Mohon tunggu...
H.Asrul Hoesein
H.Asrul Hoesein Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang Sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Jakarta http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Founder PKPS di Indonesia | Founder Firma AH dan Partner | Jakarta | Pendiri Yayasan Kelola Sampah Indonesia - YAKSINDO | Surabaya. http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Maskapai Asing Perlu Hadir untuk Menurunkan Harga Tiket

10 Juni 2019   00:03 Diperbarui: 10 Juni 2019   08:36 1135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Sejumlah maskapai nasional terparkir di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan Kalimantan Timur| Kompas.com/ Bambang P. Jatmiko

Juga batasi tahun produk pesawat asing tersebut. Harus pesawat terbaru. Jangan izinkan pesawat yang sudah tua beroperasi di Indonesia. Hal kevalidan terbang pesawat ini menjadi hal utama yang harus diproteksi oleh pemerintah.

Paling penting pula pemerintah harus membuat kesepahaman terlebih dahulu kepada para pengelola usaha penerbangan asing yang bersedia masuk ke bisnis jasa penerbangan di Indonesia. Agar menandatangani fakta integritas yang salah satu poinnya adalah memberi pelayanan yang prima dengan harga terjangkau.

Bila rencana ini terwujud bisa jadi mengurangi dominasi Garuda Indonesia dan Lion Air yang menguasai penerbangan nasional. Memang pemerintah harus menjaga dan jangan membiarkan dominasi tersebut terjadi, rakyat akan jadi korban.

Kelompok pengusaha Indonesia juga menyambut baik rencana pemerintah tersebut. Dampak dari mahalnya tiket tersebut saat ini bukan hanya menurunnya tingkat kunjungan turisme mancanegara dan domestik. Tapi juga menurunkan aktivitas atau geliat ekonomi nasional.

Jadi mahalnya tiket pesawat bukan hanya mengganggu pariwisata, tapi juga mengganggu pertumbuhan ekonomi. Banyak aktivitas yang harusnya dilakukan. Tapi karena harga tiket mahal, maka mereka tidak jadi pergi ke sana kemari. Termasuk ke ibu kota Jakarta dan maupun aktivitas ke daerah semakin berkurang.

Dampak tiket pesawat mahal paling besar ke daerah timur Indonesia seperti penerbangan ke Sulawesi, Maluku, Kalimantan, hingga Papua. Juga penerbangan ke daerah barat seperti Medan, Palembang, dan Aceh.

Protes Maskapai Nasional
Sementara pengusaha maskapai penerbangan nasional tidak setuju rencana pemerintah mengundang maskapai asing tersebut. Mereka protes dengan alasan akan merusak pasar penerbangan domestik. Diragukan tiba-tiba tinggalkan Indonesia, bila tidak untung lagi.

Sebenarnya alasan maskapai penerbangan nasional ini tidak berdasar. Karena malah akan semakin menambah frekuensi penerbangan bila persaingan ketat. Maskapai asing tentu melakukan analisis bisnis sebelum investasi. Jadi maskapai nasional tidak usah ragu. Kecuali memang merasa tersaingi dan tidak bebas lagi atas adanya kompetisi.

Ilustrasi: Duopoli Garuda dan LionAir Sumber; beritatrans
Ilustrasi: Duopoli Garuda dan LionAir Sumber; beritatrans
Tidak mungkinlah, karena maskapai penerbangan asing harus buat perusahaan dan bermacam-macam investasi mereka sebelum melakukan operasional penerbangan. Termasuk pemerintah tentu melakukan kajian bagaimana sistem atau masa kontrak dan lainya.

Karena tentu harga tiket otomatis akan turun karena konsumen mempunyai alternatif memilih maskapai penerbangan yang bisa memberi harga terjangkau.

Mari kita dukung Presiden Jokowi merealisasikan idenya mengundang perusahaan maskapai asing masuk ke Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun