Mohon tunggu...
Hari Dewanto
Hari Dewanto Mohon Tunggu...

I am a profesional trainer and happiness tranceformer (happiness provocator) who willing to make Indonesia happier

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Kutemukan Lailatul Qadar di Way Nipah

15 Juni 2018   16:32 Diperbarui: 15 Juni 2018   16:41 0 1 1 Mohon Tunggu...

Setelah menempuh perjalanan panjang selama nyaris 24 jam, akhirnya sampai juga kau pada desa tujuanmu, Way Nipah. Meski temaram sinar jingga sudah mulai memenuhi langit barat, namun kau masih mampu menikmati pemandangan yang tak jauh berubah dibanding beberapa puluh tahun lalu ketika terakhir kau berkunjung ke desa ini. 

Pohon-pohon kelapa bebaris rapi di sepanjang pinggir aspal seolah menjadi pembatas wilayah darat dan lautan. Dedaunannya bergoyang ritmis mengikuti hembusan angin malam, ibarat penari perut menggoda para penontonnya. Beragam kapal kecil nelayan terparkir tak beraturan di sungai kecil muara. Rumah-rumah penduduk beratapkan seng juga dibangun tanpa aturan, berserakan sepanjang pantai.

Bus engkel yang kau tumpangi mesti berhenti di ujung jalan itu, karena jalanan beraspal yang bisa dilalui mobil memang benar-benar berakhir di tempat tersebut. Jalanan selanjutnya menuju daerah sekitar hanya berupa jalan tanah berpasir yang cuma cukup untuk kendaraan beroda dua.

Agak aneh memang menyaksikan ujung dari sebuah jalan. Kau merasa seolah sedang berada di ujung dunia. Secara ironis situasi ini terasa menyindir dirimu. Bisikan halus namun tajam berujar di antara dua telingamu, "Habislah kau. Inilah akhir dari perjalananmu!"

Tergeragap, kaget pada ilusimu sendiri menyerapmu pada kisah panjang beberapa tahun belakangan ini.

Dimulai dari pengembaraanmu ke ibu kota yang menghantarkan pada sebuah kedudukan strategis di badan pemilihan umum nasional. Setelah magang selama beberapa bulan, Dewi Fortuna berpihak kepada dirimu, karena entah karena satu alasan apa, bakal calon ketua umumnya tetiba saja dirundung petaka dan masuk penjara. Maka selaku sekretaris jendral, dirimulah yang kemudian berpeluang menduduki posisi ketua tersebut.

Hal ini nyaris sama dengan peristiwa beberapa waktu silam ketika dirimu terpilih menjadi ketua umum sebuah organisasi mahasiswa, padahal kau sadar bahwa dirimu belum layak karena belum mengikuti LK IV (Latihan Kepemimpinan). Dewi Fortuna jualah yang memaksa nasibmu untuk berkuasa waktu itu.

Dan kemudian Dewi Fortuna kembali memainkan peran ketika dirimu terpilih secara aklamasi untuk memimpin sebuah partai politik dimana dewan pelindungnya tengah menjadi kepala negara.

Wow, sebuah pencapaian karir yang luar biasa pesat. Ibarat meteor yang melesat ke bumi tanpa mampu dibendung atmosfer lagi.

Dan masih tergambar jelas di pelupuk matamu, bahwa semua pencapaian tadi telah mengorbankan nuranimu yang paling dalam. Menggerus lantak semua petatah petitih orangtua ketika dirimu masih kecil dulu. Haq atau bathil sudah bukan pedulimu lagi, yang penting tujuan dunia tercapai.  

Kau tahu alkohol itu haram, namun kalau proses meluluskan sebuah tujuan membutuhkan alkohol, maka semua alkohol itu menjadi harum saja adanya. Kau sadar bahwa membunuh itu sangat keji, namun ketika ada lawan politik yang selalu menggelitik, tanpa segan kau akan melumatnya menjadi sebuah titik.

Tanpa mampu kau kendalikan lagi, semua jenis tipu daya, telikung menelikung kawan serta lawan telah kau praktekkan. Tak kau sadari bahwa bumi ini terus berputar. Bahwa hukum tebar-tuai tetaplah berpendar. Dan kini karmapun tak mampu kau elak lagi.

Usai adzan maghrib sore kemarin, kau mengendus kabar bahwasanya kasus mega korupsi pembangunan wahana olah raga di bilangan Jawa Barat telah terbongkar. KPK telah menangkap beberapa pejabat berwenang, termasuk bendahara partai yang kau pimpin. Kau sadar, sangat sadar bahkan, jika sebentar lagi adalah giliranmu untuk digelandang menjadi pesakitan kasus mega korupsi ini.

Maka kau bergegas, hanya membawa satu tas ransel saja yang berisi beberapa dokumen penting serta beberapa lembar pakaian, menuju terminal antar kota. Kau yakin semua bandara serta pusat transportasi utama pasti telah berpencar petugas gabungan yang akan dengan sigap mengamankanmu, maka melarikan diri dengan bergerilya adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.

Kau naik bus menuju terminal penyeberangan Merak, untuk kemudian menyeberang naik kapal RORO, bejubelan dengan ribuan orang yang mulai menyemut pulang kampung menjelang lebaran. Dari pelabuhan Bakauheni, kau lanjut menumpang bus tigaperempat menuju terminal Raja Basa, kemudian berganti dengan bus engkel, dan sampailah kau di sini.

***

Kau mengenal daerah ini ketika menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) beberapa puluh tahun yang lalu. Terletak sekitar 150 km arah barat laut Bandar Lampung, Way Nipah merupakan bagian kecamatan Pematang Sawa, Kabupaten Tanggamus.  Awalnya kau sempat heran kenapa kecamatan itu bernama pematang sawa, karena kenyataannya hampir tidak kau jumpai sawah di sana. Mungkin leluhur daerah ini dahulunya mendamba bentangan sawah, sehingga melakukan afirmasi dengan nama kecamatan tadi.

Way Nipah merupakan desa terakhir yang bisa ditempuh menggunakan mobil. Desa-desa lain di balik sebuah bukit yang tinggi itu hanya bisa dilalui oleh sepeda motor. Setelah melewati beberapa tanjakan maut dan jurang yang terjal  terdapat perempatan dari jalan tanah merah untuk menuju ke Tampang, Karang Brak dan Teluk Brak jika mengambil jalan lurus, sedangkan jika berbelok ke kanan, maka kita akan sampai ke desa  Pesanguan dan Way Asahan.

Hanya berselang 1 kilometer dari perempatan tersebut terdapat daerah hutan lindung  TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN, yang konon kabarnya merupakan sarang serta kuburan rahasia gajah Lampung. Dengan sulitnya rute menuju ke wilayah ini, maka ini adalah sebuah tempat bersembunyi yang ideal bagimu.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3