astree hawa HAWA
astree hawa HAWA

Change world with love

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Brigjen Herman, Pahlawan yang Dikriminalkan

18 Januari 2010   14:18 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:23 23 0 0

[caption id="attachment_56427" align="alignright" width="300" caption="Foto Kompas - FX Puniman"][/caption]

Di saat perang revolusi ia menjadi pahlawan bagi bangsanya, namun saat ini situasinya begitu memerihatinkan. Pahlawan yang menjadi tersangka korupsi, tapi kasus korupsinya tidak jelas. Pihak POM DAM Jaya pun hanya menyebut kasus lama. Pertanyaannya, kenapa tidak ditindak sejak dahulu jika terlibat kasus korupsi?

Seharusnya dijelaskan pada publik, tentang persoalan hukum yang menerpanya. Supaya sangat terang benderang, karena bagaimana pun Herman Saren Soediro merupakan pahlawan. Dengan gagah berani, melakukan kontak langsung dengan Belanda dan ia pun tidak gentar menghadapi kematian.

Sekilas sejarah tentang Herman Saren Soediro

Mei 1949, sebelum tentara Belanda masuk ke Kecamatan Subang Kabupaten Kuningan untuk kedua kalinya. Di sana banyak prajurit TNI menginap beberapa malam di rumah-rumah penduduk. Mereka tersebar di kampung-kampung dan di lereng gunung masih di wilayah itu.

Diantaranya Desa Subang, Jalatrang, Pamulihan, Legokherang, Cilebak, Jalatrang, Kampung Mandapa. Mereka menunggu perintah operasi dari markas besar komando djawa (MBKD) Cop. X4 yang pada waktu itu, kedudukannya berada di Kampung Cijambu Desa Subang.

Keberadaan TNI di sana, diketahui mata-mata Belanda. Karena setelah tentara Siliwangi meninggalkan Subang, tiba-tiba datang serangan udara dengan menggunakan pesawat pemburu (jager) Belanda dengan senjata 12,7 ke desa Subang. Mendapat serangan tiba-tiba itu membuat rakyat dan tentara menjadi kocar-kacir, peristiwa itu disebut “Subang Direrede”.

Tanggal 15 Juli 1949, MBKD mengeluarkan perintah khusus pada Letnan Satu (Lettu) Herman Sarens Soediro sebagai komandan staf decking MBKD Cop. X4. Surat perintah Nomor IX7/MBKD/XY/49, yang isinya memerintahkan 1). Staf decking MBKD (pas. LT. K. Heram dan SM Asep) dijadikan satu dengan LT Herman sebagai CDT dan SM Asep dijadikan wakilnya.

2). Mulai tanggal 10/6/1949 sampai ada perintah lain terlepas dari kewajiban sebagai staf decking dan khusus diwajibkan mengusir Belanda dari Subang tactish di bawah KMD-KODM Subang. 3). Seluruh pemuda dan rakyat membantu gerakan tersebut, 4). Mulai tanggal yang telah ditetapkan dengan pesan, 5). Rakyat esok menunggu jangan jauh dari lobang perlindungan.

6). Detail uitvoering terserah pada CDT-CDT dan pimpinan yang bersangkutan, 7). Selamat berjuang dan tentu menang, 8). Selesai. Di keluarkan di lapangan pada tanggal 15 Juli 49 jam 16.00. a/n Panglima, Wakil Kepala Staf Teritorial, ttd, Sukanda Bratamanggala, Letnan Kolonel.

Berdasarkan surat perintah khusus tersebut, Lettu Herman Sarens Soediro mendapa tperintah untuk mengusir Belanda dari Subang. Bulan Juli 1949 dilakukan penyergapan pertama terhadap Makras Serdadu Belanda berkekuatan 1 kompi. Penyergapan ini dipimpin langsung Lettu Herman Sarens Sudiro.

Terjadi vuur contact (kontak senjata) sehingga pihak Belanda mengalami kerugian banyak tentaranya yang gugur. Sementara dari pasukan Herman Saren Soediro, yang tewas hanya satu orang bernama Muskim. Keberhasilan penyergapan pertama membuat dia merencanakan penyerangan lanjutan.

Pada suatu sore (tdk jelas harinya apa), pukul 17.00 wib ketika serdadu Belanda sedang santai dan jumlahnya demikian banyak. Mereka berkumpul di alun-alun Subang ada yang bermain sepak bola juga ada yang menonton. Lettu Herman Saren Soediro dengan dua kompi tentara dan dibantu satu peleton pemuda Subang.

Melakukan penyerangan dari tiga arah, Lettu Herman dengan pasukannya menyerang dari sebelah utara (pasir Kadupugar. Kompi Aria Kamuning dari Kuningan menyerang dari sebelah barat atau pasir Manggu. Sedangkan sebelah selatan oleh pemuda Subang tepatnya dari pasiur Wuni.

Serangan pasukan Siliwangi di bawah komanda Lettu Herman Saren Sudiro membuat Belanda mengalami kerugian jiwa dan material tidak sedikit. Kendati perlawanannya cukup sengit, namun Belanda tidak bisa bertahan lama. Akhirnya mereka meninggalkan Subang ke Kabupaten Ciamis.

Karena merasa marah atas kekalahannya, Belanda sebelum meninggalkan Subang, mereka membakar rumah penduduk yang menghanguskan sejumlah 648 rumah, 19 langgar (mushola) dan tiga buah masjid. Subang pada waktu itu menjadi lautan api namun masyarakat bersuka cita karena Belanda bisa disingkirkan.

Lettu Herman Saren Soediro, merupakan perwira tentara pelajar Siliwangi yang disebut Corps Pelajar Siliwangi (CPS) di daerah Priangan Timur. Pada kesatuan itu, ia menjabat sebagai komandan kompi untuk Banjar Kabupaten Ciamis. Selama perang kemerdakaan I, ia berjuang bersama Kapten Amir Machmud (selanjutnya jadi ketua MPR).