehingga untuk menulis dengan kualitas yang mumpuni dengan kajian yang komprehensif mungkin belum dapat saya lakukan. Ditambah lagi jam terbang saya dalam dunia kepenulisan masih seumur jagung. 

Namun dengan paradigma baru ini, saya mencoba melihat bahwa mesipun kegiatan menulis di Kompasiana bukanlah prioritas, bukan berarti ini hal yang remeh. Bagi saya, ini adalah sebuah tantangan bagaimana menyuarakan hidden voice tanpa kehilangan kepribadian dan signature saya. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya bukan?

Salam Kompasiana!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x