Mohon tunggu...
Haz Pohan
Haz Pohan Mohon Tunggu...

Civil Servant, Blogger, Writer, Globe-Trotter

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mudik Bukan Hanya Tradisi Kita

3 September 2011   13:33 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:16 366 0 2 Mohon Tunggu...

SETIDAKNYAsekali dalam setahun setiap bangsa memiliki hari libur terbesar yang digunakan sebagai hari untuk berkumpul antar-keluarga, teman.Biasanya di kampung halaman.

Pada hari libur utama ini orang pulang kampung (pulkam), menemui orangtua atau keluarga untuk bermaaf-maafan.Mungkin istilah pulang kampung tidak mesti menunjuk kepada suku tertentu yang dikaitkan dengan daerah asal mereka.

Hari libur panjang dan tradisi pulkam tidak mesti pula merujuk pada hari-hari agama, seperti lebaran bagi Muslim atau natalan bagi Kristiani.Di sebagian bangsa atau suku bangsa pulkam hanyalah tradisi, yang dilakukan berulang-ulang bahkan sejak ratusan atau ribuan tahun yang lalu, seperti misalnya bagi masyarakat China, Jepang atau Vietnam.

Kedua motivasi pulkam ini: agama atau tradisi sering melebur menjadi satu, ada kalanya kehilangan makna religius yang akhirnya semata-mata dilihat dari segi sosiologis atau kultural, dan sekuler.

Di Mancanegara

Banyak tadisi ‘pulkam’ atau pulang kampung pada hari-hari tertentu di masyarakat berbagai negara.Rakyat Amerika Serikat melakukan ‘pulkam’ pada saat Thanksgiving Day, orang Korea pada Lunar Year, seperti masyarakat China dengan Gong Xi Fa Choi atau Vietnam, atau orang Poland pada saat Easter.

Jadi tidak hanya di Indonesia.Yang miirip dengan tradisi pulkam pada saat Idul Fitri adalah orang-orang Turki yang berjumlah kl 3 juta orang dan menetap di Jerman.

Menjelang Idul Fitri, konvoi-konvoi mobil orang-orang Turki melintasi perbatasan berbagai negara: dari Jerman melalui bekas negara-negara Yugoslavia dari Hungaria atau Ceko melewati Kroasia, Serbia, Bulgaria dan pada akhirnya masuk ke negeri asal mereka melalui Edirne terus menuju Istanbul, Izmir atau Ankara. Pemudik ala Turki ini menempuh jarak beberapa ribu kilometer saja.

Begitu pula fenomena ini kita saksikan di tanah air, terutama di pulau Jawa, yang disebut dengan istilah ‘mudik’.

Bagi umat Kristiani Indonesia, umumnya Natal berarti pulkam untuk bermaafan dengan keluarga atau sanak saudara.

Berbeda dengan di Sumatra Utara.Di sini, orang-orang Batak Toba kurang merayakan Natal. Mayoritas umat Kristen etnis Batak Toba pulkam pada saat Tahun Baru (martaaon baru).Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir Natal mulai populer, seperti gejala di Jakarta dan nasional.

Pada saat ini para pemudik, atau di kalangan blogger dan social media menyebut diri mereka ‘mudikers’, sedang bersiap-siap kembali ke Jakarta setelah menghabiskan waktu dan uang mereka di daerah asal.

Mudik Lebaran

SECARA harfiah, ‘mudik’ berarti meng-udik, pulang ke udik alias pulang kampung, pulkam.Sejak beberapa menjelang lebaran, masyarakat berduyun-duyun mereka mudik.Dengan menggunakan apapun alat transportasinya, dan berapa pun harganya.Motor yang dimaksudkan untuk kenderaan kota, bahkan bajaj pun ambil bagian.Terjadi kemacetan berkilometer baik dalam perjalanan pulkam maupun kembali ke rumah.

Tetapi tradisi mudik yang sangat populer bagi orang Jawa tidak demikian halnya bagi orang-orang Melayu di Sumatera.Meskipun mudik kian populer, terutama bagi mereka yang tinggal di Jakarta, tetapi mudik tidak sampai menyebabkan kemacetan berkilo-kilo meter.Saya ingat beberapa tahun yang lalu pulkam ke Medan, di jalan lintas Sumatera tampaknya hanya segelintir mobil di jalanan.

Pulang dan pergi sama saja.Menjelang memasuki kota Medan, barulah jumlah konvoi bertambah panjang.Namun tetap saja tidak terjadi kemacetan.

Meningkatnya jumlah pemudik mungkin terkait dengan semakin baiknya kesempatan mencari rezeki sekarang.Tentu yang halal, bukan.Tetapi, aduh korban kecelakaan juga turut meningkat.Ratusan jiwa telah melayang.

Banyak yang menyalahkan pemerintah, padahal seyogianya keselamatan jiwa kita adalah tanggung jawab kita sendiri.Pemerintah dipersalahkan tidak menyediakan alat transportasi yang murah dan nyaman, sehingga banyak pemotor dengan jenis kendaraan yang tidak siap untuk berjalan jauh berani menempuh jarak ke kampung ratusan bahkan hampir seribu kilometer.

Mereka pasti lelah, dan kurang waspada, atau kurang sabar.Emosi bisa meningkat karena lelah, atau kesal karena kemacetan terjadi di mana-mana, dan tidak memandang waktu.

Memang, melihat ‘kenyamanan’ di Jakarta di sisi lain menunjukkan betapa signifikannya pengurangan penduduk Jakarta dan sekitarnya di kala musim lebaran yang berkepanjagan.Juga menggambarkan peranan penting para ‘mudikers’ dalam kehidupan sehari-hari di ibukota.

Lebih dari 5 juta penduduk Jakarta dan sekitarnya memiliki kesempatan untuk tetap mempertahankan tradisi pulang kampung pada saat berlebaran.Tradisi untuk bermaaf-maafan pada saat lebaran merupakan tradisi yang tak bakal punah.

Dari berbagai tradisi lama ini, ada juga yang berziarah ke makam dan mendoakan orangtua, sanak keluarga dan para leluhur yang telah mendahului, seusai shalat Ied.Tradisi ini juga terdapat di bangsa China, Jepang, Vietnam.Ada pula tradisi makan fajar seperti di masyarakat Muslim di Sumatera Timur.Dan, tentunya open-house yang diselenggarakan tokoh-tokoh dan orang-orang yang dituakan, serta pada akhirnya halal bil halal.Dari semua tradisi lama ini, mudik, atau pulang ke udik lah yang paling populer.

Tradisi adalah tradisi, tradisi pulkam bulan hanya untuk mengulurkan tangan meminta maaf kepada orangtua, sanak, saudara, jiran, teman sekampung dan setiap orang yang ditemui pada saat shalat Ied atau yang wara-wiri di berbagai kota.Pulkam pada saat lebaran bagi masyarakat yang masih mencintai kampung dan tradisi juga kesempatan untuk show-off, pamer dengan apa yang telah diperoleh dalam perantauan selama setahun.

Tidak kurang, yang gagal di rantau pun juga berhak pulkam. Itulah masyarakat kita, dan juga di negeri-negeri lain.

Jakarta, 3 September 2011

Skets: Google

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x