Mohon tunggu...
Hayyun Nur
Hayyun Nur Mohon Tunggu... Penulis dan Pemerhati Sosial

Seorang penulis frelance, peminat buka dan kajian-kajian filsafat, agama, dan budaya

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Ahistoria Khilafah

4 April 2019   07:38 Diperbarui: 4 April 2019   07:48 0 0 0 Mohon Tunggu...

Hayyun Zsavana

Khilafah memang sejak lama telah menjadi kontroversi di kalangan pemikir Muslim. Sejak dari era klasik, abad pertengahan hingga masa kontemporer. 

Kontroversi seputar khilafah sebenarnya bertitik tolak dari wacana tentang keterkaitan antara Islam dan pembentukan negara. Jejak kontroversi mengenai relasi Islam dan Negara sepanjang 3 periode itu hingga kini dapat dipetakan kepada dua arus utama. 

Di satu kutub terdapat kelompok pemikir yang memandang adanya keterkaitan simbiotik antara islam dan negara. Bagi kelompok ini, Islam adalah agama sekaligus negara (al-Islam Din wa Dawlah). 

Pada kutub lain, terdapat pula sekelompok pemikir yang menolak pandangan tentang kesatuan Islam dengan Negara. Penolakan terhadap konsepsi al-Islam Din wa Dawlah dinyatakan dengan mengajukan konsepsi alternatif yang menegaskan bahwa "Islam adalah agama sekaligus dunia" (al-Islam Din wa Dunya).

Dalam konteks kontroversi tentang khilafah, kelompok pemikir pertama, yang diwakili antara lain oleh Ibnu Abi Rabi dan Farabi dari era klasik, al-Mawardi, Ibnu Khaldun dan Ibnu Taymiyyah dari abad pertengahan, dan pemikir kontemporer seperti Jamaluddin  al-Afghani, Rasyid Ridha, Abul A'la al-Maududi dan Taqiyuddin al-Nabhani (tokoh awal Hizbut Tahrir), dapat dipastikan sebagai pemikir-pemikir pendukung gagasan khilafah.

Hampir semua pemikir Muslim kelompok pertama ini mengajukan gagasan tentang  khilafah sebagai sistim bernegara yang terbaik dan sesuai dengan doktrin Islam. Persis seperti yang diyakini oleh para pengusung khilafah dewasa ini. 

Namun demikian, pandangan kelompok pemikir berjenre al-Islam Din wa Daulah (Islam agama sekaligus negara) ini, mengandung kelemahan substansial dan belakangan banyak mendapat kritik. 

Kelemahan dimaksud, terutama terletak pada fakta bahwa corak pemikiran pendukung khilafah ini cenderung bersifat teoritik normatif dan sangat doktriner di satu sisi, tapi mengabaikan pendekatan sosiologis di sisi yang lain,

Sifat teoritik normatif dan doktriner serta pengabaian aspek sosiologis dari pemikiran para ahli pendukung khilafah ini, mengakibatkan gagasan mereka hanya menawarkan konsepsi-konsepsi teoritik normatif semata tanpa dapat diuji validitasnya pada fakta empirik  dan fenomena   sosiologis praksis khilafah yang pernah berlangsung sepanjang sejarah pemerintahan Islam dari Masa Rasulullah hingga runtuhnya Turki Utsmani. 

Semata teoritik normatif doktriner, tak ada satupun gagasan para pemikir pendukung khilafah tersebut didasarkan pada fakta historis atau fenomena sosilogis praktek khilafah dalam pemerintahan Islam yang pernah ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6