Mohon tunggu...
Harry Dethan
Harry Dethan Mohon Tunggu... Menulis untuk bercerita.

Menulis untuk bercerita. Email: harrydethan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kenangan di Antara Ruang dan Waktu

12 Februari 2019   23:23 Diperbarui: 12 Februari 2019   23:23 0 7 1 Mohon Tunggu...
Cerpen | Kenangan di Antara Ruang dan Waktu
Ilustrasi: concordmonitor.com


Aku dan ketiga sahabatku akhirnya bisa kembali ke tempat ini. Tempat yang penuh dengan banyak kenangan. Sambil beristirahat sejenak, mataku tak bisa berhenti menatap ke puncak gunung yang menorehkan banyak senyum yang selalu membekas di hatiku sampai saat ini.

Tak terasa, sepuluh tahun telah berlalu ketika aku dan kesembilan sahabatku bisa berada di atas sana. Canda, tawa, cerita, bahkan keluhan saat proses mendaki bersama, masih selalu terngiang di kepala.

Yah, ini bukan hanya tentang susahnya medan yang kami lalui untuk bisa sampai di atas sana. Akan tetapi, ada hal yang lebih penting dari itu. Hal tersebut adalah 'proses untuk setia sampai akhir'.

Selayaknya ketika kami memutuskan untuk mendaki gunung ini bersama, begitu halnya ketika kami, ke dua puluh delapan sahabat, memutuskan untuk menerima tugas besar sebagai para 'pekerja relawan kemanusiaan' selama dua tahun, pada waktu yang lalu. Sayangnya, ke delapan belas teman lain tidak bisa bergabung, ketika kami bersepuluh mendaki gunung. Hal tersebut dikarenakan berbagai kesibukan.

Sebelum memutuskan untuk menerima tugas sebagai pekerja relawan kemanusiaan tersebut, sebagian besar dari kami memiliki rasa keraguan. Sangat banyak keraguan dan ketakutan yang menghasut kami untuk tidak berani maju. Hal-hal seperti rasa khawatir akan masa depan kami, rasa takut akan waktu yang akan terbuang, dan banyak ketakutan lain seperti menghambat semangat yang waktu itu muncul.

Namun, semua rasa ragu dan takut yang ada di hati lansung hilang sejenak, ketika Pembimbing yang selalu kami panggil dengan sebutan 'Kapten', mengatakan bahwa semua yang kami lakukan tidak akan sia-sia.

Bagi kami, Kapten adalah orang selalu memberikan arahan terbaik bagi kami dalam bekerja pada waktu dulu, bahkan sampai sekarang ketika kami menghubungiNya. Setiap kalimat yang Dia ucapkan bukanlah sekedar kata-kata, tetapi hal tersebut menjadi pegangan kami dalam melaksanakan pekerjaan yang tidak mudah tersebut.

Filosofi tersebutlah yang membuat kami bersepuluh, waktu itu memutuskan untuk mendaki gunung ini. Antara pekerjaan kami dan proses pendakian, nampaknya memang merupakan kedua hal yang saling berkaitan.

Apakah sahabatku yang lain masih mengingatnya? Entahlah, namun sungguh, kenangan waktu itu memang sangat berkesan bagiku.

Sebenarnya, hari ini aku dan semua sahabat yang dulu bekerja bersama, ingin datang ke sini bersama-sama. Akan tetapi, banyak kesibukan menjadi penyebab hanya kami berempat saja yang hari ini bisa menyempatkan waktu untuk datang ke tempat ini.

Melihat ke atas gunung ini membuatku tidak hanya kembali mengingat kejadian-kejadian lucu saja yang terjadi saat kami mendaki bersama. Namun kenangan selama dua tahun bekerja bersama mereka sebagai rekan dan sahabat, membuatku senyum dan tertawa sendiri seperti orang yang sedang kembali kasmaran.

Nampaknya kaetiga sahabatku juga mengalami hal yang sama ketika ku lihat wajah mereka. Kami berempat sedang menatap ke atas gunung dengan pikiran yang dipenuhi oleh berbagai kenangan yang kembali muncul di ingatan.

Melihat wajah mereka yang tak hentinya tersenyum, mebuatku dapat mengabadikan foto mereka, tanpa mereka sadari. Waktu telah menunjukan pukul dua jelang sore. Aku lalu bergegas membangunkan lamunan ketiga sahabatku ini.

"Yongki, Intan, Sani. Jadi mendaki kan? Ayuk kita lansung jalan!" suaraku mengingatkan para sahabatku.

"Oh ya Keenan. Ayuk kita jalan." Jawab Yongki.

"Yah, sayang juga yah, sahabat kita yang lain tidak bisa datang." sambung Sani menyesalkan ketidakhadiran sahabat kami yang lain.

"Ia, tidak apa-apa. Namanya juga sekarang kita semua sudah sibuk. Untungnya hari ini kita berempat masih sempatin ke sini kan? Ayuk kita naik!" sahut Intan.

Hari ini, tanggal sepuluh Februari dua ribu dua puluh sembilan, kami memutuskan untuk kembali mengingat dan merenungi setiap kenangan dan perjuangan kami dalam proses pendakian ini. Berbagai jalan terjal penuh kenangan kami lalui bersama sambil tersenyum. Kadang, kami tertawa terbahak-bahak karena mengingat setiap kejadian konyol yang muncul diingatan kami. Proses pendakian yang masih saja terasa sulit, tapi dapat kami lalui bersama-sama.

Sesampainya di atas, kami berempat duduk bersama, sambil kembali bercerita tentang masa-masa pelayanan dan pekerjaan kami dulu. Tak hanya itu, kamipun saling berbagi cerita mengenai pekerjaan, keluarga, dan setiap hal yang sedang kami perjuangkan dalam hidup kami saat ini.

Sekarang, kami semua telah sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas masing-masing, bahkan telah terpisah oleh ruang dan waktu. Namun ikatan komitmen yang kami buat dua belas tahun lalu sebagai sahabat, membuat setiap doa-doa kami selalu terhubung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2