Mohon tunggu...
Haris Fauzi
Haris Fauzi Mohon Tunggu... Pembelajar

Penyuka Kajian Keislaman dan Humaniora || Penikmat anime One Piece.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Utopis Muslim dalam Bayang Ketertinggalan Riset

8 Juli 2019   21:19 Diperbarui: 8 Juli 2019   21:36 130 0 1 Mohon Tunggu...
Utopis Muslim dalam Bayang Ketertinggalan Riset
thenews.com

Di dunia yang terus berkembang, manusia telah menghasilkan berbagai penemuan baru yang membantu mempermudah manusia. Namun ada hal yang mengganjal penulis dan patut kita pertanyakan bersama.

Mengapa dalam satu abad terakhir, begitu sedikit ilmuwan muslim yang mendorong menemukan inovasi baru? Apakah karena keengganan mereka untuk melakukan riset melelahkan dan menguras biaya? Lantas langkah apa yang perlu ditempuh otoritas agama untuk mendorong membangkitkan semangat riset?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut setidaknya kita harus memahami akar permasalahan yang menjakiti manusia terkhusus kelompok Muslim.  Kelompok Muslim hari ini terjebak dalam euforia kecemerlangan masa lalu dengan segala penemuan yang telah didapatkan.

Sebagian dari Muslim meyakini bahwa Baitul Hikmah yang telah didirikan oleh kepemimpinan Muslim dirasa sudah mencukupi. Mereka akan mengunggulkan nama-nama terkenal semisal Ibn Sina, Al-Khwarizm, Ibn Rusyd, Al-Kindi dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis pandangan Islam.

Hasil kejayaan Islam tempo lalu memang berperan besar dalam membangun pilar ilmu pengetahuan modern. Hobson dalam karyanya tentang akar-akar Timur dalam peradaban Barat Modern mengemukakan bahwa tanpa melalui proses penerjemahan terhadap naskah ilmu pengetahuan Islam klasik, Barat tidak akan meraih keberhasilan dalam riset ilmu pengetahuan.

Selain sebab keterkukungan diri  dengan kejayaan Islam klasik. Kelompok Muslim masih terasing dengan budaya riset yang progresif dan berkemajuan yang selaras dengan semangat peradaban Islam.

Budaya riset telah diambil oleh kelompok ilmuwan Barat. Hal ini tentu mendorong diri untuk terus melakukan refleksi diri mengapa Islam mundur untuk menghadirkan semangat kemajuan dalam diri Islam itu sendiri. Kelompok Muslim seakan-akan menjauhkan diri dalam proses penemuan ilmiah yang dulu pernah hidup dalam tubuh umat Islam. 

Keterasingan diri dalam tubuh Islam disebabkan oleh faktor atruktural yang mengisolasi diri. Kolonialisme dan ketergantungan diri dengan pihak lain menjadi faktor yang kian memperparah keadaan diri. Mungkin saja umat Islam terpinggirkan dari tradisi riset keilmuan mereka sendiri karena ketidakmampuan diri untuk memahami sejarah dan poin-poin pembentuknya.

Begitu juga mental menjadi pesuruh kolonialisme amat mengakar dalam relasi sosial kemasyarakatan. Mengembalikan tradisi ilmu pengetahuan dan menjadikannya untuk memotivasi perkembangan sains dan teknologi saat ini menjadi langkah yang harus ditempuh.

Umat Islam yang pernah menerima penghargaan nobel terbilang masih minim, salah satunya yakni Abdussalam dari Pakistan. Budaya pengembangan ilmu pengetahuan berbasisi riset masih terbilang minim termasuk di dalamnya negara Indonesia. Kelompok Muslim merupakan penduduk mayoritas di negara ini, baik dan buruknya amat tergantung dengan langkah kerja kelompok Islam. Semangat penelitian yang gigih akan mampu mengantarkan kemajuan ilmu, sains dan teknologi.

Kita bisa mencotohkan penelitian yang mumpuni dalam ranah ilmu sosial kemasyarakatan. Proses pengamtan terhadap perilaku masyarakat, kemudian menemukan teori-teori baru melalui pengamatan lapangan yang telah dilakukan. Berbeda dengan ilmu sosial, pengembangan sains dan teknologi melakukan penyelidikan atau penelitian melalui laboratorium.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN