Rena Siva
Rena Siva Karyawan Swasta

https://www.wattpad.com/user/Rena_Siva Instagram : rena_siva08 Salam kenal. Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Hanya satu pesan jangan menyalin karya saya tanpa izin ya.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Tak Ada Bunga Terakhir untuk Sofia

11 Januari 2018   15:37 Diperbarui: 12 Januari 2018   17:35 867 11 5
Cerpen | Tak Ada Bunga Terakhir untuk Sofia
Foto: harivalzayuka.com

Kaulah yang pertama menjadi cinta

Tinggalah kenangan

Berakhir lewat bunga

Seluruh cintaku untuknya...

Lagu milik Bebi Romeo mengelam di seluruh sudut restoran yang aku singgahi saat ini. Aku tersenyum sinis. Bunga Terakhir, isi lagu itu terlihat amat miris untuk kudengar.  Aku tak ingin kisah cintaku bernasib sama dengan makna lagu itu. 

Lebih baik mengaduk minumanku dengan sedotan daripada fokus menyerapi isi lagu itu jika berakhir menyayat hati.

Kutatap layar ponsel yang berdering dengan senyuman. Ada perasaan bahagia bercampur lega saat dia lebih dulu menghubungiku. 

Sebuah tanda jika dia dalam keadaan baik-baik saja setelah melewati perjalanan panjang karena tuntutan pekerjaan.

"Hai," sapa cerianya di ujung telepon.

"Hai, apakah kamu mendarat dengan selamat hari ini?"

"Seperti yang kau dengar Kapten. Aku selalu mendarat dengan selamat berkat doamu," balasnya selalu terlihat menyenangkan seperti biasanya.

Dialah Sofia, kekasihku. Gadis manis yang terlahir menjadi penjelajah. 

Hampir seluruh kota di Indonesia pernah dia singgahi walaupun hanya sesaat. Aku tak pernah menyangka akan dipertemukan olehnya lewat cara yang sangat unik beberapa tahun yang lalu.

Kami tak sengaja bertemu saat aku menjadi penumpang di pesawat tempat dia bekerja. Dia memanggiku dengan sebutan 'mbak' tanpa tahu bahwa diriku laki-laki tulen. Dia langsung dilanda panik saat aku berbalik menghadapnya. 

Aku tersenyum geli ketika dia berulang kali minta maaf dihadapanku. Entah karena masih berstatus pramugari junior atau terpesona akan ketampananku, dia selalu menundukan kepala ketika aku melintas di depannya setelah peristiwa salah panggil itu.

Lewat pertemuan itulah aku mulai memberanikan untuk berkenalan walaupun sebenarnya itu bukan pertama kali kami dipertemukan karena aku sudah menjadi langganan pesawatnya saat aku pulang ke kampung halamanku di Lombok.

"Apa kamu jadi pergi?" tanyanya.

"Ya. Kenapa?"

Ada hembusan nafas berat yang kudengar darinya. Aku tahu dia pasti khawatir dengan rencanaku ini. Dua hari lagi aku akan mendaki Gunung Rinjani. Dia sudah tahu jika aku adalah seorang Pendaki, entah sudah berapa gunung yang aku daki. 

Aku tak mau menghitungnya tapi Sofia tahu berapa jumlah gunung yang sudah aku taklukan. Dan dia selalu khawatir saat aku akan pamit pergi.

"Jangan lupa kamu bawakan bunga itu untukku," jawabnya mantap membuatku terkejut.

"Hah? Kukira kamu cemas padaku ternyata perkiraanku salah."

"Haha. Tentu aku cemas padamu tapi aku tahu kamu akan berkata, 'kubawakan bunga edelweis untukmu jangan terlalu cemas padaku'."

Kini aku yang tertawa saat dia berkata seperti itu. Membawakan bunga itu untuknya adalah salah satu bukti jika aku selamat selama mendaki. Itulah janjiku padanya.

"Apa kamu bisa mengantarku besok?" tanyaku sedikit ragu.

"Maaf Dion aku tak bisa, besok tak ada jadwal penerbanganku ke Lombok."

Kuakhiri perbincangan ini dengan perasaan kecewa. Mungkin tak ada pelukan hangat darinya sebelum aku mendaki nanti.

Kueratkan tas ransel di punggungku bersiap mendaki gunung api tertinggi kedua di Indonesia. Ada perasaan yang kurang dalam diriku. Andai ada Sofia kemarin di pesawat yang aku tumpangin mungkin rasanya akan berbeda. 

Sayangnya dia tidak ada. Sudah satu tahun ini dia pindah rute penerbangan ke kota lain. Mungkin aku harus berdamai dengan kenyataan ini.

Ponsel di saku celanaku menjerit seolah tak sabar untuk segera minta diangkat.

Sofia?

"Hai," sambutnya ceria sama seperti sebelum-sebelumnya.

"Hai, apa kamu sudah mendarat dengan selamat?" pertanyaan monoton itu terulang lagi dari mulutku.

"Tentu, aku pasti akan mendarat dengan selamat nanti. Aku sengaja telepon kamu sebelum terbang karena teringat wajahmu."

Bibirku mengukir senyum singkat untuknya. Ternyata rasa ini masih sama. Saling merindukan walaupun harus berjauhan.

"Maaf selama empat hari ke depan aku tak bisa mengangkat teleponmu."

"Aku tahu itu tapi aku akan tetap menghubungimu setelah penerbanganku nanti. Dan ingat---"

"Akan selalu kubawakan bunga itu untukmu," potongku segera.

"Dan ada satu lagi janji kita. Bertemu di bandara Lombok lima hari ke depan," sahutnya

Kami pun saling tertawa, menertawakan sebuah janji yang kami buat layaknya anak kecil yang selalu saling menagih untuk dipenuhi. Diriku semakin tak sabar untuk segera menuntaskan pendakian ini dan bertemu dengan pujaan hatiku, Sofia.

Aku dan kelompokku kini mulai mendaki Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun. Jalur ini selain ramai oleh pendaki lain, juga mudah untukku mendapatkan bunga itu. Sepanjang perjalanan mataku tak lepas dari sekeliling untuk menemukannya. 

Sayang aku sama sekali tidak melihat bunga itu. Aku menghembuskan nafas kesal. Hanya karena aku datang saat musim kemarau bunga itu tak mau tumbuh dan mekar. Rasanya lucu.

"Kawan-kawan ayo lebih semangat lagi sebentar kita sampai," teriak Tio yang berada di ujung.

Aku tersenyum getir, "sepertinya tak ada bunga itu di sini." Gumamku pelan.

"Dion, tu lihat! Akhirnya bisa lihat edelweis juga," ucap Dio menepuk bahu pelan.

Mataku langsung beralih ke tempat Dio melihat bunga itu. Ternyata benar bunga itu tumbuh dan mekar di tepi jurang. Dengan cekatan aku berlari menuju ke sana. Harapanku kini tak sia-sia aku bisa membawakan bunga itu untuknya.

"Apa yang kamu lakukan? Jangan nekat!" cegah Tio berusaha menarik tubuhku yang sudah berada dekat dengan bunga itu.

Aku tak mengubrisknya. Kulepas tangannya dari tubuhku. Dengan hati-hati aku mulai turun ke sisi jurang yang cukup curam. Satu tanganku berusaha mengenggam erat ilalang yang tumbuh kuat sepanjang sisi jurang sementara tanganku berusaha meraih bunga itu. 

Aku sudah lima kali mendaki gunung ini, selalu berhasil membawakan bunga edelweis segar untuknya, kali ini walaupun untuk terakhir kali aku tak akan menyerah untuk mendapatkannya.

Sayang walaupun aku berhasil mendapatkan bunga itu, ilalang yang kujadikan pegangan tak mampu menahan beban tubuhku, perlahan tubuh terposok ke bawah. Teriak-teriakan memanggil namaku menggelama di atas kepalaku dan masih jelas kudengar. 

Sayang tubuhku semakin terperosok ke bawah. Kedua tanganku berusaha meraba apa saja untuk memperlambat laju tubuhku yang semakin turun ke dasar jurang. Hingga tanpa kusadari kepalaku menghantam sebuah batu dan menghentikan seluruh usahaku. 

Tubuhku seperti mati rasa, jantungku terus berdetak tapi aku tak bisa merasakan apa-apa. Mungkinkan ini terakhir kali untukku bisa memetik bunga edelweis untuk Sofia?

Aku terus tersenyum saat mengenang peristiwa dramatis yang terjadi empat hari lalu. Hanya karena janji manisku membawakan bunga itu. Hampir saja kusia-siakan nyawaku melayang begitu saja. 

Beruntung aku tertolong karena Dio dan kawan-kawanku yang lain berhasil memangkat tubuhku dari dasar jurang. Kepalaku memang terbentur tapi tak menyebabkan kerusakan yang parah hanya pingsan. Saat aku di puskemas terdekat Dio terus saja mengomelku.

"Kau bodoh Dion, sebagai pendaki harusnya kamu tahu kalo kita dilarang memetik bunga itu," omelnya.

"Kita di sini bukan hanya penakluk gunung tapi juga harus tahu jika alam untuk dijaga bukan dirusak untuk ego semata."

"Untung kamu selamat, bayangkan jika jadi mayat!"

Omelan demi omelan terus berjatuhan dihadapanku. Aku hanya diam dan menunduk. Aku patut bersyukur masih diberikan teman seperti mereka yang mau menyelamatkan dan perduli padaku. 

Walaupun aku hanya berhasil membawakan bunga edelweis kering yang ku beli dari warga sekitar untuk Sofia tapi bertemu dengannya dalam keadaan sehat jauh lebih berarti untuknya.

Kini tak ada lagi bunga edelweiss segar untuk Sofia tapi edelweis kering untuknya. Karena selama aku masih hidup dan mendaki tak akan pernah ada bunga terakhir untuk Sofiaku.