Mohon tunggu...
Haura Zahrana
Haura Zahrana Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Munir, Aktivis Hebat dan Teka - Teki Kematiannya

11 April 2019   12:19 Diperbarui: 11 April 2019   19:40 177
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber : https://pin.it/jpqg23jknrp2gt

"Halo kaum melanial atau biasa disebut gen - z .... Banyak dari kalian pasti sudah mengenal salah satu aktivis hebat yang satu ini, bukan? Kali ini saya ingin membagikan sejarah singkat  tentang kehidupnya dan teka- teki kematiannya. Ayo simak artikel berikut ini!"            

- Penulis -

Munir Said Thalib. Anak dari Sa'id Thalib dan Jamilah. Anak ke enam dari tujuh bersaudara. Lahir pada tanggal 8 Desember 1965. Mempunyai darah keturunan Jawa dan Arab. Ia mengenyam pendidikan di salah satu universitas ternama di Malang. Universitas Brawijaya. Ia mengambil fakultas hukum dan menamatkan kuliahnya pada tahun 1990. Ia pernah menjabat sebagai ketua senat fakultas hukum Universitas Brawijaya (1988), kordinator wilayah IV Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia (1988), anggota dari Himpunan Mahasiswa Islam(1988), dan sekertariat Al - Irsyad cabang Malang (1988).  

Munir adalah seseorang yang kritis dalam berpikir dan lantang menyuarakan aspirasinya. Goresan pena menjadi salah satu ciri khasnya. Ia aktif menulis mengenai banyak hal seperti, HAM, reformasi, politik, kepolisian, dan perburuhan. Berkat kemahirannya ia banyak mendapatkan penghargaan seperti, Man of The Year 1998 majalah, Brawijaya Tokoh Terkenal Indonesia pada abad ke - 20 Majalah Forum, Mention of The 2000 UNESCO, dan masih banyak lagi.

Ia mengawali karirnya sebagai relawan di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) pada tahun 1989 di Surabaya dan ia sudah menangani berbagai kasus. Ia menangani kasus seperti, kasus Marsinah (1994), kasus Araujo (1995), kasus kerusuhan di PT. Chief Samsung (1995), kasus Muhadi (1994), kasus pemberantaian dalam tragedy Tanjong Priok (1984 - 1998), kasus penembakan mahasiswa di Semanggi I (1998) Dan Semanggi II (1999), dan masih banyak lagi. 

Pada tahun 1996 ia memutuskan untuk mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Tidak hanya itu, ia juga mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia. Namanya mulai naik daun ketika ia menjadi salah satu pejuang bagi orang - orang hilang yang diculik oleh Tim Mawar dari Kopasus setelah masa Soeharto tergulingkan dari pemerintahan. Dan tidak disangka, ternyata ia adalah target pembunuhan selanjutnya.

Bermula ketika ia ingin melakukan perjalan menuju Amsterdam untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Ultrecht. Yang ternyata membawa malapetaka baginya, mengantarkan dirinya menuju akhir  kehidupnya. Banyak orang yang berasumsi bahawa kematiannya adalah sesuatu yang sudah direncanakan, hal itu didukung dengan tertangkapnya Pollycarpus Budihari Priyanto. 

Pollycarpus adalah seorang pilot yang menerbangkan pesawat yang di tumpanginya. Dan asumsi itu juga didukung dengan hasil otopsi, yang ditemukannya racun arsenik didalam tubuhnya. Hal itu juga berkaitan dengan minuman jus jeruk yang diminum olehnya di dalam pesawat. Hingga saat ini Pollycarpus sudah dibebaskan bersyarat dari penjara. 

Hal ini juga dikuatkan dengan pendapat TPF Brigadir Jendral (POL) Marsudi Hanafi yang menyimpulkan bahwa kematian Munir adalah kejahatan konspriratif  yang melibatkan Garuda Indonesia. Tetapi, pada tahun 2016 muncul kabar bahwa dokumen yang berisi hasil penyidikan TPF hilang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun