Suharti
Suharti pedagang

Menulis apapun selama kau mampu

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Berkah Bersyariah, Mengajarkan Mandiri di Kaki Sendiri

13 Januari 2018   00:38 Diperbarui: 14 Januari 2018   21:23 366 5 0
Berkah Bersyariah, Mengajarkan Mandiri di Kaki Sendiri
Ilustrasi I maybank.co.id

Perjuangan Itu Memang Butuh Pengorbanan?

Setidaknya pertanyaan di atas bisa menjadi tantangan untuk menebalkan keyakinan dan membakar semangat dalam menjalani terjal alur kehidupan. Apalagi coba, selain sekuat tenaga memutar roda ekonomi rumah tangga sehari-hari.

Caranya iya jelas dengan bekerja, baik bekerja menjadi karyawan swasta ataupun ber-wiraswasta, keduanya bisa menjadi tangga untuk memetik impian dan harapan hidup yang tinggi melebihi langit.

Prosesnya memang melelahkan, salah satunya dengan cara mengelola semua pendapatan dari hasil bekerja tadi, se-efesian dan se-efektive mungkin. Lalu pertanyaannya, apakah hasil dari bekerja tadi, sudah disisihkan untuk ditabung? Terlebih buat diinvestasikan.

Namun, gelombang kesuksesan dalam pekerjaan persis sama seperti gelombang di lautan. Gelombang ekonomi yang datang tiba-tiba, bisa saja menggerus semua harapan dan impian. Apalagi kalau bukan resiko kebangkrutan dalam berusaha, yang memantik gelombang PHK dimana-mana. Dan memampetkan arus cash-flow, debet dan kreditekonomi rumah-tangga.

Sebagai masyarakat Urban, hal tersebut menjadi resiko di depan mata, dan perlu persiapan yang matang dalam pengelolaan keuangan untuk bisa tetap survive,utamanya memilih jenis bank untuk tempat penyimpanan dan juga pembiayaan yang aman.

Manisnya jatuh bangun, mengalami PHK sebanyak dua kali sudah saya kecap dan akhirnya saya memberanikan diri untuk ber-wiraswasta dalam melanjutkan perjuangan menggapai harapan bersama keluarga.

Memulainya, tentu tak lepas dari kepercayaan Bank dalam memberikan talangan permodalan sebagai nafas baru untuk mereset perputaran roda ekonomi keluarga  yang sempat terhenti kala itu. Agar tetap melaju berputar menggilas waktu menuju masa depan.

Dan akhirnya menguatkan kaki-kaki saya untuk berdiri sendiri be-wiraswasta membuka warung makan melalui prinsip kerjasama 'berat sama dipikul, ringan sama dijinjing'bersama Bank Syariah.

Tsunami 1997-98 itu?

Perekonomia Indonesia bakkiamat saja, di tahun 1997 silam akibat hantaman krisis moneter. Iklim usaha sakit-sakitan akibat likuiditas Perbankan. Segmen Koorporasiterlilit kredit macet akut. Bank-bank konvensional harus menjalani terapi Merger untuk bisa sehat kembali.

Anehnya, sistem Perbankan syariah malah didorong untuk membantu menggerakkan ekonomi negeri pasca krisis itu. Hal itu terlihat dari adanya rangsangan kebijakan Pemerintah yang tertuang dalam UU No 10 tahun 1998, yang memberi akses penerapan bisnis bank syariah pada dual systempada bank-bank konvensional.

Hal itu beralasan jika melihat kesuksesan Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama di Indonesia telah merasakan beratnya menjalani hantaman ekonomi itu. Rasio pembiayaan macet (NPF) lebih dari 60%.

Kerugian Bank Muamalat diperkirakan mencapai Rp 105 miliar. Dimana Ekuitas mencapai titik rendah, yakni Rp 39.3 miliar, kurang dari sepertiga modal setor awal.

System perbankan syariah  terbukti mampu menahan badai ekonomi itu, dimana Bank Mualamat dalam waktu singkat di tahun 2002, telah dapat membukukan keuntungan dari kerugian. Nah, jadi bertanya-tanya kok bisa?

Jika saya cermati, ternyata sistem perbankan syariah telah banyak memberikan manfaat kepada para nasabahnya. Dimana momok suku bunga pinjaman yang tinggi dan mengambang, membuat banyak nasabah tidak dapat membayar hutangnya di bank pada saat badai krisis itu, terlebih bagi mereka yang mengalami PHK seperti saya.

Namun ternyata fenomena tidak berlaku kepada para pelaku usaha atau nasabah yang memilih menggunakan dana bank syariah. Para pengusaha tidak perlu membayar bunga sampai puluhan persen. Mereka cukup berbagi hasil dengan bank syariah. Dan penentuan persentasi bagi hasil itu, dilakukan di awal pengambilan pinjaman. Ini point pertama, yang saya rasakan!

Gelombang Susulan 2012-2014

Lagi, Indonesia mencatat defisit perdagangan sebanyak tiga kali secara beruntun pada periode 2012-2014. Krisis finansial yang melanda Amerika Serikat, belum membaiknya perekonomian Benua Eropa, turunnya permintaan komoditas andalan Indonesia serta meningkatnya impor membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit.

Grafik Neraca Perdagangan Indonesia I Katadata.com
Grafik Neraca Perdagangan Indonesia I Katadata.com

Tahun 2015-2016 lalu, Perbankan kita juga kembali hantaman merasakan kondisi efek dari  perlambanan ekonomi dunia, akibat hancurnya harga minyak dan batubara dunia. Dan itu membuat sector ekonomi Indonesia pun terkena imbasnya.

Setidaknya bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang bergolak di daerah-daerah yang selama ini mengandalkan sector-sektor pertambangan bagi pundi APBD mereka seperti Kalimantan Timur (Kaltim), misalnya. 

Coba kita lihat, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5 % medio 2015-2016, pertumbuhan ekonomi di daerah Kaltim malah minus dibawah 1 %. Imbasnya, PHK terjadi di banyak perusahaan di daerah Kaltim ini.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Vs Kaltim I BI Kaltim
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Vs Kaltim I BI Kaltim

Dan penerimaan sector pajak daerah menjadi tersendat. Efek domino dari fenomena kredit macet baik skala korporasidan perorangan pada Bank menjadi-jadi. Dimana banyak karyawan yang akhirnya tidak mampu membayar cicilan hutang apapun yang mereka buat dengan bank konvensional.

Angka pengangguran menjadi tinggi, menyebabkan daya beli menurun dan akhirnya berdampak pada aktivitas perbankan yang menjadi lamban dalam menggerakkan ekonomi secara luas lagi. Dan kita tidak tahu, kapan bencana ekonomi akan terjadi lagi kedepannya-kan? Dan ini point kedua yang akan menjadi tantangan!

Berkah Bersyariah.

Hantaman gelombang ekonomi di atas memberikan fakta saat ini betapa sengitnya memperoleh lapangan kerja akibat melimpahnya jumlah pencari tenaga kerja. Naas-nya saya-pun pernah terseret dan terhempas dengan kehilangan pekerjaan di tahun 2000 dan 2015 lalu, akibat PHK. Namun saya berfikir, apakah hal diatas membuat hidup kita menjadi tamat pula?

 Ahh, mendapati  kenyataan itu, memang tidaklah gampang. Namun kedua point diatas lantas menjadi pembelajaran pertimbangan dan semangat baru, untuk segera berhijrah yakni mencoba, berwiraswasta, berdiri di kaki sendiri dengan dasar syari'i agama islam dengan mengharapkan keberkahan yang kita yakini ada.

Jangan ditanya soal modal usaha kali pertama di tahun 2015 lalu, karena tabungan yang tersisa telah terbagi untuk melunasi cicilan rumah dan hutang lainnya. Dengan ketekadan yang bulat saya mendapatkan dana segar  Rp 10 juta dari salah satu Bank syariah untuk menjalankan usaha warung makan kecil-kecilan, dengan menggelar menu soto ayam dan minuman jus buah.

Lumayan, jika cuaca cerah pendapatan bersih Rp 200 ribu, bisa saja masuk ke dalam kantong. Hasil itu saya kumpulkan dan saya bagi untuk membayar cicilan hutang di bank sebesar Rp 800an ribu/bulan selama 12 bulan. Dan lainnya, untuk membayar sewa lapak warung makan.

Di situ saya belajar dan paham, jika cara kerja system perbankan syariah yang dikenal dengan Nisbah (bagi hasil) dan juga akad Mudharabah. Di sinilah awal mula saya mengetahui, jika perbankan syariah menjadi solusi bagi kita pelaku usaha dalam meraih modal lunak dimana resiko dipikul bersama. Dalam artian kebangkrutan usaha akan ditengahi dengan cara pelelangan aset dan pembagian hasil lelang secara adil.

Transparasi tergambar dalam transaksi hutang-piutangnya. Analoginya Bank syariah sebagai penjual barang dan nasabah adalah pembelinya. Bank dan nasabah tadi kemudian bersepakat untuk menentukan keuntungan oleh bank sebagai penjual, di awal perjanjian.

Misalnya keuntungannya sekian,  maka kewajiban nasabah adalah membayar kepada bank, biaya pokok pembelian dan keuntungan yang disepakati tadi. Misal-kan saja kucuran modal yang kita perlukan  Rp 10 Juta, dan marjin keuntungannya 10%. Maka kewajiban yang harus dibayarkan oleh nasabah adalah Rp 1.1 juta flat perbulannnya.

Keuntungan plus lainnya, dan yang utama yakni perbankan syariah menjalankan prinsip perbankan islami dalam setiap transaksinya. Perbedaannya juga tidak terkait pada penggunaan dasar pelaksanaan hukumnya saja. Melainkan beberapa aspek lainnya, seperti keuntungan, orientasi, investasi hingga pengawasan  dewan pengawas syariah.

Semua aspek tadi dituntun untuk memanfaatkan dana nasabah bagi kegiatan pembangunan yang positif dan islami serta bermanfaat dalam konteks luas. Inilah yang memancing keberkahan di setiap rupiah yang kita hasilkan.

Secara matematis mirip dengan sistem bunga  bank konvensional? Namun prinsip akad transaksinya akan membedakannya. Sistemnya mudah dipahami saat itu, semudah mendapatkan modal usahanya.

Yuk Berhijrah Bersama MayBank Syariah Untuk Mandiri!

Jika berkeliling di daerah Urban, dengan mudahnya menemukan banyak Bank syariah, yang berlogo iB di billiboard depan gedung mewahnya plus loket ATM yang berjajar rapi. Semua menjadi pemanja bagi para nasabah untuk menikmati fasilitas bertransaksi yang sama mudahnya dengan bank Konvensional saat ini.

Sehingga niatan hijrah untuk  memulai kegiatan syar'i dalam aktivitas ekonomi telah dapat kita lakukan dengan keyakinan yang mantap, sesuai dengan ajaran agama Islam.

Keyakinan utamanya datang datang dari kajian ilmu  fiqih agama yang mengatur hal teknis sistem perbankan syariah oleh MUI. Dan merekomendasikannya kepada umat utuk dijalankan, dengan menyelesaikan perdebatan dalil halal dan haram-nya.


Produk Surya IB Maybank I maybank.co.id
Produk Surya IB Maybank I maybank.co.id

Memulai hijrah-berkah, dalam menjawab tantangan dan mengelola pengalaman yang kebetulan pahit saya rasakan dalam cerita diatas. Kita juga bisa memulai  dengan merasakan produk solusi usaha dan karya (Surya iB) MayBank dalam menggelindingkan usaha apapun yang ada di-angan.

Pembiyaan ini tentu akan mempermudah para nasabah untuk mweujudkan mimpi dalam berwiraswasta dari sklaa kecil terlebih dahulu dengan range permodalan Rp 250 juta hingga Rp 2 Milyar.

Akan terdapat skema akad murabahah untuk pembiayaan investasi, mudharobah dan musyarakah untuk pembiyaan modal kerja, dan skema ijarah MunthaiyahBi Tamlik (IMBT) untuk leasing.

Keunggulan dari pembiayaan Surya Syariah ini yakni memberikan proses yang mudah dan cepat dengan persyaratan fleksibel. Suku bunga nisbah, dan biaya administrasi yang terjangkau.

Syarat Penagajuan Pembiayaan Surya iB I maybank.co.id
Syarat Penagajuan Pembiayaan Surya iB I maybank.co.id

Produk jasa pembiayaan lainnya dengan kebutuhan yang berbeda juga kita bisa coba yakni Pembiayaan Koorporasi iB, Leasing iB, Solusi Usaha dan Karya (Surya iB), Rumah Syariah Multiguna iB, Rumah Syariah iB MMQ, Rumah Berkah , Rumah Syariah Ib.

MayBank syariah juga menawarkan produk  syariah baik simpanan dan juga pembiayaan. Produk jasa penyimpanan seperti Tabungan  Syariah Reguler iB, Tabungan Woman iB, Tabungan Syariah Superkid iB,  Tabungan Pro iB, Tabungan MAKSI ib, Tabungan My Paln iB, RPSIA iB,  Deposito iB, Simpel iB, Tabungan Supervalas iB, Tabungan Syariah Pijar  iB, Tabunganku iB, Giro Ib. Semua dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan keseharian atas dasar syari’i agama.

Jika ada anggapan jika semua Bank Syariah sama saja kok, dimana hampir menjual produk syariah yang sama. Setidaknya fakta prestasi MayBank Islamic Bhd yang menjadi 10 Bank Syariah terbesar di ASEAN akan memberikan pertimbangan lebih, atas keraguaan dalam kinerja terbaiknya untuk memanfaakan semua fasilitasnya.

10 besar bank syariah ASEAN I
10 besar bank syariah ASEAN I

Dan pengalaman itu tentu akan menebalkan keyakinan atas MayBank syariah selama ini untuk memutar dana nasabah bank syariah sesuai syar'i Islam dalam mencari keberkahan dalam setiap kegiatan transaksinya yang kita usahakan kelak bersamanya.


https://twitter.com/BundaSuharti