Harits Masduqi
Harits Masduqi Writer & Teacher

Harits Masduqi is an Indonesian contemporary writer and teacher. He was educated at universities in Malang, Melbourne, and Sydney. He is currently working on his first novel.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Kerukunan Antar Umat Beragama ala Lima Sekawan

5 Februari 2018   13:31 Diperbarui: 6 Mei 2018   19:10 488 0 0

Syahdan, lima sekawan sedang bereuni dan berdikusi panjang lebar tentang kerukunan antar umat beragama di sebuah warung kopi di Jalan Lembang, Malang.

Kata teman pertama, "Kerukunan antar umat beragama itu bermakna hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi,  kesetaraan, dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara."

Lanjut kawan kedua, "Pemerintah Indonesia dan seluruh lapisan masyarakat seharusnya bertanggung jawab dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia."

Sahut rekan ketiga, "Arah kebijakan Pemerintah Indonesia dalam pembangunan nasional di bidang agama idealnya meliputi peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman agama, kehidupan beragama, serta peningkatan kerukunan intern dan antar umat beragama. Peranan pemerintah dalam menjaga kerukunan antar umat beragama itu penting karena beriringan dengan kuatnya pengaruh globalisasi, perubahan sosial budaya, dan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang di masyarakat."

Sanggah sahabat keempat (perantau musiman di pinggiran ibu kota), "Emangnya gampang mewujudkan kerukunan antar umat beragama di Indonesia? Hampir tiap hari pemerintah berjibaku menghadapi tantangan organisasi-organisasi militan yang gigih 'menjaga kemurnian ajaran agama' dan budaya berbenturan dengan organisasi-organisasi yang menjunjung tinggi pluralisme dan kebebasan dalam kehidupan beragama (gue juga nggak mau sebut nama). Benturannya juga bukan hanya di dunia maya, Bro! Kalau hanya tengkar adu jempol di Facebook, Twitter, atau Instagram mah gampang, biarin aja pasti capai sendiri akhirnya. Yang repot kalau mereka pada ngusungin masanya masing-masing, menuhin Monas sama Bundaran HI, repot deh! Kasihan Bapak/Ibu polisi dan tentara yang masih muda-muda itu, sering dijadikan tameng di depan untuk menghadapi masa yang buju buneng banyaknya itu!"

Pendapat saya (dosen manis yang baru datang dari Paris), "Untuk mendinginkan suasana panas dua kubu yang berlawanan itu, pemerintah harusnya lebih intensif bekerjasama dengan organisasi-organisasi 'penengah' seperti  Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama. Apa yang dikatakan Pak Tito kemarin tidak sepenuhnya salah, sedikit banyak ada benarnya. Sayang seribu sayang, banyak orang yang terlalu jauh menafsirkan makna. Gagal fokus dalam menganalisa wacana..."

Belum selesai saya berbicara, tiba-tiba putri sang pemilik warung datang sambil membawa nampan berisi hidangan ayam lalapan dan lima gelas kopi tubruk plus 'white coffee'. Gadis cantik yang sedang ranum-ranumnya itu lembut berkata, "Silakan dinikmati kopi dan lalapannya, Bapak-Bapak. Monggo."

... dan tak lama kemudian lima sekawan, mantan 'kampungers' Jalan Lembang, Kampung Singo Edan Malang itu tenggelam dalam kenikmatan sepiring ayam lalapan dan segelas kopi yang semerbak mewangi. Tak ada yang bersuara, apalagi bicara tentang kerukunan umat beragama di Indonesia. Semua asyik menandaskan hidangan di atas meja.


Warung Kopi dan Lalapan Jalan Lembang Malang,

@HaritsMasduqi

04/02/2018