Mohon tunggu...
Abdul Haris
Abdul Haris Mohon Tunggu... Bankir - Menulis Untuk Berbagi

Berbagi pemikiran lewat tulisan. Bertukar pengetahuan dengan tulisan. Mengurangi lisan menambah tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Indonesia Diduga Terkena Dampak Skandal Facebook - Cambridge Analytica

14 April 2018   01:28 Diperbarui: 14 April 2018   01:58 1365
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mengejutkan, Indonesia ternyata menduduki nomor 3 sebagai negara yang diduga menjadi korban penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica melalui Facebook.  

Data yang baru-baru ini dirilis Facebook dan ditampilkan oleh CNN (13/4) menunjukkan Cambridge Analytica kemungkinan telah mengakses data milik 1,10 juta pengguna Facebook Indonesia.

Angka itu berbeda tipis dengan Filipina (1,18 juta) yang menduduki peringkat kedua dan Inggris (1,08 juta) di peringkat keempat. Amerika Serikat masih menduduki peringkat tertinggi yaitu 70,63 juta pengguna. Total perkiraan data yang diakses secara tidak sah sebanyak 87 juta.

Menteri Komunikasi dan Informatika sempat mengecam untuk menutup Facebook jika penyalahgunaan data itu terbukti. Investigasi kepada Facebook akan segera dilakukan.

Sebagaimana telah banyak diberitakan, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook, baru saja menyelesaikan testimoninya di hadapan parlemen Amerika. Pendiri Facebook itu dipanggil untuk menjelaskan terjadinya penyalahgunaan data jutaan pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica. Perusahan tersebut bergerak di bidang konsultan politik dan bekerja untuk kampanye Donald Trump.

Sedikit mengingat, awal terjadinya penyalahgunaan data yaitu pada tahun 2014, sebanyak 270 ribu pengguna Facebook mengakses kuis dari aplikasi yang bernama This is Your Digital Life. Tanpa disadari, mereka yang berpartisipasi dalam kuis tersebut membagikan data pribadinya kepada Cambridge Analytica.

Parahnya, data yang dibagi itu juga termasuk sejumlah teman di Facebook. Akibatnya, Cambridge Analytica mampu pula mengakses data mereka yang tidak ikut dalam kuis. Pengumpulan data secara tidak sah itu baru terungkap bulan Maret 2018.

Hasil temu Zuckerberg dengan parlemen patut disayangkan karena belum memberikan kepastian penyelesaian. Pernyataan bias berulangkali diutarakan Zuckerberg selama proses hearing. Ditambahkan lagi, banyak anggota parlemen yang ternyata tidak memahami teknologi sehingga sulit menggali informasi dari CEO Facebook tersebut.

Mahalnya Data Privasi        

Ironis memang, kasus penyalahgunaan data jutaan orang ini. Apalagi muncul dugaan pengguna media social dari Indonesia juga menjadi korbannya.

Belakangan ini, data menjadi sesuatu yang mempunyai nilai jual sangat tinggi. Sebut saja kasus pencurian data Equifax dan Yahoo mengakibatkan kedua perusahaan raksasa tersebut mengalami kerugian jutaan dolar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun