Mohon tunggu...
Haya Arafatus Sajidah
Haya Arafatus Sajidah Mohon Tunggu... Mahasiswa

Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Nilai-nilai Pancasila dalam Perayaan Hari Raya Idul Fitri

17 Mei 2021   16:14 Diperbarui: 17 Mei 2021   16:21 306 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nilai-nilai Pancasila dalam Perayaan Hari Raya Idul Fitri
terasjatim.com

Indonesia sebagai sebuah negara memiliki sebuah landasan dalam mempertahankan eksistensinya. Landasan idiil dari negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila sebagai landasan idiil memiliki makna bahwa Pancasila menjadi pandangan hidup oleh seluruh warga negara Indonesia. Oleh karena itu, implementasi terhadap nilai-nilai pancasila perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk implementasi nilai-nilai pancasila ada dalam perayaan hari raya idul fitri.

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri merupakan salah satu momen penting bagi umat islam. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia pasti punya banyak tradisi dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri. Mudik dan Halal bihalal merupakan tradisi wajib yang pasti dilakukan dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri. Banyak nilai-nilai pancasila yang terkandung dalam tradisi mudik dan Halal bihalal ini.

Tradisi mudik sangat erat kaitannya dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Dikutip dari Kumparan.com, mudik atau dalam artian lain pulang kampung ini sudah merupakan aktivitas rutin tahunan bagi sebagian masyarakat Indonesia yang sebagai perantau atau jauh dari keluarga. Ternyata dalam tradisi mudik yang rutin tahunan dilakukan terkandung nilai-nilai pancasila. Implementasi sila pertama pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam tradisi mudik yaitu sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap Allah SWT atas limpahan nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Nikmat dapat menunaikan puasa di bulan Ramadhan dan dapat bersilaturahmi bersama keluarga yang ada di kampung halaman. Dengan silaturahmi kita bisa saling meminta maaf kepada sanak keluarga dan orang tua, serta dapat melaksanakan sholat Idul Fitri. Tradisi yang ada dalam mudik ini mencerminkan nilai pancasila sila pertama.

Pada sila kedua pancasila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” terkandung banyak nilai dalam tradisi mudik. Pemerintah memberikan waktu cuti bersama untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri dan didukung pula oleh berbagai pihak seperti pihak swasta. Dengan adanya cuti bersama ini memberi waktu untuk mudik atau pulang kampung sehingga bisa silaturahmi dengan sanak saudara. Hal ini merupakan salah satu bentuk implementasi nilai pancasila sila kedua.

Implementasi sila ketiga pancasila “Persatuan Indonesia” dalam tradisi mudik diantaranya yaitu kegiatan saling berkunjung, silaturahmi, saling memberi makanan dan minuman ke sanak keluarga yang berkunjung, serta memberi THR (Tunjangan Hari Raya). Hal sederhana seperti ini bisa meneguhkan dan memperkokoh keragaman bangsa termasuk memperkuat persatuan Indonesia.

Pada tradisi mudik juga terkandung nilai-nilai dari sila keempat pancasila “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratn/Perwakilan”. Dikutip dari Kumparan.com, dalam tradisi mudik terdapat 3 poin aspek yaitu poin kepemimpinan, musyawarah, dan keterwakilan. Kepemimpinan dari aspek pemerintah sangat dibutuhkan dalam penyedia dan pengatur jalannya proses mudik lebaran oleh warga. Dalam segala aktifitas yang membutuhkan keputusan yang berdampak sistemik dan luas, tentunya proses musyawarah antar stakeholders sangat perlu dikedepankan. Segala keputusan yang diambil, diharapkan dapat mewakili kebutuhan setiap elemen masyarakat khususnya pemudik lebaran.

Kemudian, nilai-nilai pancasila sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”  yang terkandung dalam tradisi mudik diantaranya tersedianya sarana dan prasarana bagi pemudik yang disediakan oleh pemerintah untuk memberikan kelancaran, keamanan, dan ketenangan saat melakukan mudik. Dari paparan tersebut kita mengetahui bahwa adanya tradisi mudik dalam rangka perayaan Hari Raya Idul Fitri terdapat banayk nilai-nilai pancasila didalamnya.

Selanjutnya, dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri kita identik dengan namanya kegiatan Halal bihalal. Halal bihalal merupakan salah satu tradisi khas umat muslim di Indonesia. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Halal bihalal memiliki arti saling maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat oleh sekelompok orang. Dalam kegiatan Halal bihalal biasanya terdiri dari silaturahmi dan saling bermaaf-maafan. Tradisi Halal bihalal ini sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai pancasila. Dikutip dari Republika.co.id, kegiatan Halal bihalal sudah membudaya di Indonesia dan dirintis oleh Bung Karno dan Bung Hatta sejak tahun 1947. Tradisi Halal bihalal ini menjadi momen untuk saling bersilaturahim, saling menghalalkan, dan saling mencairkan hubungan yang beku. Tradisi Halal bihalal ini juga sudah menjadi tata cara hidup bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan semangat pancasila terutama sila “Persatuan Indonesia”. Dengan adanya kita saling bermaaf-maafan, saling bersilaturahmi akan menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan sehingga akan memberikan dampak positif bagi keutuhan bangsa Indonesia.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri merupakan momen penting dan membahagiakan khususnya bagi umat muslim di Indonesia. Tradisi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri seperti tradisi mudik dan Halal bihalal harus selalu dilestarikan karena banyak memberikan dampak positif bagi kehidupan bangsa Indonesia. Banyak sekali nilai-nilai pancasila yang terkadung dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri. Salah satunya adalah memperkuat rasa kesatuan dan persatuan antara sesama manusia. Dengan adanya keserasian antara perayaan Hari Raya Idul Fitri dan pancasila dapat mengokohkan semangat  persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

VIDEO PILIHAN