Mohon tunggu...
H.Asrul Hoesein
H.Asrul Hoesein Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang Sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Jakarta http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Pemerhati dan Pengamat Regulasi Persampahan | Terus Menyumbang Pemikiran yang sedikit u/ Tata Kelola Sampah di Indonesia | Green Indonesia Foundation | Founder PKPS di Indonesia | Founder Firma AH dan Partner | Jakarta | Pendiri Yayasan Kelola Sampah Indonesia - YAKSINDO | Surabaya. http://asrulhoesein.blogspot.co.id Mobile: +628119772131 WA: +6281287783331

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Perbedaan Sikap Megawati pada Pilgub Jatim dan Sulsel

16 Oktober 2017   00:20 Diperbarui: 16 Oktober 2017   01:31 3394
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pilkada 2018 Beraroma Pilpres 2019 (dok-Asrul)

Pasangan NA-ASS belum tentu final, bisa jadi ada perubahan signifikan pada detik-detik terakhir (ingat pada saat PDIP mengusung Ahok-Djarot pada Pilgub Jakarta 2017) oleh Megawati atau terlebih perubahan kandidat oleh partai-partai koalisi. Keputusan final setelah terdaftar di KPUD Sulsel atau masing-masing partai sudah menentukan sikapnya dalam satu koalisi.

Pasangan NA-ASS, bisa jadi tidak ikut bila ngotot berpasangan, karena partai lainnya bisa lain sikap dengan PDIP, terlebih bila partai lain mengambil patron perpisahan NA dan Tanribali Lamo (TBL). Bisa saja NA diterima tapi ASS ditolak dan kembali menerima TBL, atau bisa jadi ada partai menerima NA tapi hanya pada posisi cawagub (seperti terjadi pada kader PDIP Jatim yang menempatkan AAA sebagai bacawagub), ataukah NA harus menerima bacawagub selain ASS atas permintaan partai koalisi PDIP yang secara otomatis Megawati harus menerimanya). Justru Megawati sendiri menciptakan penguatan "kandidat" pada dan/atau oleh partai lain.

Dulu NA-TBL ditengarai terancam dan hanya akan jadi penonton Pilgub Sulsel 2018. Maka ahirnya NA lepaskan TBL (dengan alasan permintaan partai) kalau permintaan koalisi partai masih masuk akal politik, tapi kalau cuma alasan satu partai (PDIP) saja menolak TBL, itu baru wowww. Namun pastinya pasangan NA-ASS ini juga perlu hati-hati, karena jangan sampai terjadi kondisi yang sama dengan NA-TBL. Partai koalisi bertahan mengajukan kandidat lain. Terjadilah buah simalakama.

Pasca pengumuman PDIP memilih NA-ASS, NA-ASS akan dihadapkan pada kondisi "tersulit" mencari dan menggandeng partai koalisi, semakin berat dan dugaan logistik akan berlipat ganda yang harus disiapkan oleh NA-ASS (partai koalisi PDIP akan diuntungkan) baik internal maupun eksternal. Pada point inilah, saya prediksi Megawati menjadikan Pilgub Sulsel sebagai uji coba strategi(cerita kiri masuk kanan) dan merupakan langkah lunak Megawati setelah menunjukkan langkah kerasnya di pilgub Jatim dalam menghadapi Pilpres 2019 ?!

PDIP tidak bisa ngotot mengunggulkan jagoannya untuk posisi gubernur Sulsel, apalagi hendak berkoalisi Partai Golkar, sangat tidak mungkin Partai Golkar akan mengalah di basis suaranya (Sulsel), sama juga partai lain (partai-partai bisa saja menahan laju jagoan PDIP tersebut). Ataukah Partai Gerindra akan berkolisi PDIP, ini juga langkah berat bagi PDIP. Tentu tidak semulus yang dibayangkan. 

Posisi Megawati dimata Jokowi untuk Sulsel masih tanda tanya besar, apakah akan sinergi atau tidak. Walau diketahui ASS adalah adik kandung Menteri Pertanian A.Amran Sulaiman (Timses Jokowi-JK pada Pilpres 2014). Karena Partai Golkar juga semakin solid mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

Analisa "perbedaan" sikap politik antara Megawati dan Jokowi tersebut diatas, lebih kepada pembacaan situasi politik menjelang Pilpres 2019. Dimana Jokowi kelihatan lebih cenderung memilih Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dibanding Puan Maharani sebagai cawapres Jokowi untuk 2019-2024. Sedikit terbaca Megawati akan mendorong Puan Maharani mendampingi Jokowi, atau bisa jadi "ambisi" untuk mengganti Jokowi. Bisa diperkirakan bahwa menjelang Pilpres 2019, Puan Maharani akan menduduki posisi sebagai Ketum PDIP menggantikan Megawati, sebelum berlaga pada ajang Pilpres 2019.

(Baca disini: Gus Ipul-Azwar Anas Belum Tentu Dukung Jokowi di Pilpres 2019)

Sangat dipastikan pada Pilkada Serentak Jilid 3 Tahun 2018 ini sungguh strategis menghadapi Pemilu dan Pilpres 2019. Maka wajarlah seluruh partai-partai (khususnya partai papan menengah atas) ini sangat ekstra hati-hati dalam menentukan sikapnya memilih pasangan pemimpin daerah, baik bupati atau walikota maupun gubernur, karena akan berimplikasi langsung terhadap strategi politik pada pilpres 2019.

Berita Terkait:

1. Megawati Umumkan Bakal Cagub Jatim dan Sulsel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun