Mohon tunggu...
Helen Adelina
Helen Adelina Mohon Tunggu... Insinyur - Passionate Learner

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value - Einstein

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Di Balik Lucunya Mr. Bean

27 April 2021   16:43 Diperbarui: 27 April 2021   17:39 2188
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Source: vidio.com/MrBean Series

Siapa sih yang tidak kenal sosok ikonik Mr. Bean? Dari anak-anak hingga kakek-nenek, semuanya tertawa terpingkal melihat tingkah lucunya. Jahilnya gak ketulungan. Mr. Bean yang diperankan oleh Rowan Atkinson adalah budaya pop yang paling sukses dalam bidang komedi. Mr. Bean mengawali debutnya dalam acara sepesial TV selama setengah jam pada hari tahun baru 1990. Sejak itu, Mr. Bean telah disiarkan hampir di 250 negara di seluruh dunia. Serial kartun Mr. Bean juga terjual di seluruh dunia. Keikonikan Mr. Bean bahkan disamakan dengan komedian legendaris Charlie Chaplin. Siapa yang menyangka Rowan Atkinson si pemeran Mr. Bean adalah lulusan doktor teknik elektro dari Universitas Oxford.

Kita tentunya ingat adegan pembuka Mr. Bean di mana ada cahaya terang muncul di tanah dan kemudian semakin besar hingga berhenti dan Mr. Bean jatuh ke atas tanah. Selanjutnya perjalanan kelucuan Mr. Bean pun bergulir. Sosok canggung yang menggunakan model baju yang sama, tak peduli entah dia ada di mana, entah apapun aktivitas yang dijalaninya. Bahkan sampai ke pantai pun tetap menggunakan setelan jas yang menjadi ciri khasnya.

Ada banyak spekulasi terkait sosok Mr. Bean. Adegan pembuka Mr. Bean jatuh ke atas tanah ditafsirkan bahwa Mr. Bean dulunya adalah sosok pria dewasa yang normal. Ini dapat terlihat bahwa Mr. Bean memiliki apartemen sendiri dan punya uang untuk membeli. Lalu Mr. Bean diculik oleh alien untuk diuji dan kemudian dibuang kembali ke bumi. Kejadian itu mengacaukan pikiran Mr. Bean dan membuatnya menjadi tidak normal. Ada juga yang berpendapat Mr. Bean adalah seorang anak yang terperangkap dalam tubuh seorang pria. Beberapa berpendapat mengatakan bahwa Mr. Bean adalah gambaran stereotip negatif tentang orang Inggris. Canggung, selera berpakaian buruk, tidak menyadari siapa pun dan segala sesuatu di sekitarnya.

Yang menarik adalah hampir semua adegan yang dilakoni Mr. Bean tanpa dialog. Kekuatan Mr. Bean lebih berfokus pada eskpresi wajah yang mirip seperti karet dan bahasa tubuh yang lucu. Tidak adanya dialog dalam komedi Mr. Bean menjadi salah satu kekuatan karena penonton tidak dibatasai oleh kendala perbedaan bahasa – lost in translation. Dengan demikian, komedi Mr. Bean dapat diterima secara universal, tanpa mengenal usia dan geografis.

Kelucuan muncul dari respon Mr. Bean saat ada sesuatu yang memantik keingintahuannya seperti saat adegan di praktik dokter gigi dimana Mr. Bean mencoba peralatan pembersih gigi dan akhirnya secara tidak sengaja membius si dokter gigi. Atau adegan di tukang pangkas rambut dimana Mr. Bean dengan kejahilannya berpura-pura menjadi tukang cukur rambut dan mencukur rambut anak dengan model bulat baskom, dengan bagian tengah yang plontos.

Kelucuan lain muncul berhubungan dengan kecanggungan Mr. Bean saat berinteraksi dengan orang lain. Ambil contoh, adegan Mr. Bean tiba-tiba menyadari penampilannya yang kurang sempurna dan kecanggungannya saat akan bertemu dengan ratu yang membawa bencana. Ada juga kejadian yang mengusik jiwa kompetitifnya, seperti menumpahkan air ke seorang anak di ruang tunggu dokter gigi agar dia bisa merebut komik Batman dari seorang anak kecil. Atau adegan saat berbelanja dengan memotong antrian dan memborong belanja dengan mengemudikan mobil kecil miliknya.

Komedi Mr. Bean membuat semua orang yang menonton merasa terhibur bahkan tertawa terpingkal pingkal sampai mengeluarkan air mata. Tak jarang orang tetap menonton Mr. Bean meskipun telah ditayangkan berulang-ulang. Dan memang tertawa penting bagi kita. Menurut Dr. Willinald Ruch, seorang psikolog Austria, tertawa meningkatkan kemampuan orang untuk mentolerir rasa sakit. Dalam salah satu penelitiannya, Dr. Ruch meminta para sukarelawan untuk menonton Mr. Bean untuk membuat mereka tertawa. Penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap hal-hal yang lucu dapat membantu orang bertahan dalam menyelesaikan tugas yang sulit.

Hasil penelitian yang mirip juga ditemui oleh psikologis David Cheng dan Luweng dari Univeristas New South wales Australia. Orang yang menonton video lucu menghabiskan waktu dua kali lebih lama untuk tugas yang membosankan dibandingkan dengan orang yang menonton video netral atau positif tetapi tidak lucu. Humor juga dapat memberikan semacam “liburan sesat”, meningkatkan semangat kerja dan meningkatkan produktivitas.

Saya sendiri juga penggemar Mr. Bean. Saat pandemi ini, saya sudah beberapa kali menonton Mr. Bean walaupun saya sudah pernah menonton tayangan ini sebelumnya. Lumayan untuk melepaskan penat dan mumet setelah menyelesaikan tugas kantor. Mood jadi lebih membaik dan lebih rileks.

Nah, setelah saya menonton Mr. Bean, saya membayangkan bagaimana kalau posisinya dibalik? Saya bukan sebagai penonton, tapi menjadi teman atau orang yang berinteraksi dengan Mr. Bean? Kalau begini caranya, ini bukannya lucu. Tapi buat kepala panas sampai ke ubun-ubun. Bisa-bisa naik darah, yang tadinya darah rendah langsung darah tinggi.

Misalkan saat Mr. Bean memotong antrian untuk belanja keperluan perawatan rumah. Memotong antrian panjang itu benar-benar menyebalkan. Kalau mau masuk duluan, datang lebih awal dong. Jangan main serobot. Saya dan orang-orang yang mengantri pasti akan nyolot. Saat Mr. Bean memasukkan borongan belanjaan ke dalam mobil kecilnya dan ternyata barang yang dibeli terlalu banyak sehingga Mr. Bean harus duduk menyetir di atas mobil. Bayangkan betapa berbahayanya. Kalau kursinya merosot karena tidak seimbang, yang celaka tidak hanya dirinya, tapi juga orang lain. Benar-benar merepotkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun