Mohon tunggu...
Angiola Harry
Angiola Harry Mohon Tunggu... Freelancer - Common Profile

Seorang jurnalis biasa

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Bawalah Kartu BPJS Kesehatan, Kemanapun Anda Pergi

30 Oktober 2017   11:25 Diperbarui: 30 Oktober 2017   14:16 5218
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berita kecelakaan motor dari polisi, membuat suasana segar yang cerah menjadi mendadak mencekam. Ya, petugas mengabarkan bahwa terjadi kecelakaan tunggal terhadap adik lelaki saya di Jl Raya Wijaya, Blok M, Jakarta Selatan. Waktu kejadian menurut catatan petugas polisi, adalah Oktober 2014 (saya lupa tangalnya) sekitar pukul 02.15 WIB. Memang saat itu adik saya sengaja pulang dinihari, karena harus lembur. Sebagai petugas IT, dia sering kebagian lembur hingga malam hari.

Motor yang dikendarainya terjatuh di area tikungan tajam yang berkerikil. Menurut polisi, sepertinya adik saya membawa motor dengan kecepatan sekitar 40-45 km/jam di tikungan tajam tersebut, sehingga slip dan terjatuh. Nahas, helm yang seharusnya dipakai di kepala adik saya, malah dicantol di badan motor sehingga kepala sebelah kiri bagian atas, terbentur sangat keras ke trotoar. Saat memegang kepalanya, ada sedikit darah dan luka gores.

Lalu ada dua orang sopir taksi yang ada di lokasi kejadian, melihat jatuhnya adik dan mereka langsung menolong. Awalnya pasca terbentur keras, adik saya masih sempat kembali terbangun dan ikut bersama para sopir itu, menenteng motornya ke pinggir trotoar.

Karena merasa pasti akan terjadi sesuatu yang tidak beres, adik saya langsung mengeluarkan kartu BPJS Kesehatan miliknya dan memberi nomor telfon genggam istrinya dan mengatakan kepada dua orang sopir tersebut, bila terjadi sesuatu pada dirinya, hubungi langsung sang istri.

Namun beberapa menit kemudian dari pembicaraan itu, dia merasa pandangannya seperti berputar lalu muntah-muntah, kemudian pingsan. Kebetulan di seberang lokasi kejadian, di arah sebaliknya, ada mobil sedan patroli polisi dari Polres Jaksel sedang lewat. Si sopir taksi langsung teriak dan melambaikan tangan, memberi isyarat ada korban kecelakaan. Singkat cerita, adik saya dibopong bersama ke dalam mobil patroli dan dibawa ke RS Marinir, Cilandak.

Kembali nahas, di RS Marinir, ternyata dia harus ditangani secara intensif di ruang UGD, yang sudah penuh oleh pasien BPJS Kesehatan lainnya. Sehingga dia terpaksa dibaringkan di barak penanganan darurat bersama pasien gawat yang lain. Namun dokter jaga menyarankan agar kami segera menghubungi RS yang bekerjasama dengan BPJS lainnya di Jakarta Timur, sesuai dengan area keanggotaan BPJS adik saya di KTP-nya. Itu pun sama, semuanya bilang ruang UGD penuh.

Karena nyawanya kejar-kejaran dengan waktu, maka keluarga kami sepakat untuk membawanya ke RS Mayapada, Lebak Bulus, yang masih tersedia ruang untuk menampung adik saya. Di sana, dia didaftar sebagai pasien umum. Singkat cerita, menurut Dr. Nia Yuliatri yang menangani adik saya, dia harus membuka batok kepala. Karena harus mengeluarkan pendarahan yang terkungkung di ruang selaput otaknya, sehingga menekan otak kirinya. Meski operasi berhasil, namun detik-detik operasi sangat menegangkan, karena ini adalah operasi pertama.

Dua Kali

Tengkorak batok kepala adik saya yang dilepas, harus dipasang kembali, dua minggu pasca operasi. Terjadilah operasi kedua, dan terlewati dengan lancar. Pihak rumah sakit menagih biaya setiap pekan, guna kelanjutan tindakan. Artinya bila ada pembayaran tersendat, maka adik saya tidak bisa ditindak lebih lanjut. Terpaksa harus pindah rumah sakit. Alhasil keluarga sepakat membayar biaya pengobatan hingga operasi kedua berhasil. Total biaya yang dibayar adalah Rp 240 juta.

Dua operasi di kepalanya itu masih harus berlanjut karena ada lagi permasalahan, yakni pemasangan selang khusus dari otak untuk membuang cairan otak yang terhambat oleh bekas pendarahan di selaput otak. Di sinilah pihak RS Mayapada membantu pencarian RS afiliasi BPJS Kesehatan yang bisa menangani kasus adik saya. Dan yang bisa menampung ternyata RS Marinir.

Namun sebelum pindah, pihak administrasi RS Mayapada memberikan bukti total tagihan dan diagnosa dokter. Mereka menyarankan agar bukti-bukti tersebut diberikan ke pihak BPJS Kesehatan. Karena menurutnya RS Mayapada dan BPJS Kesehatan memiliki kerjasama. Lalu beranjaklah kami ke Kantor BPJS Kesehatan di Pancoran, Pasar Minggu. Dan memang ternyata menurut pihak BPJS Kesehatan, ada kerjasama dengan RS Mayapada sehingga bukti reimbusement tersebut mereka terima.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun