Mohon tunggu...
Harry Ramdhani
Harry Ramdhani Mohon Tunggu... Immaterial Worker

Sedang berusaha agar namanya di "Kata Pengantar" Skripsi orang lain. | Think Globally Act Comedy | @_HarRam

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Cara Sederhana Mendefinisikan Cinta

24 April 2019   05:36 Diperbarui: 24 April 2019   15:05 0 9 2 Mohon Tunggu...
Cara Sederhana Mendefinisikan Cinta
ilustrasi bongkar muat barang, bukan bongkar pasang hubungan. (Dokumentasi Pribadi alias hunting-huji)

Bagaimana cinta dapat didefinisikan? Membuka kamus dan mengetahui artinya lalu memperlakukan itu pada orang yang kita sayang?

Tidak. Aku tidak ingin. Terakhir kali aku membuka kamus dan tahu arti kata tersebut, aku menyesal. Aku mencari arti kata "rumah" dan kamus menjelaskan jauh seperti yang aku bayangkan.

Bagaimana dengan mencari definisi cinta dari puisi? Tidak juga kukira. Sapardi terlalu jahat untuk ini. Masa cinta sejati, menurutnya, seperti kayu kepada api yang menjadikannya abu. Menjadi abu? Apa untungnya menjadi abu untuk sesuatu yang tak sempat terkatakan itu?

Atau, lewat karya-karya fiksi lainnya semisal cerpen dan novel? Ini lebih sulit. Begini... ceritanya aku sedang membaca novel "Kalaridha" yang dianggit Seno Gumira Ajidarma. Novel bagus. Novel yang mampu membuatku iri --mungkin penulis lainnya(?) juga-- karena Seno, sekali lagi, lewat novelnya, mampu membuka bagian satu dengan amat bagus. Sederhananya: ia membuat dan memikat pembacanya penasaran sejak awal cerita.

Saking asyiknya membaca, aku menemukan bagian di mana Seno berbicara tentang cinta. Cinta, tulisnya dalam novel tersebut, mesti mampu memiliki dan dimiliki.

Kemudian rasa kritisku muncul: bagaimana bisa memiliki cinta, sekaligus dimiliki cinta, kalau mendefinisikannya saja aku tidak bisa? Jika aku analogikan cinta sebagai manusia, bagaimana aku bisa memiliki, sekaligus dimiliki, kalau manusia lain tidak merasa aku miliki?

Sama. Sama halnya dengan membaca cerpen Seno lainnya seperti "Sepotong Senja untuk Pacarku". Jika benar seperti itu cara Seno mendefinisikan cinta, betapa malang nasib cinta. Dan itu justru menjadi anti-tesis atas apa yang Seno tulis tentang cinta itu mesti memiliki dan dimiliki. Sukab sama sekali tidak memiliki Alina --begitu juga sebaliknya.

Lantas dengan apalagi aku mencari definisi cinta?

Bertanya pada orang yang sedang duduk-duduk di taman? Mengajak bicara orang yang tidak kita kenal di kereta? Memperbarui status di media sosial sambil berharap ada yang menjawab? Menulis surat terbuka kepada Presiden?

Aku tidak bodoh. Memang kenapa kalau aku mencari tahu sendiri definisi cinta? Sesuatu yang melanggar hukum? Aku rasa tidak. Tidak ada yang aku rugikan dalam pencarian ini, bukan?

Jika satu waktu aku menyerah dan masih belum mendapat jawaban atas pencarianku ini, barangkali, cinta memang mitos terbaik yang manusia buat.

Lagi pula manusia masih bisa hidup tanpa cinta. Manusia masih tetap bisa saling sapa meski tidak ada cinta di sana. Bahkan bisa saling membenci walau saling kenal hanya berbeda pilihan. Itu wajar. Itu sudah terjadi, mungkin, ratusan tahun yang lalu peradaban manusia.

Akan tetapi aku sendiri tidak tahu apakah akan siap jika satu waktu aku menemukan definisi cinta yang kini aku cari dalam keadaan tidak sadar. Lewat begitu saja.

Dan aku akan terkumpul bersama manusia lainnya yang merayakan cinta tanpa apa-apa. Hampa. Lalu pada saat yang bersamaan aku bertemu denganmu. Harapku ketika itu terjadi kamu tidak menanyakan ini: masihkah kamu mencintaiku?

Tentu. Selalu. Apapun yang kamu tahu tentang apa itu cinta.