Hastira Soekardi
Hastira Soekardi lainnya

Pengajar, Penulis, Blogger,Peduli denagn lingkungan hidup, Suka kerajinan tangan daur ulang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mawar Hitam

12 Juli 2018   03:20 Diperbarui: 12 Juli 2018   03:44 1710 2 0
Mawar Hitam
Ilustrasi: Twitter.com/anna_nasution90

Nury diam sesaat untuk kembali menghela nafas. Hatinya mendidih. Baru kali ini dia merasakan hatinya sakit. Sakit karena dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Nana akhirnya mendapakan keinginnannya untuk menjadi manajer di perusahaan dengan menggeser dirinya. 

Bukan Nury iri karena Nana bisa menggantikan dirinya tapi Nana menggunakan cara yang licik untuk mendapatkan jabatannya. Ah, Nury baru tahu apa maksud Nana selama ini mendekati pak Nurul. 

Ternyata hanya untuk mendapatkan jabatan ini. Nury perlahan meninggalkan ruang . Pelantikan Nana masih berlangsung. Dia amsih gak mengerti . Ternyata selama ini dia belum bisa mendalamai hati Nana. Ternyata hati manusia tak bis akita dalami walau sudah lama kita berhubungan. Seseorang menepuk pundak Nury. Nury menoleh ke belakang. Nisa tersenyum padanya.

            "Kamu tak apa-apa." Nury menggeleng

            "Aku tahu perasaanmu."

"Terimakasih,"tukas Nury dan segera beralalu dari sana untuk ke toilet. Nury cepat menuju toilet dan di sana dia menumpahkan isi hatinya dengan tangisan. Perlu beberapa lama untuk menyepi di sana. Suara ketukan sepatu mendekat toilet, Nury cepat membersihkan wajahnay dan berusaha senormal mungkin menghadapi rekan-rekannya.

Nury pikir, Nana akan biasa saja pada dirinya tapi Nana menjadi sombong. Bahkan semena-mena. Dan yang tak habis pikri Nana memberikan informasi salah tentang dirinya pada pak Nurul. 

Dan informasi itulah Nury mendapatkan surat pemberhentian kerja. Nury sudah tak dapat lagi bicara hatinya sudah penuh dengan sakit hati. Beberapa rekan kerjanya banyak yang mau protes karena apa yang dituduhkan pada Nury itu salah besar.

"Sudahlah tak apa. Kalau kalian membela aku, bisa-bisa kalian juga kena depak dari sini. Aku tak apa-apa." Nury membereskan mejanya dan langsung keluar tanpa mengambil uang pesangonnya. Semua hancur sekejap kariernya, persahabatannya. Semua hilang.

Ternyata walau Nury sudah mendapatkan peketrjaan lain tapi dendam pada diri Nana masih membara. Tak pernah hilang. Sampai akhirnya Nury selalu mengirimkan bunga mawar hitam pada Nana. 

Dengan secarik kertas bertuliskan. "Selamat sayang, mati kamu. Setiap hari mawar hitam itu datang pada Nana. Walau Nury tak tahu reaksi Nana seperti apa, dia tahu pasti Nana akan merasakan ketakutan. Teror terus menerus pada Nana aku buat agar dia ketakutan. Dan mawar hitam yang terakhir aku krimkan dengan sebagian darahku. 

Nury tersenyum. Rasanya masih dia ingin mengirimkan teror terus untuk memberikan ketakutan bagi Nana. Bahkan teror mawar hitam terus menerus dia lakukan agar Nana ketakutkan

Siang itu Nury sedang menyelesaikan pekerjaan yang banyak tertunda  karena dia sibuk dengan teror pada Nana. Pikirannya hanya membayangkan reaksi Naan. Dirinya merasakan kalau Nana akan ketakutan. Ada sedikit rasa puas dalam hatinya.

            "Nury, ada yang cari kamu di lobi,"tukas satpam depan kantor.

"Ya, aku segera turun." Nury turun perlahan . Siapa tamunya . Saat pintu lift terbuka di lobi dia melihat sosok yang dia tahu betul siapa. Nana. Sedanga apa dia ke sini. Apa dia tahu tentang teror.

            "Nana." Nana membalikan tubuhnya dengan senyumnya.

            "Gimana kabarmu , Nury?" Nana mendekatinya dan tiba-tiba saja Nury terkulai di lantai bersimbah darah.