Wardanto
Wardanto Pensiun

Menekuni ekonomi politik dan hal-hal lain yang menggelitik.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Lebaran dan Gizi Buruk

12 Juni 2018   11:35 Diperbarui: 12 Juni 2018   11:42 159 1 1
Lebaran dan Gizi Buruk
giizi-buruk-5b1f4f18bde57552bc7ec087.jpg

Lebaran adalah saat menikmati ketupat dan opor ayam bersama sanak keluarga. Ini adalah tradisi masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam. Hari Lebaran mengakhiri puasa selama sebulan penuh, kini orang bisa makan dan minum sesuka hati, hanya dibatasi oleh dirinya sendiri.

Namun Lebaran juga merupakan hari istimewa, karena pada saat itu orang-orang melakukan aktivitas mudik, yaitu kembali ke keluarga masing-masing untuk bersilaturahmi saling maaf-memaafkan. Setiap keluarga di kampung, dusun, desa dan kota berada dalam suasana gembira, berkangen-kangen, penuh syukur, dan banyak makanan enak.

Semua itu dapat terjadi karena kondisi keuangan yang memungkinkan. Sudah menjadi kebiasaan di negeri ini bahwa pemerintah memberikan THR dan gaji ke-13 bagi pegawai, termasuk anggota TNI/Polri dan pensiunan, yang tahun ini akan sebesar Rp35,7 triliun.  Pengusaha swasta juga memberikan THR bagi karyawan sesuai dengan kebijakan dan kemampuan masing-masing.

Penghasilan tambahan ini berimbas ke kelompok masyarakat lain yang bukan karyawan pemerintah maupun swasta, seperti pedagang, buruh lepas, petani, pengemudi ojek, dan sebagainya. Mereka juga mendapat penghasilan tambahan karena permintaan yang meningkat atas barang dan jasa yang dijualnya.

Penghasilan masyarakat juga meningkat karena ada kiriman uang dari anggota keluarga yang bekerja di luar daerah atau di luar negeri. Jika tambahan semua uang yang masuk ke dalam perekonomian ini digabung, maka jumlahnya bisa cukup besar, sebanyak Rp 200 triliun menurut perkiraan Bank Indonesia. Sebagian uang ini akan dibelanjakan untuk keperluan konsumsi, transportasi dan rekreasi; sebagian lagi  untuk diamalkan dalam bentuk zakat, infak dan sedekah melalui masjid-masjid dan lembaga-lembaga khusus untuk itu.

Dana masyakat yang terkumpul setahun sekali ini sebetulnya dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia. Mereka adalah anak-anak yang sangat kekurangan gizi sehingga pertumbuhan fisiknya akan terganggu.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan ada 1,3 juta anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang sangat kurus di Indonesia, dan 1,6 juta balita lain termasuk kategori kurus biasa. Banyaknya balita kurus ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-empat dunia, suatu keadaan yang sangat menyedihkan.

Balita bergizi kurang ini tersebar di hampir semua wilayah Indonesia. 419 kota/kabupaten atau sekitar 81,5 persen dari total 514 kota/kabupaten mempunyai masalah gizi akut sekaligus kronis. Daerah yang bebas masalah gizi hanya ada di 15 kota/kabupaten. Selebihnya, 61 kota/kabupaten termasuk kategori akut dan 19 kota/kabupaten lainnya termasuk kategori kronis. Gizi kurang menyebabkan berat badan anak kurang dari berat normal, gizi kronis menyebabkan anak sangat pendek, dan gizi akut menyebabkan anak sangat kurus.

Masalah gizi buruk balita ini menjadi berita besar ketika pada awal tahun ini diketahui ada 68 anak balita yang meninggal dalam kurun waktu bersamaan karena campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua. Kejadian serupa bisa terulang kembali di tempat lain, di Jakarta sekalipun,  mengingat tersebar luasnya balita penderita gizi buruk.

Selain mudah terserang berbagai penyakit, gizi buruk juga menyebabkan tingkat kecerdasan berkurang, yang berpotensi menyebabkan gangguan perilaku emosi. Tidak salah jika Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa anak yang kekurangan gizi memiliki peluang yang rendah dalam memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak di masa mendatang. 

Padahal Indonesia diproyeksikan akan memasuki masa bonus demografi pada 2020-2030, dimana jumlah penduduk kelompok usia produktif (15-64 tahun) lebih besar daripada penduduk kelompok usia lainnya. Banyaknya balita bergizi buruk saat ini dapat menyebabkan bonus demografi batal terwujud.

Dampak negatif terhadap ekonomi juga terjadi karena balita bergizi buruk saat ini akan membebani keuangan negara akibat berbagai penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, diabetes, ginjal yang muncul pada masa tuanya. Ini adalah jenis-jenis penyakit yang banyak menyedot kas BPJS.

Bank Dunia menyebutkan bahwa dampak kekurangan gizi setara dengan kehilangan 2-3 persen PDB Indonesia. Dengan PDB sebesar Rp 12.400 triliun saat ini maka kerugian negara dapat mencapai Rp 300 triliun per tahun. Dana ini dapat lebih bermanfaat jika dipergunakan untuk keperluan lain yang produktif.

Tentu saja pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah gizi buruk ini, antara lain melalui program pemberian makanan tambahan dan pengerahan petugas posyandu untuk menangani kasus gizi buruk. Namun masalah gizi buruk juga menyangkut lingkungan tempat balita tinggal seperti ketersediaan MCK, air bersih, dan rumah yang sehat. Faktor non-kesehatan ini justru lebih besar pengaruhnya daripada faktor kesehatan. Di sini peran warga di lingkungan sekitar sangat menentukan.

Pada hari Lebaran yang sebentar lagi akan tiba, tidak ada salahnya jika masyarakat Indonesia saling bantu mengatasi masalah gizi buruk balita. Dimulai dengan berbagi makanan kepada keluarga-keluarga yang mempunyai balita kurang gizi, kemudian ditingkatkan dengan penyediaan fasilitas lingkungan yang sangat diperlukan untuk kehidupan yang sehat. 

Warga yang mudik dapat mengumpulkan sumbangan untuk dikelola oleh pengurus RT/RW/dusun/desa  untuk melakukan "bedah rumah" atau membangun sarana lingkungan yang tidak terbiayai oleh Dana Desa yang dialokasikan pemerintah pusat.

Lebih baik lagi jika kepada keluarga paling miskin diberikan modal uang, ketrampilan atau bantuan pemasaran agar mereka dapat mengentaskan diri dari kemiskinan yang membelitnya.

Uluran tangan para pemudik pada hari-hari Lebaran ini kepada keluarga-keluarga yang menderita gizi buruk akan memperkuat tali persaudaraan sesama warga se kampung, se desa, se kota dan se negara. Dan jika dilakukan dengan ikhlas, kontribusi itu diharapkan akan menambah tabungan amal untuk bekal di akherat kelak.-